Subak Abian Bwana Manik Sari Desa Belatungan Pupuan

image

Subak Abian Bwana Manik Sari berada di Desa Adat Belatungan atau secara Kedinasan berada di wilayah Desa Belatungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan Bali. Wilayah Desa Adat Belatungan terdiri dari empat banjar/dusun. Sedangkan secara kedinasan Desa Belatungan terdiri dari enam banjar yaitu; Munduk Ngandang, Dajan Ceking, Delod Ceking, Munduk Gawang, Yeh Sibuh dan Antap Gawang. Dusun Yeh Sibuh dan Dusun Antap Gawang merupakan Desa Adat tersendiri dan memiliki organisasi Subak Abian tersendiri pula.

selengkapnya...

Thu, 21 Jul 2016 @00:11

Palemahan Jagat, Jangan Duduk di Bantal, Nanti Bisul !

image

Mengupas Mitos Jangan Duduk di Bantal, Nanti Bisul !

selengkapnya...

Fri, 8 Jul 2016 @19:36

Minum Tuak di Cengapit, Menyapa Jiwa Mengasah Pengetahuan

image

Di Bali, Pohon ''Jaka'' atau pohon ''Aren'' memiliki manfaat budaya yang banyak dan turun temurun. Daun Jaka yang tua disebut ''Ron'' dan yang masih muda disebut ''Ambu''.

selengkapnya...

Wed, 6 Jul 2016 @19:53

''Due''

image

Di Bali, lumrah bila ditempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya ''Due'', yaitu; sebutan yang cecara budaya dan keyakinan adalah bentuk penghormatan. ''Due'', dalam kamus Bahasa Bali-Indonesia berarti ''Milik''. Dengan sebutan lain, keyakinan seperti ini juga ada diberbagai komunitas nusantara/dunia.

selengkapnya...

Thu, 11 Feb 2016 @08:18

Jiwa Tak Berjiwa

image

Kini mereka dalam persimpangan Tak tahu, dimana, dari mana, mau kemana Tak sadar kalau tak sadar Tak tahu kalau tak tahu Tak tahu sehingga tak sadar

selengkapnya...

Sun, 31 Jan 2016 @01:32

The Story of Coffee from Tabanan Bali -''Wedang Kopi''

image

Minum kopi sudah menjadi kebiasaan banyak orang, tapi banyak pula yang belum paham tentang Kopi, khususnya jenis kopi Rubusta. Saya tertarik merenunginya bersama komunitas petani kopi di desa yang ada di kawasan lingkar Pura Luhur Pucak Batu Gaing di Tabanan Kauhan, Pupuan Bali.

selengkapnya...

Sat, 2 Jan 2016 @17:22

Eling Hidup di Tanah Gempa, Peringatan 200 Tahun Gejer Bali

image

Suasana Puri Kanginan Singaraja nampak hening. Bangunan-bangunan tua seperti tersenyum menyambut hendak bicara. Di sisi kiri pasaban utama, nampak photo-photo tua terpajang didinding penuh wibawa. Tak lama satu persatu orang datang lalu duduk di bale pasaban. Suasana hati pun mulai terbawa pada peristiwa pilu 200 tahun silam. Sore minggu 22 Nop 2015, diskusi dengan tema ''200 tahun Gejer Bali''di Puri Kanginan Singaraja seperti pengeling-eling, bahwa gempabumi sangat berpotensi merubah peta sejarah, menghentikan banyak harapan dan cita-cita, merubah peta kekuasaan, mata pencaharian penduduk, bahkan merubah tatanan budaya di Bali utara-Singaraja khususnya dan Bali pada umumnya.

selengkapnya...

Mon, 23 Nov 2015 @22:20

JALAN USAK DAN USAK ULIAN JALAN

image

Kemarin sore Pekak Renes main ke rumah. Tumben lumayan rapi, bercelana panjang berkemeja putih, mirib ala Jokowi. Sambil ngopi Ia bercerita kangin kauh, mulai dari krisis ekonomi sampai urusan ''jalan benyah'' alias jalan usak. Menurut Pekak Renes, ada dua hal yang harus kita sikapi bersama yaitu ''Jalan usak''dan ''Usak ulian jalan'', keduanya sama-sama serius,''terang Pekak Renes.

selengkapnya...

Mon, 5 Oct 2015 @23:43

SECANGKIR KOPI LEMBAH WATUKARU

image

Disamping beras, komuditas yang belakangan mulai populer di Tabanan adalah kopi. Dua hari ini 24 s.d 25 Sept 2015, saya mencoba menyusuri beberapa desa penghasil kopi di Tabanan. Konon Kopi asal Tabanan memiliki cita rasa yang khas dan lumayan bersaing di pasar dunia.

Pertama kali kopi di bawa ke Indonesia oleh belanda sekitar tahun 1696, yaitu jenis kopi Arabika. Kopi jenis Arabika kemudian ditanam di bebeberapa wilayah di Pulau Jawa dan selajutnya disebar ke beberapa pulau lain di Indonesia. Karena kopi Arabika terserang penyakit kemudian Belanda menganti dengan kopi jenis baru, yaitu kopi Robusta, (AEKI,2007).

Di wilayah tabanan banyak di tanam kopi jenis Robusta yang diperkirakan di tanamam secara besar-besaran setelah pemerintahan kolonila Belanda berkuasa pada tahun 1906. Kopi Robusta dapat tumbuh baik di lahan dengan ketinggian lebih dari 400 meter di atas permukaan laut seperti di wilayah Penebel, Pupuan dan Selemadeg. Sedangkan di Bali tanamam kopi diperkirakan sudah ditanam oleh belanda sekitar abad ke-19.  

Dari data literatur dapat disimpulkan bahwa kopi sebagai komuditas dagang di Tabanan tidak lepas dari jejak dagang pemerintah kolonial Belanda di jamannya. Sejarah kopi tabanan juga terekam dari sejarah perkembangan beberapa desa di “tabanan kauhan” seperti desa-desa yang ada di wilayah Selemadeg Barat dan Pupuan.

Pada awal abad ke-20 di kedua wilayah itu Belanda banyak membangun akses jalan baru untuk membuka lahan, menanam dan mengontrol produksi kopi rakyat. Pada kurun waktu 1925-1935, pemeritah kolonial Belanda banyak memperlebar dan memperbaiki jalan lama untuk memudahkan akses transportasi truk atau mobil dan menghubungkan wilayah tabanan menuju wilayah denbukit -Buleleng.

“Saya meyakini pelabuhan buleleleng adalah salah satu pelabuhan international pertama di bali untuk perdagangan kopi”.

Menyusuri jejak sejarah kopi di tabanan ternyata tidak hanya memberi pengetahuan tentang komuditas kopi. Sejarah kopi juga banyak memberi informasi tentang spirit dan  aliansi budaya subak abian lintas desa di tabanan. Hampir semua desa penghasil kopi yang ada di wilayah Kecamatan Penebel, Selemadeg dan Pupuan berada dalam satu keyakinan dan penghormatan tatanan terhadap keberadaan dan kesucian Gunung Watukaru.

Dalam banyak upacara, bangunan suci dan tradisi turun temurun masyarakat petani-subak abian di tabanan, meyakini Pura Sad Khayangan Luhur Watukaru sebagai lingga cala mendudukui arah barat linggih Ida Bathara Mahadewa, berada di wilayah Gunung Watukaru. “Gunung Watukaru merupakan simbul kesuburan air, tumbuhan dan udara (Tri Chanda)”.

Seiring dimulainya geliat pariwisata bali sejak tahun 1920 hingga sekarang, maka kini komuditas kopi pun mulai menjadi komuditas pedukung pariwisata yang penting. Geliat pariwisata Tabanan kini tidak bisa lepas dari minuman kopi seperti di obyek wisata Jatiluwih, Tanah Lot dan sebagainya.

Patut disyukuri, “Kopi Tabanan” kini hadir sebagai simbul identitas wilayah yang mulai diperhitungkan. Saat saya mendiskusikan hal ini dengan seorang penjual dan praktisi minuman kopi di Tanah Lot (jumat 25 Sept 2015), terbersit kesimpulan dalam hati bahwa; Kopi Tabanan sesungguhnya adalah “Kopi Lembah Watukaru”-branding kopi jagat Tabanan (*).



Oleh : Made Nurbawa (Jumat, 25/9/2015)










Sat, 26 Sep 2015 @00:32

Profil dan Sejarah Desa Belatungan Tabanan

image

Secara administratif Desa Belatungan berada di wilayak Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan Provinsi Bali. Desa Belatungan terletak kurang lebih 20 Km ke arah barat-selatan dari Kota Kecamatan Pupuan atau waktu tempuh dengan kendaraan lebih kurang 35 menit. Untuk menuju Desa Belatungan bisa juga ditempuh dari arah selatan, tepatnya melalui Desa Surabrata (yang berada di Jalur Denpasar-Gilimanuk) ke utara kurang lebih 17 Km, seharah menuju jalur utama Pura Luhur Pucak Bukit Rangda. Sejarah Desa Belatungan, menurut beberapa sumber dan tokoh-tokoh masyarakat yang bisa dipercaya awal mula Desa Belatungan berupa hutan belantara. Sekitar tahun 1917 di Kabupaten Tabanan terjadi kemarau panjang sehingga banyak penduduk kelaparan. Banyak penduduk Tabanan saat itu mencari sumber kehidupan baru salah satunya Desa Samsam (Kec. Kerambitan Tabanan).

selengkapnya...

Sun, 28 Jun 2015 @22:31

Resensi Buku: Sastra Sinetron dalam Idiologi Budaya Populer

image

RESENSI BUKU

 

IDENTITAS BUKU

Judul Buku      : Sastra Sinetron Dalam Idiologi Budaya Populer

Penulis             : Dr. I Nyoman Suaka, M.Si

Editor              : Jiwa Atmaja

Penerbit           : Udayana University Press

Cetakan           : I. 2013

Tebal               : x + 274 halaman, 15 x23 cm

ISBN               : 978-602-7776-31-9

 

ULASAN BUKU

PENULIS

I Nyoman Suaka, lahir di Desa Tegal Mengkeb, Kecamatan Selemadeg Timur Tabanan Bali, 31 Desember 1962. Alumnus Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Udayana tahun 1986 ini, setelah tamat diangkat menjadi dosen Kopertis Wilayah VIII Denpasar dipekerjakan di IKIP Saraswati Tabanan. Menyelesaikan S2 dan S3 pada Pascasarjana Kajian Budaya, Universitas Udayana. Pada tahun 2010 diangkat menjadi Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni sampai sekarang.

 

PENDAHULUAN

Buku “Sastra Sinetron dalam Idiologi Budaya Populer” oleh penulis disarikan dari desertasi untuk memperoleh gelar doktor pada program Pascasarjana (S3) Kajian Budaya Universitas Udayana Denpasar. Buku ini mengulas “Representasi Budaya Populer dalam Sinema Elektronika (Sinetron) Sitti Nurbaya pada Tayangan TVRI dan Trans TV”. Buku ini menarik dan penting untuk dibaca khususnya bagi pekerja media dan akademisi. Buku ini mewakili dan melanjutkan fungsi media khususnya televisi dalam hal fungsi pendidikan, informasi, hiburan, kontrol sosial dan fungsi ekonomi maupun budaya.

Ditengah keluhan sebagian orang bahwa siaran televisi (sinetron) banyak yang kurang sehat dan mendidik karena isi dan penggabaran cerita sering kali berbeda dengan realitas budaya masyarakat di Indonesia. Melalui buku ini, menulis justru tampil sebagai sosok pemirsa televisi yang kritis, cerdas, bijak dan bertanggungjawab terhadap isi siaran. Siaran televisi (sinetron) tidak selalu ditempatkan pada sisi negatif, tapi sebaliknya bisa menjadi obyek kajian budaya yang menantang dan mencerdaskan.

Melalui buku ini “budaya populer” di layar kaca tidak lagi terabaikan. Sebaliknya dapat menjadi obyek penelitian akademis yang sangat penting.

 

SINOPSIS

Pada era perkembangan teknologi informasi yang semakin maju,   karya sastra disebarluaskan melalui media massa. Karya sastra ditampilkan di koran, majalah dan media elektronik, seperti; radio, film, televisi dan internet. Hubungan antara karya sastra dengan media penyiaran (televisi) misalnya penting untuk dikaji karena media televisi sangat besar pengaruhnya terhadap keberadan karya sastra.

Dalam bab awal buku ini banyak diulas bagaimana adaptasi cerita Novel Sitti Nurbaya ke film dan sinetron. Bab berikutnya banyak diulas soal struktur teks audiovisual sinetron Sitti Nurbaya pada tayangan TVRI (1991) dan Trans TV (2005). Hal ini disebabkan bahwa sinetron Sitti Nurbaya tayangan TVRI dan Trans TV sama-sama merupakan teks audio visual yang diadaptasi dari novel Sitti Nurbaya karya pengarah Marah Rusli. Karena produksi dan tahun tayangan yang terpaut jauh, maka unsur penting sinetron seperti alur cerita, adegan, penokohan, latar dan sebagainya menjadi penting untuk dianalisis.

Dari buku ini kita akan memahami bagaimana sebuah industri penyiaran televisi dalam memproduksi film dari cerita novel yang sama di zaman yang berbeda sangat dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan baik dari sisi kepentingan lembaga penyiaran maupun dari dari sisi orientasi pemirsanya. Perubahan waktu sepertinya mengharuskan lembaga penyiaran melakukan penyesuaian dengan tetap megacu pada alur cerita yang sama. Tayangan sinetron Siti Nurbaya di TVRI dan Trans TV pun sepertinya menampilkan sastra sinetron dalam idiologi budaya populer dijamannya.

Karya sastra pun tidak lagi berdiri sendiri, ada banyak faktor yang mempengaruhi perkembagannya mulai dari aspek ekonomi, sosial budaya, teknologi dan  sebagainya. Perkembangan Sastra Sinetron di televisi pun akhirnya selalu beradaptasi dan dihadapkan pada   dinamika, etika dan estitika postmodern yang belakangan mulai menggenjala di dunia seni dan hiburan khususnya televisi.

Singkat kata, Idiologi budaya populer di dalam media televisi tidak bisa lepas dari pandangan hakikat kebudayaan itu sendiri yang bergantung pada konteks produksi dan distribusinya, disamping itu juga pada konteks konsumsi dan resepsinya.

Buku ini memiliki kelebihan karena menawarkan trobosan berpikir bagi pembaca khususnya kalangan orang tua dalam memahami dan mengkonsumsi siaran bagi anak dan keluarganya. Siaran televisi pun bukan hanya soal pandang dan dengar atau hiburan semata, siaran juga sebuah produk nilai yang dapat memberi manfaat untuk membangun kemartabatan budaya.

Namun harus diakui buku ini masih cukup sulit dipahami oleh orang biasa atau para awam di bidang penyiaran televisi atau film. Tapi sangat berguna sebagai refrensi dan inspirasi bagi banyak kalangan terutama akademisi untuk turut serta melakukan kajian akademis terkait minat, kebutuhan dan kenyamanan masyarakat terhadap tayangan televisi, juga dalam kebutuhan pendidikan dan pelatihan literasi media bagi generasi muda dan siswa di sekolah. (*)

 

__________________

Tabanan, 19 Juni 2015

Oleh,

Made Nurbawa

 

Mon, 22 Jun 2015 @23:29

''PARAB'' : NAMA JALAN PETA JALAN PENGETAHUAN

image

Ungkapan ''apalah artinya sebuah nama'' menurut saya memiliki makna kebalikannya, ternyata dalam realitas budaya dan adat nama memiliki banyak arti dan makna-mulai dari yang sederhana hingga yang tak sederhana, dimasa lalu, kini dan masa yang akan datang. ''Nama'' dalam kamus bahasa Bali-Indonesia disebut ''Parab'', ''Wasta'', atau ''Adan''.

selengkapnya...

Sat, 2 May 2015 @02:54

''DEBES''

image

Stadion Debes boleh dikatakan sebagai saksi generasi dan prestasi olahraga rakyat Tabanan Bali. Tidak banyak yang tahu, kapan percisnya stadion ini diresmikan. Dibangun akhir tahun 1970-an silam, ''Debes'' pun tampil sebagai ''Ikon'' olahraga Tabanan.

selengkapnya...

Mon, 13 Apr 2015 @21:47

NGADOL DUE

image

Di Bali, lumrah bila ditempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya ''Due'', yaitu; sebutan yang cecara budaya dan keyakinan adalah bentuk penghormatan. ''Due'', dalam kamus Bahasa Bali-Indonesia berarti ''Milik''. Dengan sebutan lain, keyakinan seperti ini juga ada diberbagai komunitas di nusantara/dunia.

selengkapnya...

Wed, 8 Apr 2015 @07:17

MISTERI NASI UMA WALI

image

Warga dunia pernah dicemaskan oleh isu ''hari kiamat'' tepatnya pada tanggal 21-12-2012. Hal itu berdasarkan perhitungan kalender Suku Maya yang banyak diulas oleh Greed Braden dan kawan-kawan (2009) dalam bukunya berjudul The Mystery of 2012.

selengkapnya...

Wed, 7 Jan 2015 @06:52

JELIH SI MANIK GALIH

image

Seorang ibu berdecak kagum ketika melihat bulir padi menguning di areal sawah. ''Tumben tiang nepukin I dewa jelih buke kene'' (baru kali ini saya melihat padi yang padat berisi seperti ini-red),''ucap Men Aldi (Ibu Aldi) salah seorang sekaa manyi (kelompok panen padi) yang hendak panen di areal sawah, pada selasa pagi 23 des 2014.

selengkapnya...

Thu, 25 Dec 2014 @17:11

TALI KUNALI-SAPI TRADISI

image

Hingga saat ini warga subak masih banyak menggunakan tenaga kerbau atau sapi untuk mengolah lahan sawah. Secara umum di Bali disebut dengan ''metekap''. Metekap terdiri dari beberapa tahapan dan masing-masing tahapan memiliki sebutan berbeda yaitu: makal, mungkahin, ngelampit dan ngasahan.

selengkapnya...

Mon, 22 Dec 2014 @20:38

BLAUK JUBEL KECUCUTAN

image

BLAUK JUBEL KECUCUTAN Berawal dari ajakan ''Mengenal Nasi'' dua tahun silam, hingga kini saya merasa mendapat banyak kesempatan mendengar cerita tentang budaya pertanian-Subak. Cerita nasi pun tidak sebatas pangan, tapi mengalir dalam kesadaran tatanan budaya dan mata rantai ekosistem.

selengkapnya...

Mon, 13 Oct 2014 @01:23

MANIK GALIH

image

Depan bangunan suci (pelinggih) setumpuk padi menguning. Lengkap dengan simbul-simbul budaya yang menandakan padi itu bagian dari prosesi upacara suci yadnya pada Buda Kliwon, Pagerwesi, Purnamaning Kapat.

selengkapnya...

Sat, 11 Oct 2014 @12:20

WAR-WAR

image

''Pasar atau peken, pasaran atau pekenan serupa tapi tidak sama''. Pasar modern saat ini membutuhkan strategi pemasaran yang efektif. Salah satunya melalui berita iklan atau pariwara. Jenis pariwara pun bermacam-macam. Cepat dengan jangkaun luas bisa melalui siaran TV dan Radio. Kini banyak juga melalui media on line.

selengkapnya...

Wed, 8 Oct 2014 @08:06

PANJI ALAMI BUMI LUMBUNG PADI

image

Jaman dulu ''simbul spesifik'' alam seperti gunung, bukit, laut, danau, sungai, pohon/tanamam dan sebagainya adalah penanda alami untuk arah pengaturan di mana, dari mana, dan kemana sebuah ruang atau kawasan akan dimanfaatkan.

selengkapnya...

Sat, 4 Oct 2014 @15:33

PAUMAHAN-PADUNUNGAN

image

Salah satu program pemerintah adalah menyediakan rumah bagi rakyat. Rumah adalah kebutuhan dasar bagi setiap orang. Pantas saja negara memiliki kementerian khusus untuk mengatur soal perumahan demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

selengkapnya...

Fri, 3 Oct 2014 @07:18

DHARMA PEMACULAN

image

Pada musim tanam padi tahun ini, seorang petani hampir dua kali gagal menanam padi di sawah. Hal itu disebabkan karena bibit padinya hancur di rusak tikus di persemaian. Penyemaian bibit ketiga baru berhasil Ia tanam, itu pun penuh rasa was-was karena tidak menuntup kemungkinan padinya yang telah ditanam akan diserang tikus.

selengkapnya...

Thu, 2 Oct 2014 @15:55

''GERING''

image

Masa kecil, main petak umpet, ada war-war tidak boleh curang. Suatu hari, main petak umpet di halaman tetangga, salah satu teman ada yang curang. Ia tidak ngaku. Spontan teman lain protes lalu mengintrogasi dengan kata-kata: ''Bani Gering Sing?'' Spontan teman yang curang itu mengaku dan minta maaf. Permainan pun dilanjutkan dengan canda tawa penuh persahabatan.

selengkapnya...

Tue, 30 Sep 2014 @06:58

''SIMANTRI BUMI'' GANGGANGAN

image

Masyarakat pertanian tradisional (Subak) di Bali, dalam mengolah lahan sawah masih banyak menggunakan hewan sapi atau kerbau untuk membajak (metekap). Sebelum melakukan penanaman bibit padi (bulih), ada beberapa tahap yang harus dilakukan petani dalam pengolahan tanah sawah yaitu berturut-turut: Nengala, Ngelampit, Mungkahin, dan Nangsahan. Setelah selesai nangsahin baru lahan siap ditanami bibit padi.

selengkapnya...

Wed, 24 Sep 2014 @23:32

« 1 2 3 4 5 »

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?