Beda, Walau Terdengar Sama: Artis Tiga Zaman & Hotel Tiga Jaman

image

Mendengar istilah “Artis Tiga Zaman” adalah sesuatu yang biasa. Disebut demikian karena artis itu eksis berkarya hingga tiga generasi. Tapi beberapa bulan lalu (Agustus 2019) saya juga mendengar seorang kawan menyebut “Hotel Tiga Jaman”, sepintas terdengar sama, walau makna dan kasusnya beda. Seperti apa?

Awal bulan Agustus 2019 lalu saya sempat blusukan ke beberapa wilayah pinggiran obyek wisata utama di Bali selatan. Saat itu saya bersama kawan survey ke beberapa lokasi penginapan untuk kami booking dalam rangka persiapan akomudasi para tamu undangan VIP jelang  sebuah event akbar di kota kelahiran saya.

Sayang, beberapa hotel ternama sudah pada full booking  karena memang banyak tamu akan datang  dan sudah memesan kamar hotel jauh-jauh hari. Karena kehabisan kamar, maka terpaksa kami menyasar home stay dan beberapa villa yang kami anggap paling representative. Ukuran representative yaitu lokasinya tidak begitu jauh dari pusat kota, kondisi hotel bagus dan akses jalan maupun parkir kenderaan tersedia.

Sebenarnya hari-hari menjelang pelaksanaan event akbar ada banyak pihak yang juga bluskan mencari penginapan untuk koleganya, tidak hanya di pinggiran tapi juga di pusat kota.

Siang itu, beberapa referensi nama homestay, hotel dan villa sudah saya kantongi dari “Mbah Googel”. Saya dan kawan saya langsung meluncur  menuju TKP sambil mengikuti petunjuk “Mbah Googel” juga. Tidak lebih dari satu jam saya pun tiba disebuah kawasan.

Mendekati target, sopir berlahan membelokan mobil kearah kiri dari jalan utama, didepan nampak hamparan sawah hijau menyejukan. Dari kejauhan nampak bangunan berarsitek villa berlatar tanaman padi yang menghijau. Lokasinya cukup menyepi  dan agak jauh dari pemukiman penduduk. “Mungkin karena villa, wajar lokasinya ditempat yang sepi”, pikirku sederhana.

Rupanya saya sudah lama tidak blusukan di kawasan pariwisata itu.  Wilayah yang dulunya tanah sawah kini sudah berubah menjadi kawasan villa dan homestay. Setelah tiba di salah satu homestay saya langsung mendekat ke arah petugas jaga lalu bertanya.

 “Permisi pak, apakah masih ada kamar kosong?” tanyaku kepada bapak penjaga.

“Oh, masih ada, mau pakai jam berapa?” tanya bapak penjaga.

“Saya mau booking kamar untuk kebutuhan sekitar dua mingguan pak”, ucap saya.

“Oh, tidak bisa pak, kami hanya bisa melayani untuk pemesanan maksimal tiga jam”, balas bapak pejaga.

Mendengar penjelasan bapak penjaga homestay saya pun lagsung mengerti, rupanya villa itu khusus untuk konsumen “short time”. Tidak mau berlama-lama kami pun balik kanan menuju kendaraan di parkiran.

Suatu hari saya pun berkumpul dengan beberapa kawan dari jauh. Saat itulah mereka mengeluh karena belum dapat hotel untuk koleganya dari pulau seberang.

“Disini banyak hotel ‘tiga jaman’, padahal hotelnya bagus dan murah, tapi tidak dikasi booking untuk beberapa hari”, ucap salah satu kawan.

Sementara kawan saya yang lain menjelaskan; “banyak hotel dan homestay dijual ‘tiga jaman’  sehingga tidak bisa di booking untuk satu hari penuh apalagi untuk beberapa hari walau dibayar lebih mahal. Konon paket ‘tiga jaman’ itu sudah menjadi kesepakatan bersama (entah siapa), kecuali pihak panitia bersurat ke ‘Koordinator’-nya atau pihak yang berwenang agar kamar hotel atau home stay tersebut diijinkan untuk dijual dalam paket harian. Hotel/homestay seperti itu sudah tergabung dalam forum alias ada organisasinya”, tegas kawan saya itu.

Kalau dipikir-pikir menjual hotel dengan paket “tiga jaman” jauh lebih menguntungkan pemiliknya. Misalnya kalau tarif kamar per hari Rp. 300.000,- maka dalam sepuluh hari pemilik memperoleh biaya sewa kamar Rp 3 juta.  Tetapi jika dijual dalam paket “tiga jaman” dengan tarif Rp. 250.000,- dan dalam sehari bisa laku sebanyak tiga kali, maka akan ada uang masuk total Rp. 750.000,-, atau dalam sepuluh hari Rp. 7.500.000,-, jauh lebih besar.

Entahlah mungkin hal diatas sesuatu yang lumrah di jaman kekinian, tetapi yang menarik apakah maraknya pembangunan akomudasi pariwisata di bali merupakan bukti pertumbuhan wisatawan atau justru adanya perubahan pola hidup masyarakat Bali ? Lalu siapakah yang dimaksud dengan Koordinator itu? Dan bagaimana pencatatan pajaknya karena tarif resmi jauh lebih murah?

Singkat kata semenjak itulah sering saya dengan kawan menyebut istilah “hotel tiga jaman” yang awalnya saya kira sama seperti istilah “artis tiga zaman” seperti  Laila Sari dan sebagainya. Semoga saja maraknya “hotel tiga jaman” tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Suksma (*).

 

Oleh : Made Nurbawa (23/10/2019)

 

 



 

 

 

Wed, 23 Oct 2019 @08:10


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

082144093855


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?