''Paye di Abinge'', Langka, Alam dalam Genggaman

image

Sudah lumrah, masyarakat di Indonesia kerap menggunakan perumpamaan saat berdialog. Perumpamaan banyak jenisnya, dalam bahasa Bali disebut Sesenggakan.

Di tengah masyarakat Bali juga ada banyak sesenggakan.  Beberapa yang cukup populer dan sering digunakan saat berkomunikasi, antara lain; “buka ngelawar capung” yang artinya gedenan bia atau besar pasak dari pada tiang. Ada lagi “Pilih-pilih Bekul” artinya maunya memilih yang paling bagus tetapi yang didapat malah yang jelek.

Di Bali banyak perumpamaan menggunakan obyek tanaman. Ada satu sesenggakan yang menurut saya cukup cukup ektrim yang sering digunakan untuk menyetil seseorang yaitu “Buka Paye di Abinge”, artinya seseorang yang sangat pelit.

Sesenggakan “Buka Paye di Abinge” tidak saja artinya yang ektrim, tetapi juga gambaran dari obyek yang dipergunakan. Buah Paye atau Pare (Momordica charantia L.) digolongkan tanaman sayuran, rasanya pahit. Sebenarnya Paye/Pare ditanam dimana pun rasanya tetap pahit, baik di sawah maupun di ladang. “Abing” artinya jurang. ‘Buka Paye di Abinge” artinya Buah Paye atau Pare yang tumbuh di jurang, tumbuhnya melilit di semak-semak, rasanya konon sangat pahit, dan tentunya susah untuk memetiknya. Jadi seseorang yang diibaratkan seperti “Paya di Abinge” artinya orang yang berkarakter super pelit.

Banyaknya sesenggakan di Bali yang menggunakan obyek tanaman sepertinya memberi gambaran kepada kita tentang kehidupan masyarakat agraris, yaitu masyarakat yang sangat dekat dengan alam atau mata pencaharian bercocok tanam. Dari sesenggakan kita diingatkan dengan beragam jenis tanaman lokal, juga gambaran tentang kehidupan sosial budaya masyarakat, termasuk mengenali karakter diri maupun orang lain. Dari sesenggakan itu kita seperti terbawa pada suasana alam Bali yang alami dimana disekitar rumah kita masih ada tegalan dan sawah yang luas, jurang yang menghijau, sungai yang berair bening dan juga tanaman dipinggir jalan yang buahnya masih “bebas dicuri” oleh anak-anak dan seterusnya.

Kini, ditengah masyarakat yang semakin “berjarak” dengan budaya agraris, ternyata sesenggakan “Buka Paye di Abinge” masih lumayan sering disebut atau digunakan oleh generasi melinial, hal itu terpantau di sejumlah status di media sosial, entah mereka pernah atau tidak melihat langsung Paye tumbuh di abinge. Namun pelan tapi pasti masyarakat yang tinggal  diperkotaan mungkin sudah mulai asing dengan sesenggakan tersebut, karena generasi kini banyak yang sudah tidak lagi memiliki kesempatan atau pengalaman “berpetualang” di tegalan, sungai atau abing (jurang). Begitu juga tanaman paye tidak bisa lagi tumbuh karena banyak abing sudah berubah menjadi villa atau perumahan. Tanaman Paye di abing sudah langka, kalau pun ada mungkin tidak lagi menjadi bagian yang dekat dengan keseharian mereka. Anak-anak sekarang tidak lagi dominan bermain di alam terbuka yang menyajikan keragaman, kemurnian dan rasa toleran. Karena digenerasi melinial “alam” sudah ada dalam genggaman-Gadget (*)

 

Oleh : I Made Nurbawa (Rabu, 2 Okt 2019)

 

 

 

 

 

 

 

Thu, 3 Oct 2019 @19:01


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?