Senja di Sudut Debes, Renungan Kaja Kangin

image

Hampir 40 tahun terakhir, Gelanggang Olahraga Debes (Stadion  Debes) bisa dikatakan sebagai saksi generasi dan prestasi olahraga rakyat Tabanan. Pembangunannya digagas akhir tahun 1970 an di era pemerintahan Bupati Tabanan  ke-V (lima) yaitu I Wayan Staat Dharmanaba (1973-1979). Selajutnya pekerjaan fisik stadion dilanjutkan awal tahun 1980-an di era Bupati Tabanan Kol. Purn H. Soegianto (1979-1989) atau di Era Gubernur Bali IB Mantra (1978-1988). Sebelumnya lahan Stadion Debes adalah carik/sawah.

Nama “Debes” diambil dari salah satu nama Pahlawan Kemerdekaan yang merupakan Putra asli Tabanan yaitu Mayor I Gusti Wayan Debes yang turut gugur bersama seluruh pasukan Ciung Wanara Pimpinan I Gusti Ngurah Rai di Desa Marga pada tanggal 20 Nopember 1946 yang kemudian dikenal dengan perang “Puputan Margarana”. Berangkat dari catatan sejarah tersebut, maka seharusnya keberadaan Stadion Debes tidak hanya sebagai ikon generasi olahraga Tabanan, tetapi juga sebagai ikon spirit kepahlawan rakyat Tabanan dalam merebut kemerdekaan atau prestasi lain di era kekinian.

Seperti kita ketahui bersama, tahun 2019 ini Kabupaten Tabanan akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali ke XIV. Gelanggang Olahraga Debes pun kembali menjadi fasilitas olahraga andalan dalam penyelenggaraan Porprov 2019. Setidaknya ada 7 (tujuh) cabang olahraga pada Porprov 2019 yang akan dipertandingkan di kompleks olahraga kebanggaan masyarakat Tabanan ini -menyusul awal tahun 2018 dibangun GOR lagi di sisi utara yang juga mendapat apresiasi positif dari kalangan insan olahraga Tabanan dan Bali.  

Seiring dengan perputaran waktu, ternyata ada banyak jejak sejarah  Stadion Debes yang mulai terlupakan. Saat melintas di areal “Kaja Kangin” atau timur laut Stadion Debes pada Rabu (13/3/2019), muncul niat untuk merangkumnya. Dalam tatanan budaya Bali “Kaja Kangin” dalam bahasa Indonesia bukan selalu berarti “Timut Laut” seperti nama arah mata angin. Dalam keyakinan orang Bali pada umumnya, “Kaja kangin” adalah “Hulu Spirit” dalam pengaturan (sikut) dan pemanfaatan lahan (wewidangan) yang dikenal dengan tatanan Asta Bumi, Panca Raksa dan Asta Kosala Kosali.

Bukti bahwa “Kaja Kangin” bermakna sebagai “hulu” ketika kita ada di wilayah Bali Utara. Di Buleleng “Kaja” justru berada di selatan dalam arah mata angin dan “Kelod” ada di utara dalam arah mata angin. “Kaja” berarti gunung atau ketinggian atau yang diagungkan. Sedangkan “kangin” adalah simbul dari matahari sebagai sumber kehidupan (sinar suci tuhan). Posisi “Kaja Kangin” pun dimaknai sebagai sumber Ilmu Pengetahuan Suci sehingga di Bali lokasi lahan di kaja kangin dibangun merajan, tempat suci atau kawasan yang disucikan. Seperti halnya diposisi “Kaja Kangin” Stadion Debes juga terdapat bangunan suci yaitu Padmasana.

Ternyata dari keberadaan Padmasana di sisi timur laut (kaja Kangin) Stadion Debes bisa memberi petunjuk sejarah. Menurut salah seorang Pembina olahraga Ketut Westra, Padmasana tersebut dibangun dan di plaspas pada hari Kamis/Wrespasti Paing Julungwangi tanggal 14 Juni 1984 . Jadi pada tahun 2019 ini keberadaan Padmasana tersebut sudah berusia 35 tahun. Dan setiap tahun diadakan upacara Piodalan yang jatuh pada Purnama Sadha. Piodalan di Padmasana ini dilaksanakan oleh Bagian Kesra Setda Tabanan dengan menunjuk seorang Pemangku. Terakhir pemangku yang mengurusi upacara Piodalaan di Padmasana Stadion Debes adalah Jero Mangku Juwita yang juga selaku Pemangku di Pura Puseh Desa Adat Kota Tabanan. Menurut Jero Mangku Juwita, dirinya merupakan Pemangku generasi ketiga yang ditunjuk untuk mengurusi prosesi Piodalan di Padmasana Stadion Debes hingga saat ini, ujarnya saat ditemui Kamis (14/3/2019) siang.


Dok : Padmasana Stadion Debes Tabanan (Jumat 15 Maret 2019)

Selanjutnya dengan diketahuinya tanggal pembangunan Padmasana di posisi kaja kangin areal stadion Debes pada tanggal 14 Juni 1984, maka kita bisa merekonstruksi waktu dan infromasi terkait perkembangan Stadion Debes dari awal hingga saat ini. Artinya Padmasana tersebut dibangun 4 (empat) tahun sejak pengerjaan fisik stadion Debes dimulai pada tahun 1979-1980. Sangat mungkin pembangunan Padmasana dilakukan setelah selesainya penataan stadion dengan dibanggunnya tembok keliling dan juga tribun serta ruang-ruang kantor dibawah tribun stadion. Jadi keberadaan ruangan yang kini dijadikan Sekretariat KONI Tabanan, Askab PSSI, IPSI dan PASI sudah ada sejak tahun 1984. Demikian juga pada awal pembangunan Stadion Debes berdiri SMAN 2 Tabanan pada tangal 30 Juli 1980. Konon angkatan pertama SMAN 2 Tabanan juga sering kerja bakti menanam rumput di areal stadion.

Hal tersebut dibenarkan oleh salah seorang saksi yang juga pengurus KONI Tabanan Mulyadi Djoyo Astowo, S.Pd (yang akrab dipanggil Pak Djoyok) yang juga selaku Wakasek Bidang Kesiswaan SMAN 1 Tabanan. Pak Djoyok mengaku dirinya sudah main sepak bola di Stadion Debes sejak awal dibangun tahun 1980 an. Ia suka main bola ngikut hobi orang tuanya sejak lapangan sepak bola Kota Tabanan masih di areal kantor Bupati Tabanan sekarang Jl. Pahlawan Tabanan.  Sebagai gantinya pada era pemerintahan Bupati I Wayan Staat Dharmanaba (1975) dibangun lapangan umum di Dangin Carik yang kini dikenal dengan nama lapangan Alit Saputra.

Dari beberapa sumber yang dihimpun, hingga tahun 1974-1975 Kantor Bupati Tabanan sekarang dijadikan lapangan sepak bola favorit pecinta sepak bola Tabanan dan juga anggota Persatuan sepak Bola Tabanan (PERST) saat itu. Nama PERST sendiri muncul pertama kali tahun 1964 yang merupakan peleburan beberapa organisasi sepak bola Tabanan saat itu. Menurut Pak Djoyok salah satu kipper Tabanan yang terkenal di era tahun 1950-1960 an adalah I Nyoman Tasik mantan Kepala sekolah SMA Negeri Tabanan tahun (1965-1970).

Kembali ke Stadion Debes, sekitar bulan Februari 2018 pernah dilakukan pengukuran ulang,  luas lahan keseluruhan areal Stadion Debes mencapai 3,6 Ha (36651 M2) yang diatasnya terdapat lapangan Sepak Bola, GOR Serba Guna, Lapangan Petanque, areal parkir, perkantoran, ruang genset PLN dan tempat Suci/Padmasana. Jika kita mengacu pada tatanan Asta Bumi dan atau Panca Raksa (lima pembagian wilayah) yaitu Sri Raksa, Guru Raksa, Durga Raksa, Kala Raksa dan Siwa Raksa. Sri Raksa yaitu sudut timur laut adalah tempat atau lokasi Pemrajan atau Padmasana. Jika dikupas lebih jauh maka akan diketahui dimana posisi pemesunan/pintu gerbang utama dan fungsi-fungsi bangunan lainnya. Namun saat ini diatas areal 3,6 Ha tersebut terdapat dua banguan Padmasana, satu lagi ada di dekat GOR Serba Guna (GOR Debes lama) di sisi selatan. Hal tersebut menunjukan di atas lahan seluas 3,6 Ha tersebut ada dua “karang” atau dua bidang lahan perkarangan. Padahal secara nyata sehari-hari aktivitas olahraga di areal stadion debes sudah menyatu. Hal ini memunculkan pemikiran kedepan kedua lahan tersebut perlu di satukan secara sekala-niskala sehinga areal Stadion Debes bisa menjadi satu kesatuan.

Penataan lahan seiring dengan pembangunan GOR baru dan perbaikan venues Porprov Bali XIV 2019 sangat perlu dilakukan secara menyeluruh, sehingga keberadaan Gelangang Olahraga Debes dapat mendukung upaya pemerintah daerah Tabanan dalam memperkenalkan potensi Kabupaten Tabanan sehingga bisa menjadi perhatian masyarakat dunia -Sport, Tourism and Culture.(*).

 

Oleh : I Made Nurbawa ( Kamis, 14 Maret 2019)

*) Tulisan ini adalah tulisan rintisan untuk merangkum lebih lengkap potensi dan sejarah keolahragaan di Tabanan. Mohon maaf jika ada keterbatasan. Kritik dan saran sangat di harapkan. Terima Kasih.

Sat, 16 Mar 2019 @19:24


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?