Air Terjun Pangkung Sakti, Mutiara di Tepi Balean (Bertingkat dan Tertinggi di Kabupaten Tabanan)

image

TABANAN—Sebelumnya saya belum pernah ke lokasi air terjun (singsing) Pangkung Sakti Samsaman, teman-teman menyebut air terjun ini lumayan indah, bertingkat, tingginya mencapai 80 meter. Lokasinya berada di tepi Sungai/Tukad Balean, masih  termasuk wilayah Desa Pakraman Samsaman, Desa Angkah, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan, Bali.

Penasaran, saya pun janjian dengan salah satu warga yang berasal dari Banjar Samsaman Kelod Desa Angkah untuk sama-sama menuju lokasi air terjun yang letaknya konon tersembunyi di balik rimbun pohon dan dinding batu yang terjal.

Sabtu 17 Pebruari 2018, sekitar Pukul 10.00 Wita dengan sepeda motor kami meluncur menuju arah barat Kota Tabanan melewati jalur utama Denpasar-Gilimanuk.  Sekitar 30 menit perjalanan kami tiba di pertigaan Desa Antosari, dari sana kami masih harus belok kanan melewati jurusan menuju kota Kecamatan Pupuan. Di jalur ini kami memperlambat lanju kendaraan, pasalnya di kiri-kanan jalan nampak pemandangan hamparan terasiring sawah yang hijau belatar bukit yang sangat menawan.

Setelah menempuh jarak sekitar 6 kilometer, kami akhirnya tiba di pertigaan jalan menuju Desa Angkah. Di papan penunjuk arah kami masih harus menempuh jarak sekitar 2.5 kilometer lagi menuju Desa Angkah yang secara administratif berada di wilayah Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan, Bali.

Di kawasan ini kondisi jalan berkelok-kelok dengan tofografi naik-turun. Perjalanan sangat lancar karena kondisi jalan aspal yang mulus, sejuk, diapit rimbun pepohonan termasuk tanaman buah lokal menebar kesejukan. Aroma khas buah duren terasa menyengat karena awal tahun 2018 ini lagi musim. Sepanjang perjalanan nampak sejumlah petani dan pengepul buah melakukan transaksi, menghitung dan menaikan buah duren keatas mobil Pik Up.

Sekitar Pukul 11.00 Wita kami tiba di rumah karib saya Komang Darsana yang berasal dari Banjar Samsaman Kaja. Disini kami bertemu dengan Bapak Sartayasa yang sehari-harinya sebagai petani. Sambil beristirahat kami juga menanyakan arah jalan menuju lokasi air terjung Singsing. Tidak lama suguhan kopi pun datang menemani sehingga obrolan kami siang itu benar-benar penuh keakraban.

Bapak Sartayasa mencoba menjelaskan kepada kami jalur menuju air terjun Pangkung Sakti. Kami berdua sedikit bingung karena menuju lokasi air terjun masih harus melewati jalan kecil semacam gang atau jalan setapak ditengah-tengah kebun penduduk. Karena masih bingung akhirnya kami mohon kepada Bapak Sartayasa untuk mengantar menuju lokasi yang dimaksud.

Sehabis ngopi, kami kemudian berangkat bersama-sama menuju lokasi air terjun. Kami berangkat berempat dengan tiga sepeda motor. Bapak Sartayasa membonceng anaknya sedangkan saya dan karib saya membawa motor sendiri-sendiri.

Memang benar, bagi yang tidak tahu medan pasti akan cukup kesulitan menuju titik terdekat lokasi air terjun. Dari jalan aspal (jalan utama desa) kami masih harus melewati jalan kecil disela-sela kebun penduduk.  Kondisi jalan cukup bagus karena sudah dibeton.  Dibeberapa lokasi jalan banyak bercabang sehingga kalau tidak dipandu oleh warga setempat akan membingungkan. Apalagi dijalur ini rumah penduduk masih jarang dan sepi. Setelah hampir 1, 5 kilometer perjalanan, kondisi jalan mulai menyempit, kami pun masih harus memacu sepeda motor melewati jalan tanah yang kalau musim hujan pasti sangat licin, syukur hari itu cuaca cukup cerah dan permukaan jalan tanah masih cukup mudah dilewati dengan sepeda motor. Sekitar Pk. 11. 45 Wita kami berempat tiba di titik terakhir jalan yang bisa dilewati sepeda motor. 

Dilokasi ini kami berhenti sejenak sambil mereka-reka arah, juga membayangkan jarak yang masih harus kami tempuh dengan jalan kaki karena didepan kami jalan setapak menuju air terjun kondisinya mulai curam, tidak mungkin kami lewati dengan sepeda motor.

Saat kami beristirahat terdengar ada yang memanggil kami dari balik ribun kebun kopi. Teman saya bergegas mendekat. Rupanya ada petani, ibu-ibu yang mengenal teman saya itu. Tentu kami sangat beruntung bertemu petani itu karena kami mendapat informasi yang lebih jelas tentang lokasi dan medan yang harus kami tempuh menuju lokasi air terjun. Lebih bersyukur lagi Ibu petani itu memberikan teman saya empat buah manggis yang matang dan ranum. Buah manggis itu tidak langsung kami makan, tetapi kami simpan di bawah sadel sepeda motor untuk persediaan.  Hari itu kami lupa membawa air minum, kami hanya membawa tas kecil berisi dupa dan  Canang Sari.

 

Jalan Terjal Menembus Hutan

Siang itu sekitar Pk. 12. 15 Wita, setelah memperbaiki posisi sepeda motor kami pun minta ijin melanjutkan perjalanan kepada pemandu kami Bapak Kadek Sartayasa. Sementara Bapak Sartayasa bersama anaknya kami persilahkan pulang duluan.

Berdua kami berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang cukup curam dan berbatu di kaki bukit. Dari sudut yang agak lapang, dengan leluasa kami menatap lebatnya hutan lindung DAS Tukad Balean yang hijau rapat.  Ditengah-tengahnya nampak aliran Tukad Balean berkelok indah dengan kilau airnya yang jernih diapit oleh dua bukti yang hijau. Kami benar-benar merasa berada di daerah yang sangat asing dan sepi. Tetapi rasa penasaran kami untuk bisa bertemu air terjun Pangkung Sakti membuat kami tetap semangat.

Setelah mengambil gambar secukupnya, kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak yang curam. Nampaknya jalan ini sengaja dibuat oleh pihak desa untuk menuju Air terjung Pangkung Sakti. Setelah sekitar 100 meter perjalanan kami pun mulai melihat air terjun kecil dengan ketinggian sekitar 15 meter. Kami baru menyadari rupanya ujung jalan setapak itu menuju posisi percis diatas air terjun. Air terjun kecil yang kami lihat itu adalah tingkat teratas air terjun Pangkung Sakti. Dari posisi ini kami belum bisa melihat air terjun dengan jatuhan air tertinggi. Kami harus memutar lagi melewati ribun pohon dan semak-semak yang sangat lebat. Kami berdua sempat bingung karena jalan setapak yang diceritakan oleh pemandu kami sebelumnya tidak begitu jelas karena ditutupi rimbun pepohonan dan rerumputan.

Beberapa saat diatas air terjun kami sempat mondar mandir seperti orang kebingungan. Kami sempat menerobos rimbun pepohonan dan semak belukar, ternyata dihadapan kami adalah tebing batu yang curam. Jelas saja kami tidak mungkin lewat dan kami langsung balik arah lalu duduk untuk istirahat. Saat itu sempat terlitas pikiran untuk kembali pulang.

Setelah beristirahat sekitar 10 menit, kami mecoba menganalisa situasi. Kami memutuskan untuk mencari jalur melingkar agar bisa tembus kearah Sungai/Tukad Balean. Kami memutuskan masuk menerobos semak dibawah pohon-pohon bunut dan pohon Ho yang besar.  Rupanya kami tidak salah, jalur yang kami lewati ternyata adalah jalan setapak yang dari tadi kami cari-cari. Hanya saja jalan setapak itu nyaris tertutupi rumput dan ranting pohon karena jarang dilewati sehingga tidak terlihat jelas. Di jalur ini kami harus melewati dinding batu yang lincin dan berlumut. Dibeberapa bagian melewatinya harus dengan cara merangkak sambil berpegangan pada akar pohon. Kmi pun sesekali harus merunduk saat melewati batang pohon yang tumbang karena terjangan angin. 

Setelah beberapa meter berjuang menembuh hutan kami mulai mendengar dengan jelas suara jatuhan air. Kami pun menjadi lebih semangat ketika kami yakin melewati jalur yang benar menuju lokasi Air Terjun Pangkung Sakti. Pelan-pelan curahan air terjun mulai terlihat sebagian, kami terus berpacu untuk mendekat.  Semangat kami pulih untuk menuruni tebing,  beberapa kali saya sempat bergelayutan berpegangan diakar-akar pohon yang menjutai bak Tarzan.  

Benar, akhirnya kami berdua tiba dihadapan Air Terjung Pangkung Sakti yang menjulang tinggi. Wow, kami bergegas melompati batu-batu untuk mencari sudut pandang yang terbaik. Kami tertegun, kami takjub, beberapa menit kami terpana melihat pemandangan air terjun yang langka.  Ternyata di wilayah Selemadeg Barat ada air terjun yang cukup tinggi, sekitar 80 meter, bertingkat, mungkin yang tertinggi di Kabupaten Tabanan. Sebagai ungkapan rasa syukur teman kami mengambil Canang Sari dari dalam tas gendongnya dan mengaturkannya di tepi air terjun. Kami berdoa sekaligus mohon ijin kepada Sang Pencipta/Ida Sang Hyang Widi Wasa karena telah diberikan kesempatan utuk pertama kalinya melihat secara langsung Air Terjun Pangkung Sakti di tepi Tukad Balean.

 

Tukad Balean Sungai Suci

Air terjun Pangkung Sakti berada sekitar 50 meter dari tepi sungai/Tukad Balean.  Setelah puas berada dibawah air terjun, kemudian kami melompati batu-batu menuju aliran Tukad Balean di bawahnya. Saat kami berada diatas batu besar di tegah sungai, air terjun  tidak terlihat seluruhnya karena sebagian tertutup pepohonan. Namun aliran airnya yang melewati batu berundag di tepi sungai menampilkan pemandangan alam yang eksotik.  Apalagi DAS disekitarnya masih sangat asri dan bersih.

Saat berada di tengah sungai kami tak henti-hentinya melompat diatas batu-batu sungai yang lebar, kami ingin menikmati pemandangan sungai dari berbagai sudut. Bagi mereka yang pertama kali berada dilokasi ini pasti akan tertegun dengan suasana alam yang benar-benar asri. Deretan batu serta palung sungai tukad Balean benar-benar menampilkan pemandangan alam yang sangat cantik. Kami pun tak bosan-bosannya mengambil gambar dan berswaphoto (selfie).

Tukad Balean merupakan salah satu sungai besar di wilayah Tabanan Barat. Sungai ini memiliki 11 anak sungai yang hulunya ada diwilayah pegunungan hingga kaki Gunung Watukaru bagian barat. Hal itu menyebabkan sungai ini selalu beriar sepanjang tahun dan dibagian hilir permukaannya semakin lebar. Tukad Balean bermuara di Samudra Indonesia di wilayah banjar Surabrata Desa Lalanglinggah. 

Tukad Balean juga menyimpan legenda lama terkait dengan peradaban dan sejarah desa-desa yang ada disekitarnya. Konon nama “Balean” erat kaitannya dengan upaya pengobatan ketika dijaman dulu banyak warga yang mengalami sakit alias gering grubug. Seperti diceritakan oleh Bapak Putu Rai Suta seorang budayawan asal Desa Antap Kelod, bahwa ada sebuah mitos yang diceritakan secara turun temurun yakni :

“Dewi Sapujagat menghibur diri terus berjalan tiba di sebuah desa yg sekarang disebut Nyuh Gading.  Didekat sana Dewi Sapujagat mandi di sebuh pancoran. Lokasi pancoran tersebut kemudian menjadi Desa Pancoran (Sekaang Banjar Pancoran Desa Mundeh) saat ini.  Saat Dewi Sapujagat mandi dilihat susunya gading sperti Nyuh Gading (Kelapa Gading),  lalu kawasan itu disebut Desa Nyuh Gading (Sekarang Banjar Nyuh Gading Desa Mundeh). Selesai mandi beliau terus jalan ke selatan,  sampai di suatu tempat yang sangat luas ditumbuhi alang-alang,  lalu desa tersebut dinamai Lalang Linggah (sekarang Desa Lalang Linggah).  Suatu hari masyarakat sekitar sana mengalami gring grubug,  diambilah air sungai dengan canting (serok kecil yang terbuat dari tempurung kelapa) sebagai bahan obat untuk tamba.  Dewi Spaujagat nambanin (mengobati) seperti balian,  maka sungai itu disebut Tukad Balian. Sedangkan desa dimana Dewi Sapujagat bersemadi ngelarangan tapa brata kepada Ida Sanghyang Surya (suryabrata) lama kelamaan menjadi Desa Surabrata (sekarang Banjar Surabrata Desa Lalanglinggah), Kecamatan Selemadeg Barata dimana mura sungai/tukad Balean berada mengalir kesamudra lepas”.

Dalam mitos atau cerita yang serupa, nama Lalang Linggah juga erat kaitannya dengan sejarah perjalanan Dang Hyang Nirarta di wilayah Lalanglinggah tepatnya di Pura Gading Wani. Disebelah barat Pura Gading Wani terdapat sungai/tukad Balean. Kata “Balean”  sendiri berarti pengobatan atau penyembuhan dimana menurut mitos atau cerita yang berkembang secara turun temurun saat itu Dang Hyang Dwijendra atau Dang Hyang Nirarta banyak membantu penyembuhan berbagai penyakit yang diderita oleh masayarakat Lalanglinggah. Seperti diceritakan dalam situs online sejarah Desa Lalanglinggah disebutkan :

“Disebelah barat pura Gading Wani terbentang sungai besar yaitu tukad balian yang artinya tukad yang mampu menyembuhkan wabah penyakit. Konon Danghyang Dwi Djendra menancapkan tongkat dibagian hulu dan kemudian menyuruh orang desa yang kegeringan (sakit) mebersih di hilirnya dan seketika itu orang- orang desa sembuh. Dikaitkan dengan kesucian Tukad Balian ternyata setelah diamati sungai atau Tukad Balian tersebut mempunyai 11 (sebelas) anak sungai. Secara mitos sungai seperti ini sangat baik untuk menyembuhkan dan penyucian diri. Dan terbukti banyak umat yang melakukan pengelukatan diri di Tukad Balian yang dianggap suci ini” (sumber : (https://lalanglinggah.desa.id). 

Setelah puas mengambil gambar, kami duduk sejenak diatas batu. Kami membayangkan jika kelak keberadaan air Tejun Pangkung Sakti dan Tukad Balean bisa dikelola oleh pihak Desa Pakraman Angkah menjadi salah satu obyek wisata alam, pastilah sesuatu yang sangat menarik. Disamping air terjun Pangkung Sakti yang menawan, dikawasan ini juga cocok dikembangkan wisata petualangan susur sungai. Namun demikian akses jalan setapak menuju air terjun perlu dipikirkan, tidak apa-apa sedikti melingkat sepanjang lebih landai dan aman dilewati pengunjung atau wisatawan. Begitu juga saat atraksi susur sungai, tenaga pemandu atau warga lokal yang sudah mengenal medan sangat dibutuhkan karena Tukad Balean sewaktu-waktu bisa menjadi sangat berbahaya. Apabila dikawasan hulu hujan lebat, maka aliran air Tukad Balean akan sangat besar.

Setelah hampir satu setangah jam berada di sekitar air terjun Pangkung Sakti, kami memutuskan untuk kembali pulang. Kami kembali melewati jalur awal menerobos hutan dan semak, bedanya kali ini kami harus mendaki kaki bukit yang terjal. Setelah mendaki sekitar 100 meter perjalanan kami akhirnya tiba di jalan awal yang agak lapang. Kami langsung merebahkan diri di atas rumput karena kelelahan. Otot-otot kaki dan tangan seperti mendadak pegal-pegal. 

Setelah tenaga agak pulih, kami melanjutkan langkah menuju tempat kami memarkir sepeda motor. Diperjalanan kami sempat berhenti sejenak bertegur sapa dengan seorang perempuan petani yang sedang bekerja merawat tanaman kopi. Ibu tersebut mengaku bernama Men Igung Kebon, menanyakan kepada kami datang dari mana?. Setelah dijelaskan kalau kami baru saja datang dari lokasi air terjun ibu itu langsung mengerti.

“Ya memang sering ada tamu lewat disini menuju air terjun, lebih sering lagi saat tanaman kopi lagi berbuah,”ujar Men Igung.

“Jalan menuju air terjun masih sulit, tapi aparat desa sudah sempat datang mendata dan mengukur,  mudah-mudahan tahun 2018 ini ada penataan,”imbuhnya.

Kami pun mohon permisi dan melajutkan perjalanan, akhirnya sampai juga di lokasi kami parkir sepeda motor. Tentu kami tidak lupa dengan buah manggis yang kami simpan di bawah sadel sepeda motor. Kami langsung mengambil dan berbagai dengan teman kami, masing-masing dua buah. Kami kehausan dan langsung membelah dan memakannya. Wow, segar, kami memang kehausan. Tidak lama setelah itu kami menstater sepeda motor, lalu melaju menuju perkampungan Banjar Samsaman Kaja.


Singsing itu Air Terjun

Tiba di jalan utama banjar Samsaman Kaja, kami langsung menuju warung terdekat. Tiba di warung kami langsung memesan air mineral untuk melepas dahaga. Saat itu kami bertemu dengan sejumlah warga dan sempat menceritakan kalau kami baru saja datang dari lokasi air terjun Pangkun Sakti di tepi tukad Balean.

Salah satu warga Bapak Made Alit Antara, menjelaskan kepada kami bahwa air terjun tersebut merupakan aliran air Pangkung Sakti (sungai kecil) yang berada di wilayah Desa Angkah. “Airnya berasal dari Pangkung Sakti yang merupakan  anak dari Pangkung Ngah,”terangnya.

Kalau begitu pantaslah air terjun itu dinamai air terjun Pangkung Sakti. Sebuah pangkung yang konon menyimpan nilai sejarah dan kisah heroik saat masa perjuangan merebut kemerdekaan dulu. Dan diwilayah tersebut terdapat Pura Suci yang bernama Pura Pangkung Sakti dimana para pejuang kemerdekaan dulu pernah berkumpul dan sembahyang bersama saat melakukan perang greliya.

Usai minum di warung kami kembali memacu sepeda motor menuju rumah Bendesa Adat Pakraman Samsaman Made Puja Merta Yadnya (53). Syukur kami langsung bisa bertemu, kebetulan Bapak Made Puja lagi duduk ngopi di depan rumah di Banjar Samsaman Kaja yang juga merupakan sekretariat Yayasan Eka Chita Pradnyan.

Dijelaskan lokasi air terjun Pangkung Sakti masih berada diwilayah Pakraman Samsaman, Desa Angkah, Kecamatan Selemadeg Barat. Perihal disebut air terjun “Singsing”, kata dia “Singsing” (Bahasa Bali) itu artinya “Air Terjun”,  terangnya.

Saya pun baru tahun kalau kata “Singsing” itu artinya “Air Terjun”. Pantesan di beberapa wilayah Bali banyak ada air terjun yang diberi nama air terjung Singsing seperti air terjuan Singsing Sade dan Singsing Benben di Desa Belimbing, Kecamatan Pupuan Tabanan. Ada juga ari terjung Singsing di Banjar Labuhan Aji desa Temukus, Kecamatan Banjar Buleleng.

Terkait dengan kata Singsing yang berarti air terjun , hal itu dibenarkan oleh Budayawan Sugi Lanus. Saat kami hubungi pada Senin (19/2/2018), Sugi Lanus menjelaskan Singsing berarti air terjun, atau dalam masa Bali Kuno disebut “Yeh Mampeh” seperti disebutkan dalam prasasti kuno yang ada di desa-desa tua di Bali Utara seperti Desa Sidatapa, Tejakula, Lemukih, dan Les, jelasnya.

Oleh warga Desa Pakraman Samsaman Desa Angkah, air terjun Pangkung Sakti juga disebut “Air Terjung Singsing Samsaman”, mungkin karena akses masuknya melalui wilayah Desa Pakraman Samsaman.  


Potensi Desa Wisata

Melihat langsung potensi Desa Angkah, Kecamatan Selemadeg Barat sangat besar berpeluang menjadi salah satu Desa Wisata di Kabupaten Tabanan. Terkat dengan keberadaan Air Terjun Pangkung Sakti sebagai salah satu daya tarik wisata alam yang ada di Desa Angkah  hari itu juga saya meluncur ke rumah Bapak Perbekel Angkah Bapak I Wayan Supra Bawa. Sayang Bapak Wayan Supra Bawa sedang tidak dirumah, dan saya pun menghubungi Bapak Wayan via telepon.

Dijelaskan dalam tahun 2018 ini belum ada program fisik di jalur menuju Air Terjung Pangkung Sakti. “Pendataan memang sudah pernah dilakukan, tetapi tahun ini belum ada rencana penataan secara fisik terkait program desa,” terangnya.

Walaupun demikian kami yakin suatu saat Air Terjun Pangkung Sakti akan menjadi salah satu daya tarik wisata alam yang ada di Selemadeg Barat. Saat ini di Kabupaten Tabanan sudah ada 27 Desa Wisata, beberapa sudah mampu mendatangkan wisatawan cukup banyak seperti Desa Wisata Banjar Pinge Desa Baru Kecamatan Marga, Desa Wisata Nyambu Kecamatan Kediri, dan Desa Wisata Desa Belimbing Kecamatan Pupuan.

Potensi desa Wisata Di Tabanan perlu terus dikembangkan. Pembinaan juga terus dilakukan oleh Pemkab Tabanan dalam hal ini Dinas Pariwisata Daerah termasuk tahun 2018 ini juga sedang digodok Ranperda Desa Wisata oleh pihak DPRD Tabanan.

Terkait dengan Desa Wisata daya tarik yang bisa dikembangkan di Desa Angkah antara lain : Traking, wisata susur sungai tukad Balean, Kuliner, atraksi Petik Buah Lokal, Wisata Agro dan juga pendidikan seni dan budaya. Namun yang terpenting adalah visi dan misi pariwisata yang dikembangkan harus tegas dan jelas yaitu “Pariwisata yang berbasis pelestarian alam, budaya dan lingkungan”, artinya ; semakin alam dan budaya lokal itu kita lestarikan maka semakin memiliki kekhasan dan daya tarik bagi wisatwan.

Sama seperti konsep dan visi pengembangan pariwisata DTW Jatiluwih di Kecamatan Penebel Tabanan dengan potensi teras siring sawah dan budaya subaknya.  Semoga ! (MN).

 

Yutube Terkait :

https://www.youtube.com/watch?v=uLVD58yh25E&t=46s

__________________________

Penulis/Editor : Made Nurbawa (Tinggal di Tabanan)

Tabanan,  Sabtu, 17 Pebruari 2018.

Email : madenurb@yahoo.com

 

Tue, 2 Oct 2018 @19:45


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?