Selemadeg Barat-Pupuan Catatan Geriliya Para Pejuang

image

Setelah diproklamirkannya Kemerdekaan Indonesia oleh Sukarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 Jakarta, semangat perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan  terus berkobar di berbagai penjuru tanah air, tidak terkecuali di Bali.

Salah satu peristiwa penting dan genting terjadi pada tanggal 20 Nopember 1946 di Subak Kelaci  Desa Marga Tabanan yang dikenal dengan perang Puputan Margarana. Pagi-pagi Rabu/ Buda Umanis Dukut, puluhan pejuang  dibawah panji-panji pasukan Ciung Wanara bertempur habis-habisan (Puputan) melawan pasukan NICA di Subak Uma Kaang, Kelaci, Desa Marga, Tabanan Bali sehingga semua pejuang gugur sebagai kusuma bangsa termasuk pimpinan pejuang I Gusti Ngurah Rai .

Pertempuran sengit 20 Nopember 1946 di Desa Marga sepertinya menjadi klimaks dari puluhan pertempuran yang terjadi di tanah Bali termasuk di wilayah Tabanan.

Sebelum perang  Puputan di Desa Marga terjadi, di wilayah Tabanan tersebar puluhan peristiwa penting, dimana para pemuda pejuang harus berhadap-hadapan dengan tentara musuh, menghadang dan bertempur demi tegaknya kedaulatan NKRI. Kondisi wilayah dan geografis Tabanan saat itu cukup ideal untuk melakukan strategi perang geriliya.

Perang geriliya menjadi pilihan strategis, setelah terbentuknya Markas Besar Umum-Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia Sunda Kecil disingkat MBU DPRI SK  tanggal 16 April 1946 di Munduk Malang (kini Kec. Selemadeg Timur Tabanan) dimana Gusti Ngurah Rai selaku Ketua Dewan sekaligus Komandan Resimen TRI Sunda Kecil merubah strategi perang dari pola reguler menjadi perang wilayah yaitu perang yang melibatkan seluruh rakyat tanpa kecuali. Bahkan seluruh alam dan isinya seperti sungai-sungai, bukit-bukit, gunung, pohon dan batu-batu juga harus ikut berjuang melibatkan diri dalam perang tulis I Gst Bagus Meraku Tirtayasa dalam bukunya Bergeriliya bersama Ngurah Rai.

Semangat pembentukan DPRI SK akhirnya merambah ke berbagai pelosok dengan terbentuknya cabang-cabang dan anak ranting pemuda pejuang. Begitu juga di wilayah Kec. Selemadeg Barat dan Pupuan di wilayah barat Tabanan, di wilayah perbukitan dengan banyak tanaman kopi ini tercatat beberapa peristiwa pertempuran yang kini kisahnya mulai “samar”. 

Atas dukungan rakyat, di wilayah itu pernah terjadi pertempuran melibatkan tentara nasional dan pemuda pejuang. Beberapa berhasil kami catat, yaitu; pertama, pengadangan Laskar Rakyat Penataran pada bulan Juni 1946 di Banjar Bangal, waktu itu Gugur I Nengah Dagalan, Gagus Wayan Mudra, I Ketut Tjandra dan I Ketut Gredegan. Kedua, pertempuran kembali terjadi oleh satuan ALRI dengan Pemuda Pejuang pada tanggal 20 Juli 1946 di wilayah banjar Penataran, Gugur I Wayan Kerawa dan Nang Liwat dan Ketiga, pertempuran terjadi lagi di Desa Belatungan Kec. Pupuan pada tanggal 8 Agustus 1946 (disebelah utara Pura Puseh), pejuang luka-luka antara lain :  Kasan Leo (ALRI), I Made Kanca ( Pemuda Republik Indonesia), I Dewa Putu Renteg ( Pemuda Republik Indonesia) dan I Dewa Ketut Rai (ALRI). Peristiwa tersebut tercatat dalam dua munumen yang ada di Banjar Penataran, Desa Mundeh Kauh Selemadeg Barat dan satu lagi monumen di Desa Belatungan, Kec. Pupuan.

Dikisahkan setelah beberapa bulan bergeriliya di hutan-hutan, para pemuda pejuang yang selamat juga ikut bergabung dengan pasukan Ciung Wanara dan bertempur hingga gugur saat perang puputan di Subak Uma Kaang, Kelaci, Marga  tanggal 20 Nopember 1946.

Di masa itu, masih banyak lagi peristiwa pertempuran oleh para pejuang di wilayah/desa-desa lain di Tabanan. Sayang beberapa peristiwa kisahnya mulai samar, tak terdengar lagi, banyak generasi yang tidak mengetahui lagi, begitu juga para orang tua tidak mampu lagi bercerita kepada anak-anaknya, tidak lagi menjadi obrolan di leneng dan warung kopi, semua telah berganti dengan cerita-cerita parodi, hoax dan sejenisnya yang semakin menjauhkan generasi dari kemartabatan Idiologi NKRI.  

Tabanan adalah tanah perjuangan, semoga  peringatan Hari Puputan Margarana ke-71 tahun 2017 ini bisa menjadi momentum penting menyatukan tekad, melangkah bersama menuju mensejahterakan rakyat yang sesungguhnya. Rahayu. (mn).

 

By : I Made Nurbawa

Senin, 20 Nopember 2017 (Peringatan Hari Puputan Margarana)

Mon, 20 Nov 2017 @23:59


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 5+0+8

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?