Tumpek Landep dalam Ideologi Budaya Populer --''Nandurin Karang Awak''

image

Rerahinan Tumpek Landep (Sabtu 4/2/2017-Sanicara Keliwon Landep) merupakan lanjutan dari tahapan atau hakekat Rerahinan sebelumnya mulai dari hari suci Saraswati, Banyu Pinaruh, Soma Ribek, Sabuh Mas dan Pagarwesi. Saat Tumpek Landep kita memohon kepada Hyang Guru (sumber pengetahuan suci) agar pengetahuan/taksu yang turun/diturunkan oleh Sang Pencipta dalam diri kita (panugrahan) yang kita peroleh saat Hari Suci Saraswati (hari turunnya pengetahuan) dapat kita manfaatkan dengan baik.

 

Keberadaan pengetahuan/taksu dalam diri erat hubungannya dengan kehidupan kita “terdahulu” (karma) dan “pendahulu” (leluhur) yang bisa jadi masih banyak memiliki keterbatasan. Sehingga dalam kehidupan ini taksu dalam diri harus terus dipelihara dan ditajamkan  secara berkala. “Ibaratnya seperti handphone, battery nya harus di isi ulang (charge) secara berkala agar tetap bisa menyala atau difungsikan.”

Demikian juga dalam menjalankan pengetahuan, kita harus mendapat tuntunan dan bimbingan teknis secara berkala dari Hyang Guru sehingga selalu “tajam” menyatu dalam diri lahir dan bhatin (satwika/bijaksana).  Disamping itu melalui bimbingan Hyang Guru kita pun tidak akan coba-coba menyalah gunakan pengetahuan/taksu. Disebut “salah” jika kita tidak yakin lagi, tidak tahu sehingga tidak paham, atau menggunakan pengetahuan/taksu tidak pada jalurnya, dan seterusnya. Oleh karena itu melalui peringatan Hari Suci Tumpek Landep kita terus diingatkan untuk perawatan dan pemeliharaan pengetahuan/taksu dalam diri atas bimbingan Hyang Guru dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati. Dalam makna populer pengetahuan/taksu yang kita miliki disamping harus dipelihara dan rawat secara rutin, “taksu” pun harus “dilegalisir” (dipasupati) sehingga kita sah secara hukum menjalankannya. “Ibaratnya walau kita sudah bisa mengendarai kendaraan bermotor, namun wajib memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM), jika tidak bisa ditilang atau dihukum.”

Demikianlah kesadaran diatas wajib dipelihara dan diwariskan agar apa yang kita laksanakan benar-benar berangkat dari kesadaran taksu dalam diri masing-masing, bukan malah “mal praktek” melakoni taksu orang lain.  Misalnya, jika taksu kita dominan jadi pengusaha (waisya), jangan coba-coba jadi pejabat negara (ksatrya), kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita larut dalam praktek jual beli aset negara.  Benar seperti ungkapan banyak orang,”bahwa jika bekerja sesuai dengan taksu hasilnya pun akan “metaksu”, sebaliknya jika latah dan ikut-ikutan mengambil pekerjaan yang bukan taksu kita,  maka hasilnya pun tidak metaksu”-begitu kira-kira.

Jadi memantapkan dan menyadari taksu dalam diri bisa dimaknai sebagai langkah menajamkan “jati diri”, yaitu sifat dasar kelahiran dan kewajiban hidup kita.  “Mengenali, mengasah dan menajamkan jati diri dengan benar, suguh-sunguh dan berkelanjutan ini lah yang dimaksud oleh para “Wiku” dengan istilah“nandurin karang awak”.

Kini di era yang kita sebut modern, walau secara nyata yang nampak “diupacarai” saat Tumpek Landep adalah alat kerja, mobil atau peralatan dari besi lainnya,  itu hanya lah wujud “budaya” dari kesadaran diatas. Kesadaran yang diungkapkan dalam bahasa (sastra) simbul berupa banten (sarana/persembahan upacara). Tentu hal itu sah-sah saja, karena agama, keyakinan, atau aktivitas apapun yang kita lakukan di muka bumi ini akan benar dan berdampak benar jika berujung pada suasana yang penuh “keindahan”. Makna “keindahan” yang dimaksud tentu bukan sebatas karya seni, warna warni atau bentuk-bentuk bebantenan saja. “Keindahan” bisa bermakna kerukunan, kesehatan dan kesejahteraan”.

Jadi tidak apa-apa jika saat Tumpek Landep umat Hindu di Bali “seolah-olah” mengupacarai atau mantenin motor, mobil atau alat kerja lain yang umumnya dari besi, Itu hanya kemasannya. Yang terpenting adalah seberapa jauh kemudian hal itu dapat menciptakan kerukunan, kesehatan dan kesejahteraan hidup bagi semua mahluk sehingga menciptakan harmoni dalam wilayah Parahyangan, Palemahan dan Pawongan.  Sifat hubungan yang harmonis dari semua unsur diatas itulah kemudian di Bali disebut “Tri Hita Karana”.  Sehingga pada dasarnya hakekat perayaan hari suci Tumpek Landep sangat bertalian dengan banyak unsur kehidupan mikro dan makro yang ditandai dengan perayaan hari suci lainnya baik dalam putaran waktu seperti panca wara, sapta wara, dan wuku,  maupun tatanan yang lebih luas seperti, Rerahinan, Wewarigan dan Pawetonan.

Seperti kata para tetua dulu untuk mengetahui “taksu” dalam diri seseorang  bisa di telusuri dari pawetonan (hari kelahiran) kita. Selanjutnya “taksu” kelahiran seseorang tinggal dirawat dan ditingkatkan kuwalitasnya melalui proses saling Asah (belajar), Asuh (peduli), Asih (menyayangi)-tentunya akan lebih sempurna berdasarkan petunjuk dan tuntunan Guru Suci. Rahayu.

 

Oleh : I Made Nurbawa

(Sabtu 4/2/2017-Sanicara Keliwon Landep)


Opini ini juga dimuat di www.suaradewata.com pada tanggal 4 Peb 2017
http://suaradewata.com/read/2017/02/04/201702040004/Tumpek-Landep-dalam-Ideologi-Budaya-Populer-%E2%80%93-%E2%80%9CNandurin-Karang-Awak%E2%80%9D.html 

Sat, 4 Feb 2017 @21:17


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?