Kulkul dan Suara Burung Gagak

image

Tung...tung ...tung.. begitulah suara kulkul atau kentongan yang biasa kita dengar dari bale banjar Pakraman atau Pura di Bali. Kulkul adalah semacam alat bunyi-bunyian yang terbuat kayu khusus. Bahan dan ukuran kulkul akan membedakan “karakter” suara saat di pukul.

Sesuai maksud dan tujuannya , kulkul akan di pukul dengan cara dan jumlah yang berbeda. Karena memiliki fungsi publik, suara kulkul pun memiliki arti yang berbeda-beda sehingga suara kulkul mengandung beragam peraturan kehidupan yang telah disepakati oleh sebuah komunitas.

Di Bali, dalam ruang-ruang budaya Kulkul sebagai alat komunikasi tradisional sangat disakralkan. Di desa atau banjar pakraman saat mendengar suara kulkul warga pun paham respon atau tindakan apa yang harus dilakukan. Mendengar suara kulkul warga akan mengerti: peristiwa apa yang terjadi, pekerjaan apa yang akan dilakukan, tempat dan lokasi kegiatan, pakaian yang harus digunakan, bahan dan perabotan yang harus dibawa dan seterusnya. Suara kulkul menentukan komunitas. Dalam wilayah komunitas adat/pakraman di Bali kulkul jelas sebuah “awig-awig” (peraturan).

Memahami suara kulkul akan melatih kita peka dengan lingkungan dan alam sekitar. Sama seperti suara lolongan anjing, kokok ayam jago, suara burung gagak, burung hantu dan sebagainya. Warga biasanya memahaminya sebagai “pesan alam” yang wajib kita maknai dan hormati dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saat mendengar suara burung gagak di sekitar rumah, diyakini sebagai tanda kedukaan atau kematian. Demikian juga jika ada suara burung hantu, diyakini ada warga sekitar yang ngidam dan sebagainya.

Disebuah desa pakraman pernah ada simulasi untuk mengajak masyarakat memahami dan mengenali suara kulkul. Sebelum simulasi dilakukan terlebih dahulu ada kesepakatan/perarem tentang jenis dan suara kulkul. Suatu malam aparat desa mensimulasikan suara kentongan tanda kebakaran (sebelumnya warga tidak diberi tahukan jenis dan waktunya). Saat simulasi dilakukan, tung, tung, tung, tung (tanda kebakaran) warga pun berhamburan keluar rumah ada yang keluar membawa ember, ada yang membawa pentongan, bedil angin, pedang dan ada juga yang bawa temutik. Lucunya ada juga yang kepupungan keluar tanpa baju dan pakai BH (pakaian dalam).

Dalam kehidupan yang berbeda, memanfaatkan kulkul sebagai alat komunikasi juga sering digunakan. Misalnya “kulkul pondokan”, sering digunakan untuk memanggil ayam agar berkumpul saat jadwal makan. Lain lagi di kompleks perumahan, mendengar suara kulkul tung,tung,tung..artinya ada panggilan rasa lapar alias pedagang Me Ayam lewat.

Demikianlah, suara kulkul adalah kearifan tatanan budaya karena didalamnya ada kesepakatan. “Suara” menunjukan sebuah identitas diri, komunitas dan juga beragam peristiwa. Didalam kehidupan ini, “suara” yang mentradisi akhirnya membuat atau memunculkan bahasa simbul dalam beragam makna.

Soal maknai suara. hal sama juga di lakukan oleh supir-supir bus dengan beragaam suara klason, salah satu yang rame diperbincangkan di akhir tahun 2016 misalnya suara klason bus “Telolet”. Suara klakson ini diapresiasi luas sehingga melahirkan prase populer “Om telolet Om” yang menjadi viral di media sosial.

Kini di era modern yang serba instan, era perkembangan teknologi media yang menyajikan berjuta informasi, era demokrasi yang membuka ruang-ruang “suara” dan “hak bersuara”. Patut kita renungkan masihkah semua itu dilandasi oleh kepekaan terhadap suara alam sebagai tanda jaman? Masih kah suara alam itu penting bagi komunitas? Atau masihkan suara-suara itu menentramkan komunitas, alam dan kehidupan?

"Jangan salah belakangan ini ketika "suara" tak lagi dipahami maknanya, tak lagi dipahami maksud dan konteksnya, jika dimunculkan di ruang-ruang publik, bisa-bisa kita berstatus "terlapor".

Mudah-mudahan di awal tahun Januari 2017 ini, bulan yang bertepatan dengan hari suci (Rerahinan): Saraswati, Banyu Pinaruh, Soma Ribek, Sabuh Mas, Pagarwesi, dan Siwa Ratri, kita semakin peka terhadap suara alam ! Karena tidak semua "suara" adalah "suara". (mn).


*Photo dipijam dari internet.
Selasa, 24 Jan 2017 

Tue, 24 Jan 2017 @19:35


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?