''Cem''

image

Di kalangan warga Bali ada istilah “Cem”, sering digunakan untuk menggambarkan sebuah kondisi yang kotor, jorok, menjijikan, tidak pantas, tidak sesuai dengan aturan dan sebagainya.

Misalnya rumah yang banyak sampah karena jarang dibersihkan, rumah itu disebut “Cem”. Demikian juga jika ada orang menaruh bahan makanan atau peralatan dapur di dekat kamar mandi, pasti memberi kesan “Cem’.

Jika kita cermati, beragam hal/peristiwa bisa dianggap “Cem”, baik dalam bentuk suara, benda, gambar atau sebuah kondisi tertentu baik dalam diri maupun lingkungan. Pernah suatu hari ada seseorang yang ngomong “jaruh” dikeramaian, orang yang mendengar pun pekrimik dan menyebut omongan orang itu “Cem”. Begitu juga jika ada murid yang kuku jari-jarinya panjang dan kotor (hitam), orang tua segera menyuruh anak itu potong kuku karena “Cem”.

Begitulah rupa-rupa persepsi warga terhadap hal-hal yang dianggap tidak biasa, mengganggu, tidak sesuai dengan norma-norma setempat, melanggar tradisi, melanggar tata ruang dan sebagainya sehingga muncul istilah “Cem”.

Dulu menjelang Pilkada, disebuah desa pernah ada baliho kampanya calon yang terpasang di perempatan jalan, kondisinya nyerendeng (miring) dan tidak segera diperbaiki oleh pemiliknya, baliho itu pun disebut membuat pemandangan desa jadi “Cem”.

Dibalik istilah “Cem” sesungguhnya terdapat banyak peraturan yang patut dihormati, walau tidak tertulis. Melakukan hal-hal yang “Cem”, sama artinya melakukan pelanggaran terhadap peraturan hidup. Jika kita renungkan, istilah “Cem” patut kita apresiasi. Hal itu membuktikan adanya kepedulian (kontrol sosial) sesama warga atas kondisi tertentu yang dianggap tidak pantas.

Baru-baru ini disebuah desa sejumah warga menyampaikan protes melalui aparat desa. Gara-garanya ada seorang warga yang baru saja kost di desa itu belakangan sering menjemur pakaian (termasuk pakaian dalam) yang posisinya terlalu dekat dengan jalan raya. Warga yang lewat di jalur itu “resah” karena jemuran pakaian warga itu tidak nyaman dilihat. Warga meminta aparat desa agar segera melakukan penertiban secara “kekeluargaan”, agar jalur itu tidak “Cem”. Alasan warga cukup beragam mulai dari soal etika, tradisi hingga masalah “kesucian” desa.

Kejadian diatas membuktkan warga di desa itu tidak terlalu mudah terusik dengan siaran TV atau hoax di medsos yang banyak menampilkan riuhnya pemberitaan ormas ini dan ormas itu. Tetapi sebaliknya lebih cepat “terusik” dengan hal-hal yang dianggap “Cem” yang terjadi di ruang-ruang budaya lokal mereka. (*/mn).


Banyu Pinaruh, Minggu, 22/1/2017 

Mon, 23 Jan 2017 @00:07


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?