Ngambulin Kamen Uwek

image

Di sebuah desa sebut saja banjar Sunia Sari, tinggal satu keluarga suami istri lanjut usia. Rumahnya berada tak jauh dari Bale Banjar dengan luas pekarangan yang lumayan. Sehari-hari mereka bekerja sebagai petani.

Kurang lebih lima tahun terakhir, suasana rumah si Petani sering terlihat hening, sepi. Bangunan nampak klasik karena tertata sedemikian rupa dengan konsep tata ruang dan bangunan stil Bali yang sederhana. Bangunan-banguna tua itu antara lain : Merajan, Umah Meten, Bale Sakepat, Bale Tiang Sanga, Bale Dangin, Lumbung, Paon (Dapur), Aling-aling dan Angkul-angkul. Sama seperti beberapa rumah tetangga lainnya, rumah petani itu hanya ramai menjelang atau saat hari raya yang datang setiap 210 Hari Sekali.

Di halaman, pohon-pohon tumbuh menjulang memberi keteduhan seperti: Jepun, Kemerakan, Dapdap dan juga di bagian belakang (tebe) nampak subur satu lingseh Tiying Tali (bambu Tali). Angin berhembus sejuk mengalir diantara bangunan tua warisan leluhurnya.

Rumah Petani sering sepi karena tiga orang anak mereka tidak lagi tinggal di desa, dua orang anaknya sudah lama tinggal dan bekerja di rantau tanah seberang dan satu lagi yang bungsu masih kuliah di kota provinsi sambil nyambi jadi kuli.

Bangunan tua di rumah petani itu nampak agak kusam karena usia, juga di beberapa bagian dinding mengelupas rapuh menampakan merah batu bata, tetapi bangunan di rumah itu terasa sangat ramah dan selalu menyapa dengan “suara tanpa suara”, tentang kisah lama kehidupan para leluhur, juga tentang tatanan budaya yang hingga kini tetap menjadi roh keyakinan penghuninya.

Begitulah suasana di rumah petani itu, mengalir seiring waktu dalam hitungan Sapta Wara, Panca Wara dan Wuku. Diantaranya ada hari Suci “Rerahinan” yang diyakini sebagai aturan hidup makro dan mikro kosmos. Rerahinan dirayakan dalam ruang-ruang budaya sebagai bentuk penghormatan atas peraturan hidup yang diwajibkan oleh Sang Pencipta-Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Suatu hari di ujung tahun 2016, “Bale Tiang Sange” (bangunan bertiang sembilan) yang ada di rumah petani itu nampak miring. Di sudut kiri bangunan kayu usuk (iga-iga) juga patah dimakan rayap. Belasan gentengnya jatuh ke tanah sehingga atap kelihatan terbuka mengangga. Saat hujan air masuk kedalam sehingga tak nyaman untuk digunakan. Petani Suami Istri itu tidak segera memutuskan untuk memperbaiki karena masih menunggu anak-anaknya pulang untuk bermusyawarah.

Sudah menjadi tradisi di keluarga itu bahwa sebelum memperbaiki bangunan apapun di rumah harus didahului dengan musyawarah keluarga terutama dengan anak-anaknya dan keluarga dekatnya. Bukan masalah tenaga dan biaya semata, juga tetang “Pedewasaan” (hari baik).

Singkat cerita si Petani dan anak-anaknya berkumpul bersama di Bale Dangin untuk membahas renovasi Bale Saka Sanga yang mengalami kerusakan. Pada saat sangkep keluarga, si bungsu mengusulkan agar Bale Sake Sange itu dibongkar saja sehingga tidak perlu keluar biaya banyak untuk memperbaiki atau membangun yang baru. Lagi pula, menurut Si Bungsu, jika bangunan itu bongkar halaman akan lebih lapang. Uang yang ada bisa dibelikan mobil untuk operasional keluarga. Pendapat Si Bungsu tidak langsung mendapat tanggapan.  

Kemudian Bapak Petani itu berkata pelan, “nah adeng-adeng malu, lan pineh-pinehin, care sesonggane “sing dadi ngambulin kamen uwek”. Bale Tiang Sange itu adalah bangunan pusaka warisan leluhur sejak jaman Kumpi. Jika dibongkar berarti tatanan dan sikut umah bali tidak lengkap lagi. Apalagi bale itu saksi banyak peristiwa penting keluarga sejak jaman dulu. “Bale tua itu banyak memiliki kenangan dan nilai sejarah,”terang si bapak.

Suasana sangkep keluarga sempat hening sejenak. Kemudian si Sulung berpendapat ada baiknya kondisi Bale Tiyang Sange yang miring itu di cek secara seksama bersama Tukang bangunan yang juga kerabatnya sehingga bisa tercapai keputusan yang terbaik. Kalau bisa diperbaiki sebaiknya diperbaiki saja, jika tidak terpaksa di bongkar saja dulu agar tidak berbahaya karena kondisinya sudah miring. Jika dana sudah terkumpul baru dibangun lagi, terang Si Sulung.

Mendengar penjelasan orang tua dan kakak sulungnya, Si Bungsu manggut-manggut menyetujui keputusan sangkep keluarga pada hari itu. Setelah di telpon oleh si Sulung, kerabatnya PanDita (bapaknya Luh Dita) yang dikenal sebagai undagi datang kerumah. Si sulung segera menyampaikan maksud dan tujuan kepada PanDita. Mereka kemudian bergegas bersama-sama memeriksa Bale Tiang Sanga yang mengalami kerusakan. Tidak butuh waktu lama PanDita sudah bisa memberi masukan, bahwa Bale tua itu sebenarnya 80 persen masih bagus, hanya ada beberapa “lait” (pasak kayu) yang patah sehingga bangunan menjadi miring, karena miring membuat ada tekanan sehingga beberapa Iga-iga yang rapuh dimakan rayap lalu patah, genteng pun berjatuhan. Tidak sulit untuk memperbaiki dan juga tidak butuh biaya yang banyak, tinggal mengganti “lait” tiang utama Bale tua itu akan tegak kembali, terang PanDita serius.

Mendengar penjelasan PanDita, keluarga Petani itu merasa lega.  Sebelumnya sempat terpikirkan akan keluar dana yang banyak untuk merenovasi bale tua itu atau jika dibongkar akan menghilangkan filosofi atau tatanan hukum Agama “Umah Bali” yang disebut Asta Bumi. Karena “Umah” atau rumah Bali dibangun berdasarkan ketentuan “Panca Raksa” yaitu:

  1. Sri Raksa, timur laut adalah tempat atau lokasi Pemeraja.
  2. Guru Raksa, tenggara tempat bagunan suci Lebuh
  3. Durga Raksa, barat daya lokasi dapur
  4. Kala Raksa, barat laut lokasi bangunan suci penunggun karang, dan sumur
  5. Siwa Raksa ditengah pekarangan adalah lokasi Siwa Reka

“Jadi Panca Raksa adalah “jiwa” dari keseimbangan dan harmoni pemanfaatan dan pembagian ruang/wilayah. Itulah Gama Bali,”terang PanDita. Demikian juga tentang fungsi bangunan, antara lain :

  1. Pamerajan adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. 
  2. Umah Meten yaitu ruang yang biasanya dipakai tidur kapala keluarga sehingga posisinya harus cukup terhormat.
  3. Bale Sakepat, bale ini biasanya digunakan untuk tempat tidur anak anak atau anggota keluarga lain yang lebih muda.
  4. Bale tiang sanga biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu
  5. Bale Dangin biasanya dipakai untuk duduk-duduk sambil mejejahitan atau membuat sesuatu atau benda seni.
  6. Lumbung sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil kebun lainnya.
  7. Paon (Dapur) yaitu tempat memasak bagi keluarga.
  8. Angkul-angkul  berfungsi seperti candi bentar pada pura yaitu sebagai gapura jalan masuk.
  9. Aling-aling  ada dekat pintu masuk pekarangan berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus kedalam tetapi menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak langsung lurus ke dalam.

Demikianlah karang umah, bangunan, tata letak dan bentuk bangunan secara niskala merupakan terjemahan manifestasi Tuhan/ Ida Sang Hyang Widhi (Agama Hindu). Dan secara sekala “rumah” ibarat perwujudan tubuh dan organ manusia yang sempurna sehingga diyakini akan memberi ketentraman dan kesejahteraan. Sehingga membangun rumah atau merubah tata ruang tidak boleh sembarangan.

Itulah yang dimaksudkan sesonggan “sing dadi ngambulin kamen uwek” yaitu: “Ngambul” artinya pergi/ngambek, “kamen” artinya kain untuk sembahyang ke Pura, “uwek” artinya robek.  Artinya jangan sampai gara-gara kain yang kita miliki robek  lalu kita ngambek dan tidak jadi sembahyang ke Pura. Jika kain yang kita miliki robek tentunya kita harus berusaha memperbaiki atau menjahitnya. Supaya kain selalu siap pakai, maka kita juga harus selalu memelihara dan memeriksa jauh-jauh hari secara rutin sehingga selalu siap digunakan untuk sembahyang. Jika hanya gara-gara kamen uwek saja kita sudah ngambul atau tidak jadi sembahyang kata tetua kita bisa-bisa kita “Tulah”.  

Begitulah kenyataan dalam hidup, masalah terjadi justru dari hal-hal kecil, sama seperti Bale Tiang Sanga milik petani itu, hanya gara-gara “lait” (pasak) yang ukurannya sangat kecil hampir saja memunculkan masalah yang sangat besar. (mn).



____________________

Oleh : Made Nurbawa

Tabanan, 19 Jan 2017

Hari Petegtegan (Wraspati Wage Watugunung)

Thu, 19 Jan 2017 @23:04


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?