Ngidu di Bungut Paon

image

Di desa-desa di Bali kebiasaan “ngidu” di “bungut paon” kini semakin jarang dilakukan. Perubahan itu terjadi cukup cepat sejak munculnya kompor dengan bahan bakar Gas (Tabung LPG). Akibatnya alat/cara memasak masyarakat di desa banyak yang berubah. Awalnya menggunakan tungku kayu bakar lalu beralih menggunakan kompor gas. Sehingga tungku bukan lagi alat memasak utama, sehingga tempat “ngidu” otomatis tidak ada lagi.

“Ngidu” adalah aktivitas atau duduk-duduk menghangatkan tubuh dekat “bungut Paon” atau tungku perapian di dapur. “Ngidu” biasanya dilakukan pagi hari  karena udara terasa dingin. Di daerah pegunungan pada bulan-bulan tertentu “ngidu” sering juga dilakukan sore atau malam hari. Biasanya dilakukan sambil memasak air, nasi atau ngobrol santai sambil minum ngopi.

Ngomong-ngomong soal “ngidu” sebenarnya tidak hanya sebatas urusan menghangatkan tubuh di dekat tungku perapian tetapi juga mengandung banyak pengetahuan sosial budaya, spirit bahkan beragam peristiwa. Saat “ngidu” sesekali kita juga “nulukan saang” (memasukan kayu bakar ke tungku) agar nyala api tetap konstan dan tidak mengeluarkan asap yang banyak.

Jika kita mendengar cerita bara api (baleman) atau tungku tradisional maka identik dengan aktifitas warga memasak makanan di dapur, jadi cerita tunggku sangat dekat dengan urusan pangan. Ciri khas memasak dengan tungku biasanya dari atap dapur warga keluar kepulan asap halus bercampur bau masakan yang khas. Asap halus yang keluar (mekedus) dari dapur warga merupakan kode sosial dan budaya, terbukti dikalangan masyarakat Bali ada istilah “pang kuwala mekedus bungut paone” yang berarti “sekedar bisa masak” atau “sekedar bisa makan”. Ungkapan tersebut dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Bali sudah lama digunakan dan membudaya karena urusan pangan untuk diri sendiri maupun keluarga adalah hal mendasar dan menjadi kebutuhan sehari-hari. Karena urusan pangan sangat mendasar maka urusan pangan memiliki demensi sangat luas baik secara Idiologi, ekonomi, politik, sosial budaya maupun ketahanan keamanan di dalam komunitas bahkan negara.

Kembali ke soal “ngidu”, walau dilakukan dalam suasana santai saat “ngidu” kita juga perlu konsentrasi. Tangan kita harus aktif menggeser, menambah atau memasukan kayu bakar ke tungku (nulukan saang) atau meniup bara dengan “semprong” agar api menyala. Bahkan sering tangan kita menghitam karena menyentuh jelaga dandang, panci, payuk atau saat mengambil “sepit” (alat penjepit).

Nyala api dalam tungku harus dikendalikan setiap saat agar panas/besarnya api sesuai kebutuhan. Sehingga saat “ngidu” apalagi sambil memasak dengan tungku pasti lebih sulit memegang HP apalagi sambil menulis status di media sosial online, beda kalau memasak dengan kompor gas.

Demikian juga saat “nulukan saang”, kita seolah-olah diingatkan dengan kata “tuluk” yaitu istilah yang digunakan oleh komunitas Subak. Satu “Tuluk” sama dengan satu “kecoran” yaitu satuan pembagian air dari saluran air utama (Temuku) sebelum menuju pematang sawah. Besar kecilnya kecoran tergantung luasan sawah (ayahan) yang dihitung berdasarkan “ketekan” jari tangan. Sehingga di balik kata “Tuluk” mengandung makna keadilan, pemerataan, keberlanjutan dan kemakmuran. Dengan sendirinya sawah, air, padi, beras, dan tungku di dapur adalah komponen hidup yang berhubungan lurus. Dengan demikian memasak dengan tungku tradisional di desa-desa memiliki demensi yang sangat luas.

Tungku tidak saja untuk “ngidu” atau memasak, biasanya diatas tungku ada “langatan” yaitu semacam tempat atau rak yang terbuat dari anyaman bambu untuk menaruh barang atau mengawetkan daging, biji-bijian/benih atau kayu bahan untuk membuat alat pertanian seperti tangkai sabit atau cangkul. Ruang diatas tungku tersebut lumrah disebut “punapi”.

Istilah “punapi” mungkin berasal dari dua kata “puwun” dan “api” yang kira-kira berarti “panas/dipanaskan dengan api”. Karena diucapkan dengan cepat maka menjadi “punapi”. Misalnya “urutan megantung di punapi” yang berarti daging/sosis ada di atas tungku. Dalam bahasa Bali “punapi” juga berarti kata tanya. Misalnya “Punapi gatra?” yang berarti “apa kabar?”. “Punapi” bisa juga berarti “gemana/bagaimana”. Misalnya “yening arsa tiang jagi nyarengin”, punapi? Artinya “kalau berkenan saya akan menemani, bagaimana? Jadi, saat “ngidu di bungut paon” seolah-olah kita diajak atau diingatkan untuk selalu bertanya tentang sesuatu yaitu; dimana, dari mana dan mau kemana? Dalam kehidupan sosial budaya pertanyaan itu bisa mengarah  pada bentuk kepedulian atau perenungan. Karena ada pertanyaan pasti akan muncul jawaban. Sehingga lumrah saat duduk “ngidu” di bungut paon pasti akan terjadi “dialog terbatas” alias tanya jawab dengan anggota keluarga. Jangan salah banyak urusan rumah tangga, pakraman atau pekerjaan dibahas tuntas di bungut paon. Sehingga “paon” memiliki fungsi sosial yang sangat mendasar dalam menjaga kerukunan dan rasa kesatuan dan persatuan bangsa dan negara mulai dari lingkungan keluarga.

Menurut seorang warga, sebut saja namanya Putu Leong dari Penebel Tabanan, berkurangnya penggunaan tungku kayu bakar di desa-desa sepertinya berdampak langsung terjadinya banjir bandang saat musim hujan, karena ranting kayu  atau bambu kering yang ada di kebun atau perumahan penduduk yang dulunya dipunguti untuk kayu bakar kini tergeletak begitu saja. Saat hujan lebat atau banjir, berkubik-kubik ranting kayu dan bambu kering tersebut hanyut ke sungai atau selokan lalu menyumbat/membendung aliran air dalam volume besar. Ketika sumbatan air pecah terjadilah banjir bandang yang menyebabkan tanah di pinggir sungai atau selokan jebol atau longsor tergerus air bah. Menurut Leong di beberapa titik terbukti ada ruas jalan yang berada di pinggir parit atau sungai jebol saat hujan lebat. 

Sedangkan di desa lain seorang warga ada menyebut, berkurangnya penggunaan tungku kayu bakar di desa-desa menyebabkan nyamuk berkembang pesat di perumahan penduduk, karena tidak ada lagi kepulan asap di lingkungan rumah. Entahlah apakah hal itu ada hubungannya dengan mewabahnya gejala demam berdarah yang belakangan sering terjadi di desa-desa.  Pantaslah dulu masyarakat di desa-desa punya kebiasaan  membakar sampah atau sesuatu di dekat rumah atau membuat “tabunan” (bara api) agar keluar asap. Mungkin tujuannya untuk mengusir nyamuk, serangga atau binatang berbahaya lainnya agar tidak berada disekitar rumah.  

Begitulah alam selalu berada dalam dua sisi yang saling menyeimbangkan, setiap perubahan pasti akan menciptakan dampak yang menurut masing-masing orang bisa dirasakan positif dan negatif, padahal sesungguhnya semua adalah sesuatu yang alami (natural). Tinggal bagaimana kita bisa mengelola perubahan dengan kesadaran. Dalam kesadaran budaya tidak masalah melakukan perubahaan dalam pengelolaan alam sepanjang perubahan itu tidak dimaksudkan untuk menghilangkan atau bertentangan dengan spirit, unsur-unsur, atau sifat alami dari alam itu sendiri (panca maha bhuta). Mungkin itu yang dimaksud mengelola alam yang bernafaskan “Tri Hita Karana”.  

Menurut Leong lagi, tungku tradisional paling bagus diunakan untuk membuat lengis tandusan (nandusin) yaitu membuat minyak kelapa dengan cara tradisional. Di desa-desa tungku tradisional masih dipertahankan oleh warga karena sangat berguna saat “nandusin”. Sehingga tungku tradisional adalah komponen penting industri rumahan untuk membuat “lengis tandusan”. Usaha “lengis tandusan” tetap eksis salah satunya karena “lengis tandusan” sangat enak untuk campuran “sambel matah” yaitu sambel yang dibuat dari campuran bawang dan cabe mentah yang di campur dengan minyak kelapa tradisional, bukan minyak kelapa pabrikan. Makan nasi dengan “sambel matah” akan jauh terasa nikmat. (mn).

 

Oleh : Made Nurbawa

(Jumat, 6/1/2017)

Sat, 14 Jan 2017 @23:27


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 6+2+2

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?