Satu Kempul Agancet Bantal

image

Sekitar tahun 1940-1950 an di wilayah Tabanan Kauh Bali ada sitilah ‘Adar”. Dalam kamus bahasa Indonesia “Adar” artinya bermalam di rumah orang, betandang atau singgah.

Dari cerita-cerita yang berkembang “Adar” identik dengan Sekaa Joged Bumbung yang bertandang dan bermalam disebuah Desa hingga beberapa hari dalam rangka mengisi malam hiburan rakyat setelah musim panen. Konon para pemuda desa paling doyan jika ada “Adar” di desanya.

Selain Joged Bumbung pada siang harinya digelar “Tajen” (sambungan ayam) dan permainan judi seperti “mekeles” yaitu permainan dengan uang kepeng (pis bolog).

Tari Joged Bumbung pertama kali muncul di Bali utara sekitar tahun 1940 dan berkembang pesat ke seluruh wilayah di Bali. Berdasarkan cerita tetua “Adar” di Wilayah Tabanan Kauh sering dilakukan sekitar tahun 1946-1950 an.

Ada banyak cerita unik tentang “Adar”, salah satunya tradisi menggunakan “bantal” yaitu kue/jajan ketan yang dibungkus janur sebagai upah jasa. Diceritakan setelah selesai ngibing, si Pemuda bisa mengajak perempuan penari Joged pergi “kencan” keluar arena dengan imbalan jasa berupa kue Bantal.

Mengajak penari Joged keluar arena dibatasi oleh waktu, yang ditandai dengan suara kempul (nama alat gamelan). Satu kali kempul berbunyi si Pemuda wajib membayar dengan 1 gancet batal (satu ikat) kepada ketua sakaa. Jika dua kali suara kempul maka si pemuda wajib menyerahkan 2 ikat bantal kepada ketua sekaa joged. Begitu seterusnya, semakin banyak suara kempul, maka semakin banyak bantal yang harus diserahkan. Satu gancet bantal biasanya berisi 12 buah bantal.

Kue Bantal bisa diperoleh dengan cara membeli di pedagang yang ada di lokasi arena malam hiburan atau bisa juga membawa dari rumah.

Gelak tawa pun terjadi manakala ada seorang pemuda desa harus menyerahkan banyak gancet bantal. Artinya si pemuda telah mengajak perempuan penari joged tersebut dalam waktu cukup lama. Secara otomatis akan muncul persepsi bermacam-macam dari pemuda lainnya. Ngapain saja? dan seterusnya.

Begitulah masing-masing jaman memiliki keunikannya. Berkesnian adalah sesuatu yang saling bertalian. Soal tarian Joged Bumbung, era tahun 2000-an malah rame pentas atau diupah skaa “Joged Bumbung Porno”. Semakin ber-“Pornoaksi” semakin di sukai.

Begitulah, perkembangan dan fenomena tari pergaulan/hiburan Joged Bumbung, perlu kajian mendalam tentang hubungan perilaku berkesenian dengan perilaku sosial yang berkembang di masing-masing jaman. Sebagian memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang bertentangan dengan tradisi dan budaya, tetapi sebagian lagi menganggap hal itu sebagai “penanda” atau “penyelaras” perubahan jaman. 

Yang jelas rakyat jelata perlu hiburan, jangan salahkan rakyat mencari hiburannya sendiri, apalagi ditengah suara para pemimpin yang oleh sebagian rakyat dianggap tidak “menghibur” lagi.(MN).

 

 

 

Thu, 12 Jan 2017 @22:48


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 0+7+9

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?