Kelapa Daksina Jangan Lupa ``Tingkih``

image

Belakangan banyak kalangan pegiat pertanian dan agrobisnis di Bali mengajak (mempromosikan) untuk menanam “Kelapa Daksina”. Kelapa yang dimaksud adalah jenis kelapa dengan buah yang lebih kecil. Konon hanya butuh 3 tahun sudah mau berbuah. Ada yang menyebut kelapa ini kelapa Hibryda atau sebutan lain.

Ajakan menanam “Kelapa Daksina” belakangan begitu populer karena memang ditengah aktivitas keagamaan (Hindu) di Bali, masyarakat Hindu Bali kini semakin bergeliat dalam melaksanakan upacara dan aktivitas persembahyangan (Panca Yadnya). Misalnya dalam Hari Purnama banyak warga membutuhkan Daksina sebagai sarana upacara suci saat melakukan persembahyangan. Mungkin disebut Kelapa Daksina karena ukurannya kecil sehinga cocok untuk digunakan membuat Daksina.

Tentu Daksina tidak hanya berisi kelapa saja, masih ada bahan-bahan lain yang semuanya memiliki makna filosofi sendiri-sendiri seperti: alas bedogan, tapak dara, beras, porosan, pisang/tebu/kojong, buah kemiri/tingkih, pangi, gegantusan, pepeselan, bije ratus, benang tukelan, pipis bolong, sesari, sampyan payasan, sampyan pusung, dan canang sari. Daksina pun terdiri beberapa macam.

Jadi jika menanam “Kelapa Daksina” untuk bahan membuat “Daksina” berarti kita juga harus menanam atau melestarikan tanaman lainnya seperti : tebu, pisang, tingkih, padi dan pangi.

“Secara filosofi Daksina memiliki makna atau melambangkan Hyang Guru/Hyang Tunggal. Daksina adalah tapakan dari Hyang Widhi dalam berbagai manifestasinya. Daksina juga merupakan buah dari pada Yadnya”.

Menarik mengupas makna bahan-bahan Daksina, misalnya Tingkih, adalah simbul dari Purusa/Kejiwaan/Laki-laki, didalamnya berwarna putih adalah cerminan ketulusan. “Tingkih” adalah simbul atau pengingat bahwa dalam hidup ini kita harus mengenal garis kepurusaan atau lelintihan pratisentana. Dengan demikian kita akan mengenal siapa leluhur kita dan kawitan kita. Mengenal leluhur dan kawitan maka kita akan mengenal diri dan keluarga kita. Kita pun mengenal asal-usul kita, bumi atau tempat kita dilahirkan dan orang tua kita. Secara sederhana membuat Daksina kita akan selalu diingatkan untuk tidak lupa dengan leluhur dan kawitan kita, sesuatu yang hingga kini masih sangat diyakini oleh umat Hindu di Bali.

“Diyakini jika kita lupa dengan leluhur dan kawitan maka hidup kita akan banyak mengalami rintangan dan kesusahan”.

Mudah-mudahan dengan adanya ajakan menanam “Kelapa Daksina” bisa menjadi pintu dan tuntunan agar kita semakin menyadari, memahami dan meyakini hakekat hidup dalam pola hubungan lingkungan yang seimbang makro dan mikro kosmos. Di Bali dikenal dengan istilah “Tri Hita Karana”. (MN).

Tue, 20 Sep 2016 @22:42


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?