Minum Tuak di Cengapit, Menyapa Jiwa Mengasah Pengetahuan

image

Di Bali, Pohon “Jaka” atau pohon “Aren” memiliki manfaat budaya yang banyak dan turun temurun. Daun Jaka yang tua disebut “Ron” dan yang masih muda disebut “Ambu”. Ron biasa digunakan untuk membuat bahan upakara menjelang upacara kegamaan, seperti Sampian, Lamak, Tamyang, Kojong dan sebagainya. Sedangkan Ambu, lumrah digunakan untuk membuat “Penjor”, yaitu sebatang mambu yang dihiasi sedemikian rupa dan umumnya dibuat dan dipasang di dekat pemesunan (gerbang rumah) atau Merajan atau Pura menjelang Hari Raya Galungan atau perayaan hari suci lainnya. Ambu juga banyak digunakan untuk perlengkapan dan dekorasi saat upacara adat.

Pohon Jaka umumnya masih dibiarkan tumbuh dan lestari di abing (jurang) atau di pingir sungai dan pangkung (sungai kecil) di wilayah pedesaan, terutama di wilayah pegunungan seperti di wilayah Kabupaten Tabanan kecamatan Pupuan, Selemadeg, Penebel dan sebagainya. 

Manfaat sosial ekonomi dan budaya pohon Jaka sempat saya dengarkan langsung dari warga saat duduk-duduk ngobrol dengan warga sambil ngopi di salah satu “Cengapit” yang ada di Desa Sangketan Penebel Tabanan Bali, pada Selasa (5/6/2016).

“Cengapit” adalah sebuah warung kecil di desa, dilengkapi bangku kayu dan dipan mambu, sehingga enak untuk tempat duduk sambil rembahan atau “membuah jaka” (beluluk)-glalak gluluk.

Diceritakan oleh warga, pohon Jaka yang sudah tua juga menghasilkan “Duk” atau Ijuk.  Duk/Ijuk biasanya digunakan untuk atap bangunan suci, seperti “Sanggah” atau “Meru”, yaitu bangunan yang atapnya bertingkat-tingkat dan banyak terdapat di tempat suci atau Pura.

Dalam keyakinan masyarakat Hindu di Bali, Sanggah maupun Meru merupakan bangunan yang disucikan sekaligus simbul dari nilai-nilai dan tatananan yang menyentuh aspek “Parahyangan” (nilai-nilai/berketuhanan), “Palemahan” (wilayah dan sistem sosial) dan “Pawongan” (orang/penduduk) dan diyakini secara turun temurun.

Selain itu, manfaat pohon Jaka masih sangat banyak, misalnya “Lidi Ron”-nya  bisa digunakan untuk membuat “Bronjong” (semacam bubu, alat penangkap ikan di sungai). Sementara “Iip” (Lidi Ijuk) bisa untuk membuat Pales Pancing atau membuat “Icir” (semacam bubu yang ukurannya lebih kecil dari Bronjong).

Batang Jaka juga memiliki manfaat sosial dan budaya,  sari patinya bisa untuk membuat tepung Sagu. Sagu bisa untuk bahan pangan atau bahan membuat kue tradisional seperti “bubuh engol” dan sebagainya. Sementara kulit batang Jaka yang tua dan keras sangat bagus untuk “Patin Tambah” (tangkai cangkul), bisa juga untuk “Tengala” (alat untuk membajak sawah) dan alat pertanian lainnya. Pucuk batang Jaka yang masih muda atau “Empol”, juga sangat enak untuk sayur urab atau sayur kuah, lebih enak lagi dicampur “balung” atau ceker ayam dengan bumbu Bali tradisional-“Base Genep”.

Ternyata pohon Jaka sangat unik. Dalam siklus satu tahun, saat pohon Jaka sudah tidak tumbuh lagi batang daun muda (Ambu), pohon Jaka akan keluar buah yang di bali disebut “Beluluk”. Uniknya, Buah Jaka tumbuh dan berkembang lebih dulu dari bunganya. Dijelaskan, saat buah Jaka sudah cukup matang baru kemudian menyusul keluar batang bunga di sisi batang yang lain. “Jadi buah dan bunga Jaka batangnya berbeda”. Uniknya lagi, buah dan bunga jaka muncul pertama kali di bagian atas dan selanjutnya setiap tahun akan tumbuh lagi di bagian bawah pangkal batang buah dan bunga sebelumnya. Lama-kelamaan buah dan bunga Jaka akan terus tumbuh lagi berada dibawah posisi batang buah dan bunga sebelumnya, begitu seterusnya menurun dan semakin dekat dengan tanah. Jika batang buah dan bunga Jaka sudah rendah dan menyentuh tanah, berarti pohon Jaka sudah sangat tua, lalu mati. Tahap ini bisa mencapai puluhan tahun.

Berikutnya, buah Jaka bisa di olah atau dimasak untuk membuat “kolang-kaling”.  Kolang kaling sangat enak untuk campuran kolak atau es campur. Cara membuat “Kolang-Kaling” sudah dikenal luas oleh masyarakat di Bali seperti di desa Pupuan, Batungsel, Pujungan, Belimbing, Ekasari, Sangketan dan sebagainya.

Wayan Sudiada seorang warga dari Desa Belatungan Pupuan Tabanan Bali yang juga bekerja sebagai pendamping desa di wilayah Pupuan Tabanan, mengatakan didesanya juga banyak terdapat pohon Jaka. Kata dia,“cara membuat “Kolang-Kaling” cukup mudah, buah Jaka (Beluluk) yang masih mentah sebelumnya dilablab (direbus) atau dibakar. “Getah buah Jaka jika mengenai kulit bisa membuat rasa gatal yang amat sangat. Namun setelah buah Jaka di bakar atau di “lablab” getahnya akan hilang dan tidak lagi membuat gatal, terang Wayan Sudiada.

Setelah buah Jaka di rebus dalam waktu tertentu, kemudian didinginkan. Selajutnya buah Jaka di belah untuk mengambil dagingnya yang berwarna putih. Selanjutnya daging buah Jaka dirembus kembali sampai empuk, setelah cukup matang kemudian diangkat, kolang-kaling pun jadi dan siap dikonsumsi atau dijual, pungkasnya.

Salah satu yang terkenal dari pohon Jaka adalah “Tuak”. Tuak Jaka sangat manis dan konon cocok untuk mereka yang mengidap deabetes. Minum Tuak mirip seperti minum Bir seperti di cafe-cafe.

Saat ngobrol di Cengapit sore Selasa (5/6/2016), Pak Diva, Warga Desa Sangketan Penebel Tabanan yang sore itu baru saja datang dari kebun mengambil Tuak menerangkan, air Tuak  diambil dari batang bunga Jaka yang usianya sudah cukup tua. Caranya; batang bunga jaka dipukul-pukul dan diayun-ayun agar pori dan serat batang bunga terbuka dan melembek. Setelah bunga Jaka mulai mekar baru ujung batang bunga di potong dengan pisau tajam. Setelah beberapa hari akan keluar tetesan air Tuak. Setelah itu baru dipasang bumbung mambu atau “beruk” (batok kelapa) yang digantung sedemikian rupa sehingga air Tuak yang menetes tertampung semuanya di dalam bumbung atau “beruk” tersebut, terang Pak Diva.

Dijelaskan lagi oleh Pak Diva, proses menyadap Tuak dari pohon Jaka biasanya dimulai sore hari sekitar jam 18.00 Wita hingga pagi hari Pk. 06.00 Wita, atau sekitar 12 Jam. Sore harinya pemilik memasang bumbung mambu atau beruk di pohon Jaka yang siap diambil Tuaknya.  Keesokan harinya pagi-pagi pemilik kembali ke kebun untuk mengambil bumbung atau beruk yang sudah penuh dengan air Tuak.

Berdasarkan pengalaman, selama kurun waktu 12 jam bisa diperoleh sekitar 5-6 liter Tuak. Setelah Tuak disalin ke dalam wadah yang dibawa dari rumah, bumbung bambu atau beruk yang sudah kosong dipasang lagi di bawah “dangul”. Tuak yang diambil dari pohonya kemudian dibawa pulang untuk dijual atau dimasak untuk bahan baku membuat Gula Merah. Tuak segar enak diminum, rasanya manis dan Mak  Nyus.

Sore harinya sekitar pukul jam 17.00 atau 18.00 Wita, pemilik kembali datang kekebun untuk mengambil Tuak. Prosesnya sama seperti sebelumnya. Artinya dalam sehari dilakukan dua kali pengambilan Tuak. Jadi produksi Tuak dalam satu hari rata-rata 10-12 liter tergantung kondisi dan lokasi tanaman Jaka di kebun, papar Pak Diva.

Di desa Sangketan Panebel Tabanan, Tuak segar per liter laku dijual Rp. 6.000,-. Jika dimasak untuk gula merah, per lima liter bisa diperoleh 1,5 Kg gula aren. Harga gula merah rata-rata Rp. 12.000,- per Kg kadang naing turun tergantung permintaan pasar.

Kata Pak Diva lagi, jika Tuak tidak dimasak maka 1 hingga 2 hari akan berubah asam menjadi Cuka, terangnya. Cuka juga memiliki manfaat untuk aneka olahan pangan dan minuman. Salah satunya Cuka digunakan untuk campuran “Rujak Tibah” atau mengkudu. Rujak Timbah sering dibuat dan dibawa oleh petani saat musim “Manyi” (Panen) di “Carik” atau di Sawah.

Untuk membuat gula merah cukup sederhana, Tuak terlebih dahulu dilablab (direbus) dan diaduk-aduk dalam kurun waktu tertentu. Tuak akan mengental dan berwarna merah. Setelah cukup kental kemudian diangkat dan didinginkan. Setelah itu dituangkan kedalam cetakan yang terbuat dari tempurung kelapa. Setelah membeku, gula merah pun jadi dan siap dipasarkan.

Tuak yang dimasak bisa dibuat menjadi beberapa jenis makanan atau minuman. Seperti “Gula Tali” dan “Juruh”.  Gula Tali adalah gula yang sangat lengket yang dibuat dengan teknik khusus. Gula Tali  bisa dijual untuk camilan, dijual dengan tangkai mambu seperti permen atau gula-gula.

Beda lagi dengan “Juruh”. “Juruh” adalah gula merah setengah jadi dan masih agak cair,  warnanya merah percis seperti madu. “Juruh” sering juga dibuat oleh warga di desa-desa karena rasanya enak apalagi digunakan saat makan singkong rebus. Ada juga yang cukup special, Tuak digunakan untuk merebus singkong, hasilnya singkong akan terasa lebih enak (nyangluh).

Saking banyaknya manfaat pohon Jaka, maka wajar hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat Bali. Disamping memiliki fungsi sosial ekonomi dan budaya, pohon Jaka juga cocok ditanam untuk menahan struktur tanah yang ada dikemiringan tertentu agar tidak mudah longsor.  “Bayangkan kalau tidak ada pohon Jaka, bisa-bisa masyarakat Bali Hindu kebingungan mencari Ambu untuk membuat “Bakang-Bakang Penjor”.   Anehnya lagi konon warga jarang dengan sengaja menanam bibit Jaka. Biasanya Jaka tumbuh dan tersebar secara alami oleh aliran air atau binatang liar seperti “Lubak” (Luwak) atau hewan lainnya.

Menurut Wayan Sudiada, di Desa Ekasari Kecamatan Pupuan Tabanan Bali, banyak warga yang masih eksis membuat Gula Merah dan Kolang-Kaling. Bahkan 1 pohon Jaka berani dikontrak oleh pengusaha Gula Merah dan Kolang-Kaling senilai Rp. 11 juta per pohonnya. Belakangan Gula Merah juga diolah menjadi “Gula Semut”. Permintaan Gula Semut sangat tinggi dan laris manis. Dengan demikian pohon Jaka bisa dikatakan sebagai pohon budidaya yang bernilai ekonomis tinggi. Jika sudah mati pun pohon Jaka masih memiliki manfaat, yaitu untuk “Sang” (Kayu Bakar).

Bukti lain betapa merakyatnya pohon Jaka di kalangan masyarakat Bali, yaitu adanya istilah “Membuah Jaka” (Beluluk) yang artinya “glalak-gluluk”, seperti yang saya lakukan bersama warga saat ngobrol di Cengapit.  Suksme. (MN).


__________________________

Oleh : Made Nurbawa

( Tabanan, Buda Paing Landep, Rabu 6 Juli 2016 /Idul Fitri 1 Syawal 14 37 Hijriah)

Wed, 6 Jul 2016 @19:53


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?