The Story of Coffee from Tabanan Bali -''Wedang Kopi''

image

Minum kopi sudah menjadi kebiasaan banyak orang, tapi banyak pula yang belum paham tentang Kopi, khususnya jenis kopi Rubusta. Saya tertarik merenunginya bersama komunitas petani kopi di desa yang ada di kawasan lingkar Pura Luhur Pucak Batu Gaing di Tabanan Kauhan, Pupuan.

Ketika kita berkunjung atau bertamu kita sering dibuatkan “wedang” oleh tuan rumah, sudah umum dibuatkan secangkir kopi. Wedang pun identik dengan minuman kopi. Padahal secara budaya kata “wedang” tidak selalu berarti minum kopi. Ada juga wedang jahe dan sebagainya. Jika di kupas lebih jauh maka dari minum kopi kita akan banyak belajar tentang tata bahasa bali (sor singgih) tentang minuman dalam budaya bahasa.

Dikalangan masyarakat biasa, minuman kopi dibuat dengan sederhana. Biji kopi yang sudah matang dikeringkan, dikupas, di sanggrai, lalu di tumbuk halus menjadi bubuk kopi. Bubuk Kopi kemudian diseduh dengan air panas dengan campuran gula sesuai selera. Jika dicermati, sering minum kopi terkait dengan acara “dialog”, baik dialog dengan diri sendiri (monolog) atau saat pertemuan dengan banyak orang atau sangkepan. Dari sini, jika kita cermati lebih dalam, maka minum kopi pun indentik dengan urusan komunikasi baik dalam diri maupun dengan orang lain.

Jika dilihat dari bahan dan cara membuatnya, minuman kopi masih menyisakan pertanyaan yaitu: apakah kopi termasuk minuman herbal? Karena disamping bahannya dari bahan alami, minuman kopi juga dibuat dengan racikan dan proses ekstrak khusus. Dari beberapa literatur minum kopi juga ada manfaatnya, baik  positif maupun negatif. Dua kutub ini tentu sudah lumrah dalam spirit budaya bali karena ada keyakinan “rwa bhineda”, tak ada istilah larangan minum kopi, yang dilarang adalah ketagihan dan berlebihan.

Wacana kopi pun tak kunjung berkesudahan, manakala minuman kopi memasuki dunia industri, sebut saja industri pariwisata. Kualitas dan cita rasa kopi pun semakin ketat dan terstandarisasi, mulai dari proses tanam, pengolahan hingga pemasaran. Ada banyak produk olah minuman kopi dengan beraga cita rasa, urusan mutu/kualitas kopi,  pasar pun merespon ketat, dari sini kita akan banyak belajar tentang ilmu pemasaran dan kultur lintas bangsa. Sehingga bagi pengusaha kopi, wajib hukumnya untuk mengetahuai prosesnya dari hulu ke hilir, dari tingkat komunitas petani hingga industri. Dan harus diakui masih ada kesenjangan pengetahuan tentang mutu kopi antara petani dengan pelaku industri.

Belakangan di Tabanan wacana kopi juga melembaga dalam berbagai urusan, mulai dari kelompok tani, subak abian, koperasi, hingga BUMdes. Belakangan yang menarik soal sinergisitas peran BUMdes dengan petani dan kelompok tani. Ada wacana bahwa nantinya BUMdes hanya sebagai fasilitator saja, pemasaran akan di tangani oleh BUMda. “Tentu hal ini bukanlah ujung dari pemasaran kopi”. Ada banyak kreteria dan kebutuhan pasar yang harus dibenahi, mulai dari peran serta petani, budidaya, pengolahan hingga pemasaran. Sehingga skema hubungan antara BUMdes dan BUMda dalam urusan pemasaran kopi Tabanan saat ini masih berstatus “tanda tanya besar”, apakah nantinya BUMda sanggup memfasilitasi semua urusan ekonomi mikro rakyat di desa? Belum lagi soal aturan dan penganggaran. Ternyata dari kopi kita pun akan diajak turut memikirkan kebijakan/regulasi di negeri ini. Sehingga dana desa yang akan banyak mengucur mulai tahun 2016 ini benar-benar terkelola produktif, sekaligus berdampak terjadinya revolusi mental. Mengutip pendapat seorang budayawan, penting “amutering turur pinahayu” (memutar/membalik pemikiran dengan benar) dalam urusan ini.

Yang menarik soal sejarah tanaman Kopi. Dari berbagai sumber konon bibit kopi masuk ke Indonesia pada tahun 1696, dibawa oleh Belanda (VOC). Pada abad ke-18 baru bisa berkembang dengan baik dibeberapa pulau di Indonesia khususnya jawa. Tanah Hindia Belanda (Indonesia) pun berkembang sebagai kawasan penananaman kopi terluas di luar “tanah leluhur”-nya di Arab dan Ethiopia sana. Dari informasi ini seorang pemerhati kopi pun terusik, jika kopi identik dengan minuman seperti sekarang yaitu; minuman budaya, minuman penghilang rasa ngantuk atau rasa suntuk atau minuman prestise lainnya, lalu bagaimana sebelum tanaman kopi berproduksi di Indonesia abad ke-18 silam? Boleh dikatakan sebelum abad ke-18 tanaman kopi belum ada di Indonesia termasuk Bali, lalu minuman jenis apakah yang di minum oleh masyarakat untuk kebutuhan diatas?

Bisa jadi minuman kopi sudah dikenal sejak jaman kerajaan nusantara walau saat itu masih didatangkan dari luar, atau malah ada minuman herbal lain yang berkasiat sama denga kopi. Sama seperti minum teh, kini tidak selalu dibuat dari daun teh, belakangan banyak juga teh dibuat dari daun jati, bunga kering dan tumbuhan berkasiat lainnya. Dari urusan kopi, kita pun akan ditantang untuk belajar sejarah (MN).

 

Tabanan Kauhan, 1 Jan 2016.

Sat, 2 Jan 2016 @17:22


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?