Eling Hidup di Tanah Gempa, Peringatan 200 Tahun Gejer Bali

image

Suasana Puri Kanginan Singaraja nampak hening. Bangunan-bangunan tua seperti tersenyum menyambut hendak bicara. Di sisi kiri pasaban utama, nampak photo-photo tua terpajang didinding penuh wibawa. Tak lama satu persatu orang datang lalu duduk di bale pasaban. Suasana hati pun mulai terbawa pada peristiwa pilu 200 tahun silam.

Sore minggu 22 Nop 2015, diskusi dengan tema ''200 tahun Gejer Bali''di Puri Kanginan Singaraja seperti pengeling,  bahwa gempabumi sangat berpotensi merubah peta sejarah, menghentikan banyak harapan dan cita-cita, merubah peta kekuasaan, mata pencaharian penduduk, bahkan merubah tatanan budaya di Bali utara-Singaraja khususnya dan Bali pada umumnya.

“Peringatan 200 tahun Gejer Bali” adalah momentum penting untuk mengenang kembali jejak sejarah pulau Dewata. Tonggak 200 tahun di ambil dari kisah turun temurun masyarakat dan catatan penting dalam Babab Buleleng atas peristiwa pilu gempabumi dan banjir hebat yang melanda singaraja pada tahun 1815 silam. Kini tidak banyak yang mengetahui dan hirau, bahwa sesungguhnya penduduk Bali hidup di tanah Gempa.

Atas prakarsa penglingsir Puri Kanginan Singaraja (AA. N Sentanu), peristiwa kelam gempabumi (gejer) di bali utara tahun 1817 diperingati dengan menggelar diskusi sederhana, bertempat di Puri Kanginan Singaraja dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat.

Diceritakan oleh AA. N Sentanu, tanggal 10-12 april 1815 gunung Tambora di Sumbawa meletus hebat, menelan ribuan korban jiwa. Dampaknya mengglobal, dunia mengalami perubahan iklim ekstrim berbulan-bulan.  Bagaimana dengan di Bali?

Tujuh bulan setelah letusan Tambora, anomali cuaca masih terasa di Bali. Malam Budha Umanis Kulantir, Rabu 22 Nopember 1815, di kawasan Bali utara dan tengah turun hujan lebat selama tiga hari tak henti-henti. Pada hari yang sama gempabumi  besar mengguncang bali utara selam 45 detik. Tanah pengunungan di sekitar Danau Buyan dan Tamblingan longsor, tanah dan pohon membendung laju air di alur sungai di pegunungan, lalu membentuk kantong-kantong air dan pecah menjadi banjir bandang.  Banjir kemudian menyapu Ibu kota Buleleng Singaraja disertai lumpur, batu dan pepohonan.  Bencana ini mengakibatkan 10.523 korban jiwa. Pejabat penting kerajaan turut menjadi korban. Peta sejarah Bali utara pun berubah. Peristiwa gempabumi di Bali utara tesebut dicatat dalam babad buleleng dengan sebutan “Gejer Bali”. Peritiwa itu pun dicatat oleh orang Belanda Wichmann pada tahun 1819.

Dari pemaparan pembicara I Made Kris Adi Astra, banyak peserta diskusi baru memahami kalau di bawah kota Singaraja tepat berada “Patahan belakang busur kepulauan yang merupakan pembangkit gempabumi di laut bali”- menjadikan Buleleleng beresiko terhadap gempabumi dan tsunami.

Sejarah  kegempaan bali mencatat pernah terjadi gempa bumi mematikan pada tahun 1817, 1917, 1976 dan 1979. Dijelaskan gempabumi tersebut juga berpengaruh dengan tekanan magma pada gunung-gunung di jalur ini. Bali dan Nusa Tenggara adalah gugusan pulau yang berada dalam jalur cincin api.

Secara turun temurun gempabumi memberi pelajaran bagi warga, sebagian mempercayai semua itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Warga secara turun temurun terus mengakrabi bencana, beradaptasi dan merekamnya dalam budaya. Salah satunya melalui arsitektur bagunan dan keyakinan, tersirat dalam tonggak-tonggak etika dan ragam upacara.

Saya pun diingatkan dengan kisah Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte, karena cuaca buruk akibat letusan Tambora Ia kalah perang di Waterloo, Eropa (juni 1815). Juga sebuah buku berjudul Krakatoa yang ditulis Simon Winchester, ditulis tentang dasyatnya letusan gunung Krakatau (27 Agustus 1883) membuat peta politik dunia berubah. Bahkan letusan gunung Krakatau konon menginspirasi terjadinya gerak perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari cengkraman bangsa asing/penjajah, beberapa tahun berikutnya.

Gempa bumi, gunung meletus dan Tusnami terbukti  membuat kesadaran manusia berubah, meyakinkan bahwa kuasa dan ambisi manusia tak abadi selamanya.  Semua bisa berubah sesetika jika sudah kehendak Yang Maha Kuasa, semua akan kembali seimbang  di waktunya, 200 tahun Gejer Bali, mungkinkah akan terulang? (MN).

 

_____________________________

Singaraja, Minggu 22 Nopember 2015.

Oleh Made Nurbawa

Inspirasi diskusi peringatan 200 tahun Gejer Bali di Puri Kanginan Singaraja.

Mon, 23 Nov 2015 @22:20


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?