JALAN USAK DAN USAK ULIAN JALAN

image

Kemarin sore Pekak Renes main ke rumah. Tumben lumayan rapi, bercelana panjang berkemeja putih, mirib ala Jokowi.

Sambil ngopi Ia bercerita kangin kauh, mulai dari krisis ekonomi sampai urusan “jalan benyah” alias jalan usak.

Menurut Pekak Renes, ada dua hal yang harus kita sikapi bersama yaitu “Jalan usak” dan “Usak ulian jalan”, keduanya sama-sama serius,”terang Pekak Renes.

“Kok bise keto nang?” tanya tiang penasaran.

Sekarang banyak warga mengeluh karena di beberapa desa jalan banyak yang berlobang alias aspalnya compang camping. Sok beker motor dan mobil enggal benyah, ibu-ibu ane beling jeg jejeh ngelewatin. Ngangkut hasil bumi pun jadi susah, padahal pemerintah sedang mendorong pembangunan berbasis pertanian.

Tapi jangan salah, banyak juga “usak ulian jalan”, kawasan hijau dan lahan pertanian produktif terus di intip investor, siap-siap fungsinya beralih, ada untuk roko, kavlingan, cafe dan sebagainya.  

Pekak Renes bilang, sekarang karena jalan, penghormatan budaya dan kearifan lokal juga berubah, pemahaman warga terhadap fungsi jalan pun berubah, kawasan tenget tidak lagi di hormati, misalnya “Catus Pata” hanya dianggap perempatan alis pertemuan empat arah lalu lintas kendaraan-secara horisontal. Padahal catus pata bukan sekedar perempatan lalu lintas kendaraan, tetapi sebuah tempat suci dan disucikan karena erat kaitannya dengan pengetahuan dan keyakinan turun temurun terhadap keseimbangan dan pola hubungan horisontal-vertikal. “Terbukti di catus pata biasanya dibangun pelinggih atau patung yang mencerminkan simbul keyakinan budaya/agama.”

Lebih jauh, karena keberadaan jalan, tata ruang pun berubah. Banyak terjadi agar badan jalan lebar, lurus dan mulus, sikut Catus Pata bergeser dan digeser. Bahkan di banyak tempat jalan yang dibangun lebar, nyaman dan mulus akhirnya merusak tananan irigasi tradisional-subak. "Bahkan ada juga di sebuah desa setelah jalan dekat rumahnya di perlebar dan di betonisasi, kocap krama di sekitarnya kesisipan atau pemalian."

Terus, benarkah yang berlalu dan melintas di jalan hanya kendaraan? Kalau jalan hanya untuk lalu lintas kendaran, mengapa orang bali melaksanakan pecaruan dan upacara tawur kesange di catus pata (pempatan jalan). Dan masih banyak kita jumpai jika ada kecelakaan keluarga korban melaksanakan “upacara nebusin” di pempatan atau di tepi jalan TKP. Bahkan ditempat-tempat tertentu banyak pemakai jalan membunyikan klason untuk “nyelang margi”.

“Berarti bagi orang bali yang masih meyakini, jalan bukan hanya tempat lalu lintas mobil/kendaran saja, tetapi diyakini juga sebagai "margi" unsur alam lain,”pungkas Pekak Renes.

Lucunya lagi di sebuah desa di Tabanan kauhan, sejak jalan di desa itu di aspal, kini banyak orang tua “jengah”, karena anaknya keruang-keruing minta dibelikan motor baru Cross X. Padahal harga jual kopi lagi anjlok.

Lalu apa yang terjadi? Konon setelah dibelikan motor, anaknya malah tidak suka berkendaraan di jalan aspal mulus, tapi lebih suka menerobos jalan setapak di tegalan atau kebun kopi penduduk.  Kedis, alu, lubak, punglor, landak telah melaib entah kemana. Kawasan tenget mereka lintasi begitu saja, nabrak punyan kopi tetangga, ampah dan campah, gruang grueng ngilut gas motor.

Jadi “jalan usak” bukan sekedar jalan berlubang, tetapi “jalan usak” adalah jalan yang berdampak terhadap terjadinya kerusakan dan/atau ketidak keseimbangan alam/kehidupan.

“Ohh, keto nang?” sela tiang.

Beh, kalau dipikir-pikir “jalan usak” dan “usak ulian jalan” keduanya sama-sama berisiko, membuat tatanan budaya dan krama bali pati kaplug-akeh gawe kurang pangan alias kriris keyakinan dan tatanan. Kalau begitu kebijakan publik idial seperti apakah yang harus ditempuh?(*)

(Tbn, 4/10/2015)

Mon, 5 Oct 2015 @23:43


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?