SECANGKIR KOPI LEMBAH WATUKARU

image

Disamping beras, komuditas yang belakangan mulai populer di Tabanan adalah kopi. Dua hari ini 24 s.d 25 Sept 2015, saya mencoba menyusuri beberapa desa penghasil kopi di Tabanan. Konon Kopi asal Tabanan memiliki cita rasa yang khas dan lumayan bersaing di pasar dunia.

Pertama kali kopi di bawa ke Indonesia oleh belanda sekitar tahun 1696, yaitu jenis kopi Arabika. Kopi jenis Arabika kemudian ditanam di bebeberapa wilayah di Pulau Jawa dan selajutnya disebar ke beberapa pulau lain di Indonesia. Karena kopi Arabika terserang penyakit kemudian Belanda menganti dengan kopi jenis baru, yaitu kopi Robusta, (AEKI,2007).

Di wilayah tabanan banyak di tanam kopi jenis Robusta yang diperkirakan di tanamam secara besar-besaran setelah pemerintahan kolonila Belanda berkuasa pada tahun 1906. Kopi Robusta dapat tumbuh baik di lahan dengan ketinggian lebih dari 400 meter di atas permukaan laut seperti di wilayah Penebel, Pupuan dan Selemadeg. Sedangkan di Bali tanamam kopi diperkirakan sudah ditanam oleh belanda sekitar abad ke-19.  

Dari data literatur dapat disimpulkan bahwa kopi sebagai komuditas dagang di Tabanan tidak lepas dari jejak dagang pemerintah kolonial Belanda di jamannya. Sejarah kopi tabanan juga terekam dari sejarah perkembangan beberapa desa di “tabanan kauhan” seperti desa-desa yang ada di wilayah Selemadeg Barat dan Pupuan.

Pada awal abad ke-20 di kedua wilayah itu Belanda banyak membangun akses jalan baru untuk membuka lahan, menanam dan mengontrol produksi kopi rakyat. Pada kurun waktu 1925-1935, pemeritah kolonial Belanda banyak memperlebar dan memperbaiki jalan lama untuk memudahkan akses transportasi truk atau mobil dan menghubungkan wilayah tabanan menuju wilayah denbukit -Buleleng.

“Saya meyakini pelabuhan buleleleng adalah salah satu pelabuhan international pertama di bali untuk perdagangan kopi”.

Menyusuri jejak sejarah kopi di tabanan ternyata tidak hanya memberi pengetahuan tentang komuditas kopi. Sejarah kopi juga banyak memberi informasi tentang spirit dan  aliansi budaya subak abian lintas desa di tabanan. Hampir semua desa penghasil kopi yang ada di wilayah Kecamatan Penebel, Selemadeg dan Pupuan berada dalam satu keyakinan dan penghormatan tatanan terhadap keberadaan dan kesucian Gunung Watukaru.

Dalam banyak upacara, bangunan suci dan tradisi turun temurun masyarakat petani-subak abian di tabanan, meyakini Pura Sad Khayangan Luhur Watukaru sebagai lingga cala mendudukui arah barat linggih Ida Bathara Mahadewa, berada di wilayah Gunung Watukaru. “Gunung Watukaru merupakan simbul kesuburan air, tumbuhan dan udara (Tri Chanda)”.

Seiring dimulainya geliat pariwisata bali sejak tahun 1920 hingga sekarang, maka kini komuditas kopi pun mulai menjadi komuditas pedukung pariwisata yang penting. Geliat pariwisata Tabanan kini tidak bisa lepas dari minuman kopi seperti di obyek wisata Jatiluwih, Tanah Lot dan sebagainya.

Patut disyukuri, “Kopi Tabanan” kini hadir sebagai simbul identitas wilayah yang mulai diperhitungkan. Saat saya mendiskusikan hal ini dengan seorang penjual dan praktisi minuman kopi di Tanah Lot (jumat 25 Sept 2015), terbersit kesimpulan dalam hati bahwa; Kopi Tabanan sesungguhnya adalah “Kopi Lembah Watukaru”-branding kopi jagat Tabanan (*).



Oleh : Made Nurbawa (Jumat, 25/9/2015)










Sat, 26 Sep 2015 @00:32


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?