Profil dan Sejarah Desa Belatungan Tabanan

image

Profil dan Sejarah Desa Belatungan

Di Kumpulkan Oleh : Made Nurbawa


Secara administratif Desa Belatungan berada di wilayak Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan Provinsi Bali. Desa Belatungan terletak kurang lebih 20 Km ke arah barat-selatan dari Kota Kecamatan Pupuan atau waktu tempuh dengan kendaraan lebih kurang 35 menit. Untuk menuju Desa Belatungan bisa juga ditempuh dari arah selatan, tepatnya melalui Desa Surabrata (yang berada di Jalur Denpasar-Gilimanuk) ke utara kurang lebih 17 Km, seharah menuju jalur utama Pura Luhur Pucak Bukit Rangda.


Sejarah Desa Belatungan, menurut beberapa sumber dan tokoh-tokoh masyarakat yang bisa dipercaya awal mula Desa Belatungan berupa hutan belantara. Sekitar tahun 1917 di Kabupaten Tabanan terjadi kemarau panjang sehingga banyak penduduk kelaparan. Banyak penduduk Tabanan saat itu mencari sumber kehidupan baru salah satunya Desa Samsam (Kec. Kerambitan Tabanan).


Pada tahun 1920 sekitar 50 KK dari Desa Samsam dipimpin oleh Dewa Putu Dana berangkat menuju arah barat dengan berjalan kaki lebih kurang selama seminggu. Setiba di lokasi yang dituju rombongan mulai membuat perkemahan. Kemudian pimpinan rombongan mengajak anggota bersama-sama menebang kayu di tempat yang berbukit-bukit. Di wilayah ini banyak bukit (munduk) dengan pohon yang besar dan lebat. Setelah dibabat secukupnya kemudian dibagikan kepada anggota untuk dijadikan lahan perkebunan. Pada tahap awal rombongan banyak mengalami kesulitan dan hambatan, berkat kesungguhan dan keuletan mereka akhirnya semua hambatan bisa diatasi.


Sehubungan keberhasilan kepala rombongan memimpin warganya di daerah pemukiman baru, kemudian kepala rombongan di pilih sebagai Perbekel (Kepala Desa) yang pertama. Sedangkan disebut nama “Belatungan” konon ditempat ini dulu banyak dijumpai tanaman “belatung/kaktus” (sumber profil desa belatungan, 2003). Namun demikian nama desa Belatungan saat ini masih terus ditelusuri lebih dalam dari berbagai sumber.


Batas Desa Belatungan :

Di Utara    : Desa Bongancina-Kecamatan Busung Biu Kab. Buleleleng

Di Selatan : Desa Mundeh Kecamatan Selemadeg Barat- Kab. Tabanan

Di Timur   : Desa Munduk Temu Kecamatan Pupuan-Kab. Tabanan

Di Barat    : Hutan Negara/ Hutan Lindung berbatasan dengan

                 Kabupaten Jembrana


Desa Belatungan berada di punggung bukit dengan ketinggiaan antara (700-1000 m dpl) diapit dua sungai yaitu; di timur Sungai Yeh Aye dan di barat Sungai Yeh Leh. Luas wilayah Desa Belatungan sekitar 991.888 Ha dengan jumlah penduduk kurang lebih 2.565 jiwa yang terdiri dari perempuan 1.264 jiwa dan Laki 1.301 jiwa (Tahun 2003). Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani perkebunan khususnya kopi jenis Robusta. Hasil kebun lainnya berupa kelapa, kakao, cengkeh, buah-buahan, dan hasil bumi lainnya.


Desa Belatungan terdiri dari 6 (enam) banjar dinas yaitu :

1.       1). Banjar Dinas Munduk Ngandang

2.       2). Banjar Dinas Dajan Ceking

3.       3). Banjar Dinas Delod Ceking

4.       4).  Banjar Dinas Munduk Gawang

5.       5). Banjar Dinas Antap Gawang

6.       6). Banjar Dinas Yeh Sibuh


Banjar Munduk Ngandang, Banjar Dajan Ceking, Banjar Delod Ceking, dan Banjar Munduk Gawang tergabung dalam wilayah desa adat/pakraman Belatungan.  Sedangkan Banjar Antap Gawang dan Banjar Yeh Sibuh masing-masing merupakan desa adat/pakraman yang berdiri sendiri. Kemungkinan faktor jarak dan tofografi wilayah yang jauh dan berbukit menyebabkan warga dan tokoh desa di masa lalu menyepakati wilayah Desa Belatungan dikembangkan menjadi 3 (tiga) desa adat/pakraman.


Desa Belatungan memiliki fasilitas umum dan keagamaan yaitu; 9 Pura Khayangan, 1 Puskesmas, 3 sekolah yaitu; SDN 1 dan SDN 2 Belatungan dan SMPN 3 Pupuan, 1 lapangan umum, 1 balai serba guna, dan Kantor Kepala Desa.   Lembaga kemasyarakatan yang ada di Desa Belatungan juga cukup banyak yaitu :

1). Lembaga Desa Adat Belatungan

2). Lembaga Banjara Adat

3). PKK Desa Belatungan

4). Subak Abian- “Bwana Manik Sari”-Belatungan

5). Karang Taruna Belatungan

6). LPD Belatungan

Dimasing-masing banjar juga ada beberapa lembaga/kelompok seperti : Sekaa santi, sekaa angklung, sekaa gong, kelompok ukir, Kelompok Wanita Tani/KWT, Koperasi, PKK banjar dinas dan sebagainya.


Secara filosofis Desa Belatungan berarti : B=Budhi, E=Ening, L=Langgeng, A=Anggen, T=Tuntunan, U=Utama, N=Ngungsi, G=Genah, A=Amertha, N=Nirmala jika disambungkan menjadi : “Budhi ening langgeng anggen tuntunan utama ngungsi genah amertha nirmala.”   Desa Belatungan memiliki lambang dengan simbul yang memiliki makna sebagai berikut :

1.  Prisai Segi Lima :        

Segala kehidupan dalam masyarakata di jiwai olej jiwa dan makna  dari

Pancasila secara Murni dan Konsekwen.

2.  Dua Buah Gunung :

Melambangkan desa pegununangan yang berarti sifat kegotong- 

royongan yang tetap terpengaruh oleh dua unsur siang dan

malam namun membawa kesuburan.

3.  Tiga Macam Senjata:

a.     Bambu runcing adalah modal sederhana, semangat baja yang

        dimiliki oleh masyarakat Desa Belatungan dalam mengabdikan diri

        pada setiap Perjuangan bangsa Indonesia merebut

        Kemerdekaan tanpa pamrih.

b.     Keris senjata pusaka adalah suatu unsur yang digunakan oleh

        masyarakat dalam mempertahankan Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

c.      Kelewang adalah senajat tajam yang dibuat dan dipakai di

        Desa Belatungan di jaman Perang Kemerdekaan sama dengan

        senjata Swadesi.

4.  Peci dan Lencana Merah Putih :

Sebagai pelindung dalam melaksanakan tugas perjuangan serta

sebagai pegangan terhadap masyarakat.

5.  Satria Purusa Mawang Jaya :

Keberanian yang tulus dan iklas tiada tergoyahkan dalam

memperoleh suatu kesuksesan untuk mencapai masyarakat Adil dan

Makmur.


Demikian profil dan sejarah singkat Desa Belatungan semoga dapat memberi petunjuk pendahuluan untuk selanjutnya dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Sekian.



________________________________________________________________________________


Menelusuri Jejak Sejarah Desa Belatungan

Di Kumpulkan Oleh : Made Nurbawa


A.    Pendahuluan

Mulai Juli tahun 2012 hingga sekarang saya mencoba mengumpulkan berbagai informasi tentang sejarah Desa Belatungan. Saya tertarik menelusuri mengapa desa ini bernama; “Belatungan”?

Penelitian ini saya lakukan dengan swadaya dan atas inisiatif sendiri. Pemahaman dan pengetahuan sejarah dan asal-usul desa sangat penting bagi generasi mendatang. Sehingga anak cucu kita kelak tetap terkenang dan mencintai desa nya sendiri sebagai bagian penting dari sejarah hidupnya. Saya meyakini, melupakan asal-usul adalah salah satu bencana budaya bagi orang Bali.

Catatan penelusuran sejarah Desa Belatungan hingga hari ini bukanlah sesuatu yang final, namun berdasarkan cerita-cerita masyarakat dan tetua saya mencoba mengrekonstruksi sebuah kesadaran dan pemahaman melalui pendekatan “budaya bahasa” yang berkembang saat itu. Studi literatur pun dilakukan untuk mencari perbandingan antara satu bahasa dengan bahasa lainnya. Selanjutnya semua masih bisa di koreksi dan didiskusikan untuk penyempurnaannya. Saran dan masukan semua pihak khususnya warga desa belatungan sangat diharapkan.

 

B.     Beberapa Catatan Penting

Awal abad 20 an, Tabanan masih merupakan wilayah kerajaan, pemerintahan kerjaan Tabanan bertahan hingga tahun 1906. Masuknya invasi Belanda ke Pusat Kerjaan Tabanan menyebabkan fungsi pemerintahan kerajaan melemah. Pada tahun 28 September 1906 tentara Belanda menyerang Pusat Kota Tabanan (Singasana), dan esok harinya 29 September 1906 tentara Belanda berhasil menduduki pusat kerajaan yang pada saat itu dimpimpin oleh Raja I Gusti Ngurah Agung. Pemerintahan Kerjaan Tabanan yang berpusat di Puri Agung Tabanan (sekitar Gedung Mario dan pohon beringin sekarang) akhirnya diduduki oleh Belanda. Praktis sejak tanggal 29 September 1906 pemerintahan kerajaan Tabanan berakhir dan selanjutnya berada dalam kendali pemerintahan kolonial Belanda.

Masa transisi dari pemerintahan kerajaan Tabanan ke Pemerintahan Kolonial diyakini sangat berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat Tabanan termasuk masyarakat Desa Samsam saat itu. Musim kering yang berkepanjangan dan meningkatnya jumlah penduduk, menyebabkan kehidupan semakin sulit. Kondisi tersebut memunculkan pemikiran dikalangan tokoh dan warga Desa Samsam untuk memutuskan mencari penghidupan ke wilayah barat dengan membuka hutan di perbuktian.

Seperti disebutkan bahwa pada tahun 1920-an 50 KK warga Desa Samsam berangkat menuju barat (Desa Belatungan Sekarang). Pada awalnya pembukaan hutan oleh 50 KK di wilayah Desa Belatungan di lakukan di lereng barat (DAS Yeh Leh) dan lereng timur (DAS Yeh Aye). Dari beberapa sumber yang bisa dipercaya dua tahun setelah mengawali membuka kawasan hutan, pada tahun 1922 sudah mulai di huni secara permanen. Beberapa warga mulai mengajak anak dan saudaranya untuk menetap di Desa Belatungan yang sebelumnya masih berada di Desa Samsam. Mungkin saja dua tahun pertama warga masih harus bolak-balik ke Desa Samsam untuk urusan adat dan agama, dan masih harus menunggu tumbuhnya tanaman pangan yang ditanam saat awal kedatangan seperti jagung, ketela, ubi dan padi gaga.

Sementara sumber lain mencatat bawah, sekitar awal abad 20-an (1915-1930), Pemerintah Belanda membuka perkebunan di daerah Pulukan hingga Desa Asah Duren, waktu itu untuk tanaman kelapa (Kopera). Belanda menempatkan beberapa penduduk/KK di wilayah ini dengan model pendekatan transmigrasi dengan pola bagi hasil melibatkan perusahaan milik pemerintah Belanda saat itu. “Saya menduga pembukaan perkebunan dengan model program Transmigrasi di wilayah Pulukan dan Asah Duren saat itu telah memberi inspirasi bagi warga Tabanan (Desa Samsam) untuk membuka lahan perkebunan baru-dengan pola Trasmigrasi Swakarsa. Apalagi Pulukan dan Asah Duren lokasinya relatif berdekatan dengan Desa Belatungan.”

Pertanyaan pokok yang masih harus dijawab adalah, mengapa desa ini bernama Desa Belatungan. Benarkah dulu banyak terdapat pohon Belatung/Kaktus? Padahal hutan di wilayah barat Tabanan termasuk vegetasi hutan tropis. Sementara Belatung/Kaktus biasanya tumbuh pada lahan yang panas.

Dari beberapa sumber jika dikaitkan dengan budaya bahasa dan/atau berdasarkan potensi wilayah saat itu; kata “Belatungan” bisa jadi merupakan prokem atau penggabungan dari dua kata yaitu; “Bet” (lebat) dan “Lateng” (tanaman yang bisa membuat kulit gatal)”, “Bet-Lateng-an” berarti kawasan yang banyak tumbuh tanaman Lateng. Memang desa Belatungan termasuk kawasan bayang-bayang hujan. Di wilayah ini curah hujan cukup tinggi dan berkabut. Hingga saat ini diwilayah desa Belatungan masih dan mudah kita jumpai tanamam Lateng dengan berbagai jenis, misalnya : Lateng Siap, Lateng Ngiu, Lateng Kidang dan sebagainya. Dengan curah hujan yang tinggi dengan vegetasi hutan tropis tanaman Lateng tumbuh dengan subur.

Saya memiliki pemikiran bawah asal mula nama “Belatungan” berasal dari kata “”Bet Latengan” dipercepat menjadi “Belatengan”. Asumsi ini mengingat nama-nama desa atau tempat yang ada disekitar desa Belatungan memiliki nama yang erat dengan peristiwa atau potensi alam setempat. Misalnya   Bongan Cina, Munduk Ngandang, Munduk Temu, Antap Gawang, Pangkung Jali, Mangis Sari, Yuh Gading, Mundeh, Pengedan, Pancoran dan sebagainya. Lalu mengapa Belatungan disebut-sebut berasal dari kata “Belatung/kaktus”, padahal vegetasi Belatung/Kaktus umumnya berada di lahan kering? Atau bisa jadi memang ada tanaman belatung/kaktus? Masih harus dikaji dan diteliti dari berbagai sumber dan peristiwa penting yang mendukungnya.

Petunjuk lain tentang nama “Belatungan” juga saya kumpulkan dari warga Desa Belatungan dan Warga di luar desa. Dari cerita yang saya kumpulkan ada beberapa petunjuk bahwa; tahun 1920, sebelum 50 KK Warga Samsam membuka hutan di Desa Belatungan sekarang, nama wilayah hutan ini jauh sebelumnya (waktu jaman Kerajaan) sudah bernama “Alas Belatungan”. Hal ini juga diperkuat dengan adanya cerita yang menyebutkan: “Pidan tua-tua nak ngalasin ke alas Belatungan” artinya: “Dulu warga Samsam membuka hutan ke Belatungan”, dari kalimat ini dapat diasumsikan bawah jauh sebelum dibuka menjadi desa, hutan pedalaman di wilayah barat daya kota Tabanan ini sudah bernama “Alas Belatungan”. Alas berarti hutan lembat. Sedangkan ‘Belatungan” berasal dari kata “Belat” (batas wilayah). Belat atau batas yang dimaksud yaitu; batas antara wilayah kerajaan Tabanan, Buleleng dan Jembrana. Memang Desa Belatungan letaknya berbatasan dengan batas wilayah Buleleng (di utara) dan Jembrana (di barat). Kisah ini serupa dengan filosofi, fungsi dan sejarah desa adat Belatung (Penebel) yang ada diwilayah perbatasan Kecamatan Penebel-Marga yang diapit oleh Yeh Marga dan Yeh Panahan (Sumber Kadek Junita, Senganan 2014).

Dari banyak literatur, memang sejak jaman dulu pihak pemerintahan kerajaan Tabanan sangat ketat mengawasi/mengontrol daerah perbatasan. Apalagi di daerah perbatasan tersebut terdapat sungai. Sungai adalah sumber air yang sangat penting bagi masyarakat karena sangat berpengaruh terhadap urat nadi perekonomian kerajaan Tabanan khususnya sektor pertanian. Hal ini cukup masuk akal karena jaman itu sektor agraris sangat menentukan dalam hal ketahanan pangan, sosial, budaya dan pertahanan kerajaan. Jika demikian maka cukup masuk akal bawah jauh sebelumnya pihak kerajaan sudah menamai hutan di barat daya Tabanan ini sebagai wilayah “Alas Belat” (hutan pembatas) kemudian lambat laun disebut “Alas Belatungan”, yaitu hutan perbatasan yang diapit oleh dua sungai yaitu; Yeh Leh di Barat dan Yeh Aya di timur. Jika demikian maka sejak awal dibuka pada tahun 1920 nama Desa Belatungan diambil dari nama Alas Belatungan.

Jika nama Belatungan ini kemudian dihubungkan dengan nama tanaman “Belatung” (sejenis Katus) cukup logis juga. Beberapa jejak sejarah kerajaan Tabanan memang banyak menggunakan atau menamai wilayah “batas air”  dengan nama tanaman sefesifik/khusus, misalnya: Tanaman Pala (Jebegarum) kemudian berkembang bernama subak pala atau Yeh Pala yang terletak dekat di Kota Tabanan. Ada juga Tanaman “Jambe atau Pinang atau Buah”. Diwilayah dekat Tabanan kota ada desa/wilayah yang hingga kini bernama Jambe, Buahan atau Dauh Pala. Bisa jadi tanamam Belatung (jika benar) juga digunakan sebagai “tanamam penanda” yang ada di wilayah alas Belatungan. Pendekatan budaya ini saya gunakan untuk menelusuri jejak nama Desa Belatungan mengingat di Tabanan ini banyak ditemukan pola tata ruang wilayah yang nyaris serupa.

Wilayah alas Belatungan dijaman dulu disamping sebagai wilayah “belat” atau Perbatasan, bisa jadi wilayah ini juga dikenal sebagai kawasan berburu di jaman kerajaan. Berdasarkan cerita para tetua konon pada awal-awal dibukanya Alas Belatungan masih banyak ada Binatang buas seperti Macan. Berdasarkan catatan Belanda, Macan Bali (Macan loreng mirib seperti Macan Jawa) diyatakan punah pada tahun 1942.  Walaupun tidak ada warga yang diceritakan diterkam macam sejak awal Desa Belatungan di bangun, hal itu diyakini karena ada cerita tentang ditemukannya jejak dan kotorannya.

Selanjutnya dicatat dalam beberapa sumber bahwa; pada tahun 1920 an pemerintah Belanda mulai merasakan wilayah Tabanan mengalami kekeringan. Hal ini sesuai seperti kondisi yang disebutkan dalam buku profil desa tentang sejarah Desa Belatungan bahwa karena adanya bencana kekeringan 50 Warga Desa Samsam berusaha mencari kehidupan baru ke arah barat.  Berdasarkan jumlah KK, hubungan kekerabatan, pembangian lahan dan sebaran yang merata dari ujung utara ke selatan, sepertinya keberangkatan 50 KK warga Desa Samsam untuk membuka lahan hutan sudah didahului dengan perencanaan dan koordinasi yang cukup matang baik di internal warga Desa Samsam sendiri maupun dengan pihak pemerintahan saat itu. Beberapa tokoh-tokoh Desa Samsam saat itu kemungkinan sudah memiliki hubungan dan akses yang baik sejak lama dengan pemimpin-pemimpin Tabanan sejak jaman pemerintahan kerajaan maupun jaman pemerintahan Belanda. Begitu juga terhadap lahan yang hendak di rabas, beberapa tokoh di Desa Samsam sudah mengenal dengan baik karena wilayah hutan Belatungan saat itu sudah termasuk hutan lindung kerajaan Tabanan. Kemudian paska pemerintahan kerajaan pengawasannya di lanjutkan oleh pemerintah Belanda.  

Mulusnya rencana pembukaan lahan hutan oleh 50 KK warga Desa Samsam   saat itu sepertinya juga didukung oleh perkembangan tingginya permintaan komuditas kopra dan kopi saat itu, kemungkinan pemerintaan Belanda memang sudah memiliki perencanaan pengembangan lahan perkebunan selain di Pulukan. Juga pembangunan jalan baru untuk menghubungkan antara wilayah Tabanan barat (Selemadeg) dengan Buleleng (Bongancina) yang jaraknya relatif dekat lebih kurang 7 Km saja.

Masih dalam kurun waktu tahun 1920-1930 an, pemerintah Belanda di Tabanan saat itu memperoleh laporan bawah di beberapa wilayah pegunungan mulai ada kerusakan hutan dan penggundulan. Pemerintah Belanda pun mulai membuat peraturan ketat tentang berdagangan kayu. Penyelamatan Hutan dilakukan oleh pihak Belanda dengan pembibitan dan penanaman  kembali. Hutan-hutan di data ulang oleh pihak Belanda dengan menunjuk Hoekstra yaitu seorang pejabat Belanda yang ditugaskan membuat laporan sekitar tahun 1930-an. 

Pendataan dimulai soal batas wilayah. Dilaporkan batas wilayah Tabanan tidak beda jauh dengan wilayah pada masa kerjaaan, Hoekstra dalam laporannya menyebutkan batas barat wilayah Tabanan adalah Yeh Leh yang berbatasan dengan Jembrana. Untuk penyelamatan hutan dan sumber daya air pemerintah Belanda kemudian mengeluarkan SK Residen tahun 1930 dengan aturan pelaksanaanya sebagai perlindungan hutan (untuk Bali dan Lombok).

Dengan keluarnya SK Residen Belanda tersebut pihak Belanda otomatis melakukan pengawasan ketat terhadap keberadaan hutan di wilayah Tabanan termasuk hutan yang ada di DAS Yeh Leh. Hal ini kemudian hutan yang telah di ditebang oleh warga Desa Belatungan saat itu harus ditutup kembali. Belanda hanya mengijinkan pembukaan perkebunan di bagian lereng timur saja (DAS Yeh Aye), hal ini terkait juga dari teknis budidaya kopi dan tanaman keras lainya, bahwa lahan di lereng timur memperoleh penyinaran matahari lebih baik dari lereng barat sehingga produksinya lebih baik. Sementara di bagian barat (lereng DAS Yeh Leh) sebagain besar harus dikembalikan menjadi kawasan hutan lindung. Hingga kini di kalangan warga Desa Belatungan jejak sejarah dan peta wailayah “hutan tutupan” ini masih sangat lekat dan terceritakan secara turun temurun. Dari perlakuan pemerintah Belanda terhadap warga Belatungan saat itu menandakan bahwa pihak Belanda mengetahui dengan jelas proses pembukaan lahan baru oleh 50 KK di wilayah Belatungan. Namun tetap melakukan pengaturan karena ada pertimbangan pelestarian sumber daya air dan hutan, khususnya DAS Yeh Leh di lereng bagian barat.

Ketatnya pengawasan hutan oleh pihak Belanda menyebabakan Belanda harus sering melakukan kontrol melibatkan polisi hutannya. Masa pada tahun 1920 -1930 an warga Desa Belatungan benar-benar disibukan dengan berbagai program dan perubahan kebijakan Belanda. Pada periode ini pihak Belanda melakukan pencatatan dengan ketat terhadap warga yang berada di wilayah atau sekitar hutan tutupan DAS Yeh Leh-khususnya di Desa Belatungan. Termasuk pedataan dan penataan ulang terhadap areal perkebunan yang telah di garap oleh warga.

Dari sumber yang bisa dipercaya di Desa Samsam (pada 2013), konon di masa lalu pihak Belanda pernah mengharuskan kepada Warga yang memperoleh bagian tanah di desa Belatungan untuk wajib ikut membangun jalan di seluruh Bali. Masing-masing KK mengeluarkan satu orang tenaga dewasa dan dilakukan secara bergantian dan bergiliran. Banyaknya ketentuan Belanda yang harus dipenuhi saat itu muncul istilah “Bek Itungan” (banyak peraturan atau urusan) ada juga istilah “Belat Itungan” ( dibatasi oleh kebutusan, aturan, atau perintah  baru sehingga masyarakat tidak fokus bekerja di kebun bahkan harus pergi jauh bekerja membuat jalan). Pertanyaaanya kemudian manakan terlebih dahulu muncul istilah “Bek Itungan” atau “Belat Itungan” dari pada kata “Belatungan”. Dari konstruksi bahasa, sepertinya kata Belatungan sudah ada lebih dulu. Umumnya sebuah nama sering “dipelesetkan” karena ada peristiwa penting dan ekstrim. Belatungan menjadi “Bek Itungan” atau “Belat Itungan”. 

Namun peristiwa lain yang patut menjadi perhatian adalah pembuatan jalan oleh Belanda dengan melibatkan warga dan tawanan (begal) saat itu baik yang dari Bali maupun dari Lombok. Untuk urusan pekebunan dan pengawasan hutan pihak Belanda terus membangun jalan dan memperbaiki jalan hingga ke Desa Belatungan. Jalan menjadi penting untuk melakukan pengawasan hutan. Saat itu belanda sudah menggunakan kendaraan berupa Jeep Weles berlanjut hingga meletusnya perang kemerdekaan (NICA, 1945-1948) untuk melakukan kontrol ke utara dari arah Surabrata. Terbukti pada KM 3 ada tanjakan yang berliku yang hingga kini disebut “Leter S” (huruf S)   yaitu jalan yang menanjak dan berliku seperti “huruf S”.

Diperkirakan perjalanan kendaraan petugas/polisi hutan Belanda saat itu terhenti di jalur sulit, pembangunan jalan pun tertunda karena mengalami kesulitan teknis karena medan yang berat dan curam. Perjalanan harus dengan jalan kaki. Jalur yang curam itu diperkirakan berada di punggung bukit (tepatnya di tanjakan curam 300 M selatan sekolah saat ini). Memang punggung bukit di titik ini sangat curam dan sempit. Dalam bahasa lokal disebut “Ceking”. Ceking berarti sempit. Hal itu terbukti hingga kini ada banjar Dajan Ceking dan ada Banjar Delod Ceking. Dulu katanya di jalur ini ada pohon besar dengan akar-akarnya yang lebat menjuntai sehingga sulit untuk dibangun jalan untuk kendaraan.

Dicatat dan munculnya kata “Ceking” dalam laporan dan Peta Belanda (tahun 1930-1940 an) memberi petunjuk bawah ada peristiwa yang lumayan ekstrim dan populer di tempat itu.  Dan sangat identik dengan peristiwa pembuatan jalan atau medan yang sulit dilalui. Kemudian dijadikan pertanda alam oleh warga desa Belatungan dan juga oleh pihak Belanda. Konon wilayah Desa Belatungan dulu termasuk wilayah hutan yang menjadi satu dengan hutan tutupan Bading Kayu hingga Selabih. Saat Desa Belatungan masih berupa hutan, konon jalur ini sesekali dilintasi oleh warga yang ada di utara yaitu dari wilayah Desa Bongan Cina atau Busung Biu menuju keselatan atau sebaliknya dari selatan menuju keutara untuk mencari dan mengangkut hasil bumi. Tentu semakin ramai ketika Desa Belatungan telah dibuka menjadi desa.

Belum disebutnya kata Belatungan pada peta resmi Belanda saat itu bisa jadi karena kepentingan politik pemerintah Belanda untuk tidak buru-buru mengakui Belatungan sebagai “desa resmi” mengingat berdekatan dengan kawasan hutan lindung dan desa yang relatif baru (penduduknya masih sedikit). Dari peristiwa ini ada kesan pemerintah Belanda memiliki dualisme kepentingan antara mempertahankan hutan lindung dan kepentingan memperoleh hasil perkebunan berupa kopi dan kopra yang saat itu sangat mahal. Kemungkinan juga pemerintahan Belanda saat itu telah memetakan bahwa letak Desa Belatungan di antara Desa Mundeh-Selemadeg   dan Bongancina-Busung Biu bisa menjadi desa penghubung serupa dengan jalur Pulukan dan Dapdap Putih, kemudian dibuka lahan baru yang kini menjadi Desa Asah Duren dan Desa Manggis Sari.

Walaupun Desa Belatungan belum muncul pada peta Belanda tahun 1930-an, namun 50 KK yang mengawali membuka Desa Belatungan dari kawasan hutan sudah menyebut sebagai Desa Belatungan. Diperkirakan nama Desa Belatungan sudah resmi dan lumrah digunakan oleh warga sejak beberapa KK memutuskan menetap dengan permanen di Belatungan sekitar tahun 1922 atau dua tahun setelah dibuka.

Biasanya pencatatan desa secara administratif dilakukan dan dibutuhkan oleh urusan pemerintahan baik adat maupun kedinasan. Sementara pada periode itu (1920-1930) jelas Tabanan dibawah pemerintahan Kolonial Belanda. “Memang banyak di jumpai di Bali, sebuah nama tempat/desa yang sudah umum digunakan oleh masyarakat setempat tetapi secara kedinasan belum diakui.” Namun demikian mengingat pendiri Desa Belatungan berasal Desa Samsam (terbukti dari dari hubungan kekerabatan dan keagamaan hingga kini), walaupun belum resmi digunakan oleh pemerintahan Belanda, dipastikan pemerintahan secara adat (Desa Adat) di Belatungan sudah berjalan.

Dalam hal tata ruang pendiri Desa Belatungan sejak awal sudah menggunakan perhitungan (sikut-sikut tradisional secara turun temurun) seperti; hulu-teben, asta bumi, tri angga, tri mandala dan sebagainya. Terbukti letak Setra dan Pura Dalem berada ditengah-tengah desa jika ditarik garis dari utara-selatan. Salah satu faktor penting terbentuknya desa adat/pakraman sangat erat kaitannya dengan urusan kematian karena adanya kebutuhan penyucian desa dan keyakinan terhadap leluhur. Walupun pada awalnya belum memiliki Tri Kayangan sebagai persyarat utama untuk bisa disebut desa adat/desa pakraman. Saya meyakini sejak awal 50 KK pendiri Desa Belatungan sudah merencanakan dan memiliki Visi untuk membentuk desa adat/Pakraman yang otonum di Belatungan. Dengan adanya Setra dan Pura Prajapati bisa dijadikan bukti sejarah, agama dan budaya bahwa secara adat Desa Belatungan pada periode tahun 1920-1930 sudah mulai tertata dan memiliki pemerintahan desa adat dan banjar adat.

Lalu pada tahun berapa Desa Belatungan resmi menjadi desa adat/desa pakraman dilihat dari keberadaan Tri Kayangan (Pura Puseh, Pura Desa dan Pura Dalem)? Berdasarakan sumber-sumber terkait jika dilihat dari angka tahun diperkirakan Desa Belatungan sudah memiliki Tri Kayangan sekitar tahun 1927-1928. Pada tahun tersebut lokasi Pura Puseh, Pura Desa dan Pura Dalem sudah berada ditempat sekarang. Walau dalam bentuk bangunan yang masih sederhana. Biasanya percepatan pembentukan Tri Kayangan sangat terkait dengan urusan upacara Panca Yadanya dan inspirasi dari desa sekitarnya. Asumsi ini saya ambil dari keberadaan dan perkembangan Desa sekitarnya seperti Desa Mangis Sari, Tegalasih, Dadap Putih dan sebagainya sekitar tahun 1928.

Pada khurun waktu 1930-1950 an orientasi dan arah perdagangan warga desa Belatungan disamping ke arah selatan seperti Surabrata dan Banjra, cukup ramai juga menuju banjar Tegalasih di wilayah Desa Pucak Sari dan Dadap Putih yang ada di wilayah Desa Tista Kec. Busung Biu Kab. Buleleng. Tegalasih dan Dadap Putih cukup populer dikalangan warga Belatungan karena kedua wilayah itu berada di jalur utama Jalan dari Seririt-Pupuan-Dadap Putih. Dari beberapa literatur diketahui   pada tahun 1920-1950 an   wilayah Dadap Putih merupakan lokasi terakhir yang bisa dilewati oleh kendaraan besar seperti bus/truk untuk mengangkut penumpang atau hasil bumi. Jalan dari Dadap Putih tembus ke Pulukan atau Pekutatan saat itu kondisinya belum bagus. Praktis saat itu antara pedagang dan pembeli bertemunya di Dadap Putih (seperti terminal terakhir, atau lokasi pasaran/barter hasil bumi). Banyak warga Belatungan menjual hasil bumi seperti cabe, kopi, rempah-rempah ke Dadap Putih atau Tegalasih menggunakan angkutan kuda atau di pikul.

Kembali ke Desa Belatungan, kapan Desa Belatungan Resmi digunakan oleh pemerintahan Republik Indonesia? Tentu hal ini terkait dengan era berjalannya pemerintahan kedinasan paska kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945.   Desa Belatungan pernah dijadikan basis perjuangan oleh Pasukan Ciung Wanara dan pernah terjadi baku tembak antara Pemoeda Pejoeang dengan pasukan NICA.   Pemerintahan NKRI mulai berjalan efektif setelah adanya perjanjian Meja Bundar di Den Haag Belanda tahun 1949.  Saat itu Bali masih masuk wilayah provinsi Sunda Kecil (Bali, NTB, NTT) dengan Ibu Kotanya Singaraja.

Bali resmi menjadi provinsi tersendiri dan Tabanan resmi menjadi wilayah tingkat II (Kabupaten) setelah terbitnya 2 (dua ) undang-undang yaitu; Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1649); dan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1655);

Dalam penelitian ini, masih menjadi pertanyaan, mengapa kata “Belatungan” disebut oleh para tetua berasal dari kata Belatung/Kaktus (seperti ditulis dalam buku profil desa). Konon saat pertama kali membuka lahan banyak dijumpai pohon Belatung. Warga saat itu diceritakan merabas pohon belatung. Bisa jadi hal itu benar, karena banyak nama desa di Bali pada umumnya mengunakan nama pohon yang khas atau terjadinya peristiwa yang unik dan atau ektrim. “Lalu mengapa ditempat seperti itu banyak tumbuh pohon belatung padahal wilayah itu vegetasinya cendrung hutan hujan ropis? Semua informasi harus kita hormati sebagai sebuah catatan di jamannya. Untuk itu saya coba melengkapi beberapa cerita pendukung terkait tanaman “Belatung” itu.

Dari hasil wawancara yang berbeda dengan salah satu warga, ada beberapa peristiwa terkait yaitu; dikisahkan oleh salah satu tetua di Desa Belatungan (nama dan sumber tercatat) bahwa pernah ada pendataan wilayah untuk pembuatan jalan dan peta perkebunan di Tabanan Barat meliputi Desa Kaliukir, Munduk Temu, Selemadeg Barat dan Belatungan. Diceritakan untuk memudahkan mengenali batas dan petunjuk jalan atau batas wilayah, pernah ditanam tanaman Belatung di pertigaan jalan Belatungan menuju Pangkung Jali (disekitar Pura Sading sekarang). Dari cerita warga tersebut dimana ada tanaman Belatung disitulah arah/batas wilayah pemetaan yang dimaksud. Sepertinya menggunakan tanaman Belatung sebagai “penanda”, cukup masuk akal untuk memudahkan petugas mengenali batas wilayah.

Dijadikannya tanaman Belatung sebagai penanda karena tanaman jenis ini memiliki karakter berbeda dan khas dibandingkan dari tanaman lain yang umum tumbuh di Desa Belatungan. Namun peristiwa yang diceritakan saat itu sepertinya terjadi sekitar tahun 1950-1963, yaitu setelah terbitnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Katanya Desa Belatungan saat itu termasuk wilayah Pesedahan Kaliukir.

Peristiwa lainnya, saat era orde baru jaman pemerintahan Presiden Soeharto atau Jaman Gubernur Bali IB. Mantra (1980-1990), pemerintah mencanangkan program Lomba Desa Terpadu. Setiap desa saat itu wajib mememiliki awig-awig dan profil desa dan sejarah desa. Saat itulah mulai ditulis di profil desa dan disebutkan bahwa kata Belatungan berasal dari kata Belatung (sejenis kaktus).

Saya tertarik dengan cerita tanaman belatung sebagai “penanda batas”. Bisa jadi memang benar pada awal perabasan hutan banyak dijumpai tanaman belatung. Walaupun mungkin dibeberapa bagian saja. Cuma karena tanaman belatung cukup khas di tempat itu, maka tempat itu disebut dengan “Belatungan” (banyak tanaman belatung/ada tanaman belatung).   Sama halnya seperti Desa Gadungan, Buahan, dll. Tumbuhnya tanaman belatung di tempat itu memang sebelumnya pernah ditanam oleh petugas kerjaaan Tabanan di masa lalu sebagai tanaman penanda tapal batas antara kebun penduduk dengan hutan lindung kerajaan Tabanan atau tapal batas wilayah kerajaan. Kemudian tanaman belatung tumbuh sumbur dalam jumlah yang lumayan banyak.   Keberadaan hutan lindung Yeh Leh dan hutan di wilayah   Desa Belatungan saat itu erat kaitannya dengan tatanan wilayah terkait keberadaan Pura Luhur Pucak Bukit Rangda (sebutan Bukit Rangda sudah ada dalam Lontar Purana Jagat Bangsul, tahun 189 M). Lokasinya tidak begitu jauh disebelah selatan Desa Belatungan.

Hingga tahun 1979 Desa Belatungan masih berupa jalan tanah, dan pada tahun 1979 mulai di pasang batu (di gladag), dan setelah tahun 1984 mulai diaspal (Sumber : Mandor Jalan, Pak Ketut Gelgel dari Desa Babahan Penebel). Hingga awal tahun 1980-an masih dijumpai warga menggunakan angkutan Kuda untuk mengangkut hasil bumi. Tentunya Desa Belatungan hadir sebagai salah satu desa terakhir di Bali yang dibentuk dengan merabas hutan di era abad ke-XX, abad yang sudah relatif modern.

Demikian cacatatan sementara penelusuran sejarah dan perkembangan Desa Belatungan. Tulisan ini di buat sebagai bahan permulaan untuk catatan berikutnya yang lebih lengkap dan bisa dipertanggungjawabkan. Semua analisa tidak dimaksudkan untuk menganulir apa yang pernah ditulis sebelumnya, jutru perbedaan itu sangat penting dan saling melengkapi.

Kami menyadari, terbatasnya bukti sejarah dan literatur mengharuskan untuk terus mencari data dan masukan dari semua pihak demi penyempurnaan penelitian ini. Selanjutnya kami serahkan kepada pembaca untuk melengkapi, menghayati dan merenungkan kembali. Semoga tulisan ini memberi inspirasi dan mengundang partisipasi demi generasi nanti.   Sebagai sumber inspirasi dan perbandingan sejarah saya coba cantumkan beberapa catatan :

a.    -Desa Belatungan dibuka tahun mulai 1920, atau 14 tahun setelah Pemerintahan Kerajaan Tabanan jatuh ke tangan Kolonial Belanda pada 28 September 1906;

b.   . -Desa Belatungan dibuka tahun 1920, atau 427 tahun setelah Ibu Kota Tabanan yang sekaranag diresmikan pada   tahun 1493;

c.     -Desa Belatungan di buka tahun 1920, atau 90 tahun setelah Pohon Beringin di Pura Puseh Kota Tabanan di tanam tahun 1830;

d.     - Desa Belatungan di buka tahun 1920, atau 25 tahun sebelum hari kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.


Koreksi, Informasi dan data pendukung bisa disampaikan ke penulis: I Made Nurbawa Hp. 0818557532 Email: madenurb@yahoo.com www.madenurbawa.com . Suksme.



Tabanan Minggu, 28 Juni 2015

______________

 

Sun, 28 Jun 2015 @22:31


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?