NGADOL DUE

image
Di Bali, lumrah bila ditempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”, yaitu; sebutan yang cecara budaya dan keyakinan adalah bentuk penghormatan. “Due”, dalam kamus Bahasa Bali-Indonesia berarti “Milik”. Dengan sebutan lain, keyakinan seperti ini juga ada diberbagai komunitas di nusantara/dunia. “Jika demikian, kira-kira Due itu milik siapa?” Karena sering Due terlihat atau berada dikawasan publik, pasilitas umum atau tempat-tempat yang disucikan atau diyakini kesuciannya. Bermacam-macam sebutan Due, sesuai dengan situasi dan kondisinya. Misalnya ada “Due tengah”, yang bermakna bahwa sesuatu itu milik bersama, ada juga “Due(n) nak lingsir”, kira-kira berarti sesuatu itu milik tetua atau generasi pendahulu sebelumnya. Istilah “Due” mampu membangun sebuah kesadaran kolektif, juga membangun kesadaran terhadap penghormatan dan perlindungan, juga kesadaran terhadap keyakinan tatanan, pengetahuan dan sistem pewarisan budaya yang luhur. “Due” juga bermakna sakral, atau tenget atau ditengetkan, yaitu: sesuatu yang tidak boleh diambil, dikelola, di perlakukan sembarangan. Belakangan, 10 tahun terakhir kita sering mendengar istilah “Ngadol Due”, yaitu ketika orang atau warga menjual beberapa harta warisan leluhurnya untuk berbagai keperluan. Paling sering dalam urusan menjual tanah warisan pusaka leluhur yang berstatus “Due Tengah”. “Secara formal tidak sulit jika mau menjual Due Tengah”, karena hukum negara soal pertanahan sudah mengakomudir secara administratif, sepanjang ada musyawarah dan kesepakatan bersama oleh pemilik atau pewaris, semua bisa di pindah tangankan. Namun demikian status Due Tengah dalam konteks budaya dan hukum negara jelas berbeda. Makna “milik” dalam istilah “Due” bukan serta merta berarti atau sama dengan pengertian hak milik pribadi seseorang atau sekelompok orang seperti pandangan hukum negara kita. “Milik”(Due) adalah sesuatu yang mengandung makna luas dan universal mulai dari obyek pisik, nilai, tatanan, fungsi, energy, sosial, budaya, keyakinan dan sebagainya. Jika belakangan banyak “Due” atau “Tanah Due tengah” dijual atau dipindah tangankan, apakah nilai, tatanan atau budaya kolektif di atas obyek/tanah tersebut juga terjual atau berpindah? Jika ya, atas seijin siapa? Cukupkah hanya selembar akte jual beli atas “saran” bapak dan ibu notaris? Atau cukupkah hanya berdasarkan peraturan menteri dan kuasa para politisi atau bapak/Ibu Bupati? Salah-salah bisa kepongor. Ahh, benjang malih lanturang! (MN). (Tabanan, Selasa, 7/4/2015).

Wed, 8 Apr 2015 @07:17


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 8+8+8

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?