MISTERI NASI UMA WALI

image

Warga dunia pernah dicemaskan oleh isu “hari kiamat” tepatnya pada tanggal 21-12-2012. Hal itu berdasarkan perhitungan kalender Suku Maya yang banyak diulas oleh Greed Braden dan kawan-kawan (2009) dalam bukunya berjudul The Mystery of 2012.

“Greed Braden dalam bukunya mengekplorasi kemungkinan pada tahun 2012 akan ada pembalikan kutub magnetis pada bumi dan matahari yang dapat menghakhiri beradaban manusia. Hal itu di simpulkan melalui filsafat, spiritualitas, metafisika, kosmologi, ritual keagamaan, kearifan pribadi dan beragam ajaran yang teruji waktu dan tersimpan dalam domain kalender Suku Maya. Pun pusat kosmis dan konfigurasi galaktika banyak diterjemahkan dalam beragam orientasi dan arsitektur Suku Maya”.

Kini tahun 2014, dua tahun putaran waktu sudah berlalu, hari kemungkinan Suku Maya itu masih menjadi mistery. Benarkah kiamat akan terjadi? Seperti apakah bentuk dan dampak pembalikan kutub maknetis bumi dan matahari seperti yang digambarkan oleh Greed Braden? Memang hingga saat ini belum ada peristiwa extrim seperti digambarkan dalam film-film.

Ngomong-ngomong soal ramalan Suku Maya, ada yang menarik ketika saya membolak-balik catatan lama. Ingatan saya langsung terfokus dengan sebuah tulisan seorang kawan, Made Jonita (Dek Enjoy) yang berjudul “Mengenal Nasi Lebih Dekat”. Tulisan mini esai itu ternyata tepat di tulis pada hari dan tanggal yang oleh Greed Braden disebut hari kemungkinan akan ada pembalikan kutub pada bumi dan matahari, yaitu: Jumat, Sukra Wage Wayang, 21– 12-2012.

Beberapa hari berikutnya tulisan itu menjadi topik dikusi kawan-kawan lain di media sosial. Lalu disepakati untuk segera melaksanakan sebuah pertemuan di Subak Ganggangan Br. Pagi-Senganan Penebel Tabanan Bali. Pertemuan dimaksudkan mengajak banyak orang untuk mengenal lebih dekat tentang “NASI”. Gagasan tersebut kemudian menjadi agenda dalam paruman komunitas pecinta tabanan (Talov) yang di komandoi oleh Wahya Biantra pada tanggal 29 Desember 2012 di Museum Subak-Sanggulan Tabanan . Pada saat itu puluhan anggota Talov menyepakti tahun 2013 adalah “Tahun Pertanian”-Talov.

Akhirnya pada tanggal 6 Januari 2013 pertemuan perdana pun berlangsung antara krama Subak Ganggangan bersama komunitas pecinta Tabanan (talov) bertempat di Pura Ulun Suwi Subak Ganggangan. Salah satu kesimpulan saat itu adalah pentingnya melakukan budidaya produk pertanian ramah lingkungan.

Setelah beberapa kali melakukan dialog dengan jaringan anggota Talov dan sejumlah anggota subak, selang beberapa bulan pada musim tanam padi berikutnya didampingi Putu Partayasa (Parta Leong) beberapa krama subak mulai melaksanakan pelatihan swadaya pembuatan pupuk alami Mikroba Olah Lokal (MOL) yaitu; pupuk dan pestisida alami cair yang dibuat dengan bahan alami lokal seperti batang pisang, daun gamal, gula merah dan sebagainya. Oleh Putu Partayasa sekitar bulan mei 2013 budidaya padi dengan pupuk alami itu disebut “program padi sehat”.

Uji coba perdana budidaya padi sehat dilakukan di lahan sawah seluas 4 Ha, padi pun bisa tumbuh subur. Menjelang panen muncul lah gagasan untuk merayakan sebuah “Perayaan Sawah” yaitu sebuah event yang akan dilaksanakan di areal sawah subak Ganggangan. Perayaan sawah ini dimaksudkan untuk mengajak berbagai kalangan kembali mengalami yang alami tentang spirit dan tatanan subak, sekaligus untuk merayakan dan menyaksikan panen perdana padi sehat. Perayaan sawah disepakati dilaksanakan pada saat panen padi tepatnya pada tanggal 23-30 Nopember 2013.

Saat konsolidasi dan persiapan panitia mulai bergulir muncul kebutuhan untuk menami perayaan sawah tersebut dengan nama yang sesuai dengan spirit dan filosofis yang hendak diusung sejak awal. Beberapa diskusi kecil dilakukan di berbagai tempat untuk merancang susunan acara dan menggali beberapa konsep judul acara. Sempat ditawarkan beberapa judul seperti; festival panen, gema budaya manyi, atraksi budaya, pesta panen, pesta manyi, festival budaya manyi dan sebagainya. Namun judul yang tepat belum juga muncul dan disepakati.

Beberapa hari kemudian tepatnya pada tanggal 28 Oktober 2013 Pukul 11.17 Wita, Agung Putradhyana mengusulkan nama kegiatan ke saya (Made Nurbawa-Red) melalui obrolan media on line, yaitu; “Perayaan Sawah-UMA WALI”. Uma Wali mengandung makna kesawah kita kembali agar uger-uger carik atau uma kembali dipahami dan disadari sehingga kegiatan perayaan sawah dapat menyentuh seluruh obyek dan subyek baik pelaku maupun pengamat, sekala niskala, mikro maupun makro kosmos.

Maka sejak tanggal 28 Oktober 2013 bertepatan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda ke-85, nama Uma Wali digunakan dalam berbagai kebutuhan administrasi dan publikasi kegiatan perayaan sawah di Subak Ganggangan Banjar Pagi-Senganan Penebel Tabanan Bali yang berlangsung pada tanggal, 23-30 Nopember 2013. Acara puncak 24 Nopember 2013. Tanggal Perayaan Sawah Uma Wali pun cukup unik karena bersamaan dengan peringatan peresmian kota Singasana sebagai Kotaraja (ibu kota) Tabanan ke-520 ( tanggal 29 Nopember 2013) yang mana pemlaspasan Kotaraja dilaksanakan pada Buda Umanis Kulantir tahun 1493 silam.

Melihat berbagai pemikiran dan gagasan yang berkembang tentang “Uma Wali” yang berawal dari mengenal “Nasi”, sesungguhnya kita diingatkan pada proses dan alur kehidupan. Nasi bukan sekedar pangan. Nasi adalah simbul siklus kehidupan hulu hilir yang memiliki demensi yang sangat luas.

Filosofi nasi diharapkan dapat membangun simpul kesadaran manusia melalui filsafat, spiritualitas, metafisika, kosmologi, ritual keagamaan, kearifan pribadi dan beragam ajaran yang teruji waktu dan tersimpan dalam domain kalamasa Subak dan Budaya Bali.

Jika ini benar, jika gerakan Uma Wali ini sejalan dengan domain kalender Suku Maya tentang pusat kosmis dan konfigurasi galaktika, maka makna dan pemaknaan: “NASI UMA WALI”- bisa jadi adalah bentuk lain dari proses ekplorasi kemungkinan pada tahun 2012 di Bali, tentang pembalikan kutub magnetis pada bumi dan matahari yang dapat “menghakhiri” beradaban manusia yang awalnya tak lagi berjalan alami untuk berikutnya kembali menuju hal-hal alami di muka bumi. Tidak saja di sektor pertanian, tapi juga di bidang pemerintahan, ekonomi, sosial, politik, hukum dan sebagainya dalam kesadaran satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia.

Semoga gerakan “Uma Wali” bisa mengungkap misteri “Nasi”- yang kita makan sehari-hari, sehingga pesan-pesan pertiwi selalu dapat menyucikan diri dengan pengetahuan tanah dan air yang suci alami. Uma Wali kembali mengenali “tatanan Bali yang Bali”, untuk memperteguh keyakinan ngulati lan ngrastiti parikrama dan kerahayuan jagat dari Bali. (MN).

_________________________________
Tabanan, Redite Paing Sintha, 5 Oktober 2014
Renungan Hari Saraswati dan Banyu Pinaruh
Di Rangkum Oleh : Made Nurbawa

Wed, 7 Jan 2015 @06:52


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?