JELIH SI MANIK GALIH

image

Seorang ibu berdecak kagum ketika melihat bulir padi menguning di areal sawah. “Tumben tiang nepukin I dewa jelih buke kene” (baru kali ini saya melihat padi yang padat berisi seperti ini-red),”ucap Men Aldi (Ibu Aldi) salah seorang sekaa manyi (kelompok panen padi) yang hendak panen di areal sawah, pada selasa pagi 23 des 2014.

Sawah tersebut adalah milik salah satu anggota Subak Gunung yang pada musim tanam terakhir telah mengikuti cara pertanian selaras alam Uma Wali, seperti apa yang telah dilakukan dua tahun terakhir di Subak Ganggangan Penebel Tabanan Bali.

Dalam situasi ini istilah “Jelih” digunakan untuk menyebut bulir padi yang kondisinya bagus nampak dari malai padi yang penuh dan padat berisi. Suatu kondisi yang sangat diharapkan oleh seluruh petani.

Mengapa padi bisa jelih? Banyak factor yang mempengaruhi, antara lain : pengolahan lahan, pembibitan, pemupukan, dan perawatan. Perawatan yang dimaksud disini bukan saja soal pemupukan, pengendalian hama, atau pembersihan gulma tetapi juga factor keyakinan budaya oleh pelakunya.

Dalam praktek budidaya padi selaras alam-Uma Wali menunjukan bukti bahwa diyakini dan diimplementasikannya kearifan dan potensi lokal sangat erat hubungannya dengan peningkatan kualitas dan kuantitas hasil panen. Hubungan selaras alam makro dan mikro kosmos baik yang benda maupun tak benda adalah   penentu hasil panen yang optimal.

Jadi, padi jelih bisa dimaknai sebagai padi yang “unggul”- selain sehat untuk pangan, juga baik untuk bibit pada musim tanam berikutnya. Kondisi ini secara langsung akan berpengaruh adanya “daulat benih” bagi kalangan petani.

“Benih unggul jika ditanam dalam ekosistem sawah yang tidak sehat belum tentu akan menghasilkan hasil padi yang unggul pula”.

Dari pengalaman diatas bisa diartikan bawah; pemanfaatan bibit unggul yang bukan varietas lokal dalam jangka panjang belum tentu menjamin petani akan memperoleh hasil yang optimal, baik dari segi kesehatan, nutrisi, ekonomi, social budaya, lingkungan dan sebagainya. Factor lain yang tidak bisa diabaikan adalah kearifan lokal, kenyaman kerja, potensi ekosistem setempat dan sebagainya. Kesemuanya harus di dipadukan dalam satu rasa dan tatanan yang menciptakan energy positif (Bio Dinamic-Red).

Padi unggul dengan pengasuhan nilai dan keyakinan budaya setempat dan selaras alam akan menghasikan “manik galih”-yang secara lebih luas dan filosofis bisa dimaknai sebagai benih, hasil atau asal mula kehidupan yang dapat memberi mensejahterakan bagi seluruh unsur kehidupan."Lebih jauh manik galih pun diyakini sebagai perwujudan Dewi Sri yaitu dewi kemakmuran-saktinya Dewa Wisnu."

Pantaslah “Jelih Si Manik Galih” keberadaan sangat di disucikan, bukan saja sebagai bahan pangan atau benih tetapi juga sebagai simbul atau identitas budaya lokal yang sangat dihormati oleh masyarakat adat/subak di Bali. (MN).

 

Tabanan, 25 Des 2014

Made Nurbawa

 

 

Thu, 25 Dec 2014 @17:11


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?