TALI KUNALI-SAPI TRADISI

image

Hingga saat ini warga subak masih banyak menggunakan tenaga kerbau atau sapi untuk mengolah lahan sawah. Secara umum di Bali disebut dengan “metekap”. Metekap terdiri dari  beberapa tahapan dan masing-masing tahapan memiliki sebutan berbeda yaitu: makal, mungkahin, ngelampit dan ngasahan.

Tahapan metekap menyesuaikan dengan kondisi lahan, kecepatan, waktu, minat dan kenyamanan kerja sehingga pola tanam bisa selaras dengan siklus sosial budaya masyarakat di wilayah setempat.

Jika dicermati metekap dengan teknis dan tahapan yang benar akan berdampak pada pelestarian ekosistem dan sumber daya air yang ada di sebuah kawasan persawahan. “Metekap membutuhkan volume air lebih sedikit dibandingkan menggunakan traktor”. Waktu yang dibutuhkan untuk metekap sekitar 5-6 jam, petani bisa melakukannya dengan serempak dengan perbandingan 10 : 1 dibandingkan dengan traktor. Petani pun lebih leluasa menyesuaikan dengan aktivitas lainnya. Petani pun memiliki waktu untuk mengurus hal lainnya termasuk aktivitas budaya di desanya.

Sementara dengan traktor membutuhkan air lebih banyak sehingga petani pemilik lahan harus melakukannya secara bergantian karena terbatasnya air. Untuk bisa menyelesaikan pengolahan tanah secara keseluruhan dan tepat waktu berdasarkan perhitungan kertamasa di sebuah kawasan, traktor harus dioperasikan 10-12 jam (sehari penuh). Dengan sendirinya hal ini akan berdampak pada kelembagaan, kenyamanan kerja serta SDM. “Hal ini lah salah satu penyebab mengapa banyak tenaga lokal sering tidak sanggup sehingga banyak “sopir” traktor dilakukan oleh tenaga luar.” Karena warga lokal harus membagi waktu untuk aktivitas social dan budaya lainnya.

“Lebih jauh secara filosofis sapi adalah simbul kehidupan”. Metekap pun boleh dikatakan sebuah kegiatan manusia dalam mempelajari atau mendekatkan diri dengan alam terutama dengan tanah sebagai simbul Ibu Pertiwi.

Pun secara alami sapi memang salah satu binatang yang suka hidup di alam terbuka untuk bergerak bebas, menyetuh air dan tanah (mekipu). Juga membuang kotoran dan kencing di alam terbuka. Jadi kotoran dan kencing sapi di real sawah berguna untuk pupuk alami.

Prilaku dan manfaat sapi yang digunakan metekap pun akan berbeda dibandingkan dengan yang di kandang. Sapi yang dikandang cendrung hanya untuk penggemukan dan produksi kotoran untuk pupuk. Sedangkan sapi yang digunakan untuk metekap memiliki manfaat lingkungan, ekonomi, social dan budaya yang sangat luas.

“Sawah dengan luasan dan kemiringan tertentu, secara teknis pengunaan sapi jauh lebih unggul dan lebih mudah dibandingkan dengan penggunaan traktor.”

Metekap pun adalah salah satu sarana untuk pendidikan dan regenerasi petani. Saat ngelampit misalnya anak-anak petani banyak yang suka duduk di tengala. Disamping sebagai pemberat tambahan juga sebagai atraksi dan hiburan yang menyenangkan (nau). 

Biasanya sambil bekerja di sawah anak dan orang tua berdialog tentang banyak hal. Dari proses inilah terjadi alih generasi dan pengenalan budaya pertanian dari orang tua ke anak-anaknya. Hal itu tentu sebuah proses pembelajaran alami yang menyenangkan bagi anak-anak. “Adanya rasa nau (senang) ke sawah salah satu factor pendukung terjadinya regenerasi petani.

“Jadi sawah ibarat media pendidikan yang lengkap baik secara pandang, dengar dan rasa. Berbeda jika menggunakan traktor, anak-anak tidak bisa duduk diatas traktor, disamping bising juga berbahaya.”

Mengendalikan laju dan gerak sapi membutuhkan perhitungan, kecermatan dan konsentrasi. Hasil olah lahan akan lebih optimal jika antara petani dengan sapinya ada “keakraban”. Konon tekanan, kecepatan dan energy positif yang keluar dari si petani dan sapi akan berdampak pada peningkatan kualitas dan kesuburan tanah.

Yang cukup unik adalah saat digunaknya “bahasa khusus” oleh petani untuk mengendalikan sapinya saat metekap. Hal ini sekaligus sebagai kode etik, seperti “Aiss”-sapi akan jalan. Kalau “ Yen” sapi akan berhenti. “Kek” Sapi akan belok kiri, “Cis” Sapi akan belok kanan dan lain sebagainya sambil mengerakan tali kunali. Di wilayah lain mungkin dengan bahasa yang berbeda.

Menurut praktisi pertanian selaras alam tradisional, sapi bukan sekedar ternak. Sapi ibarat “binatang budaya” karena memberi dampak lingkungan dan membantu terciptanya harmoni pada ekosistem. Budaya pertanian dengan spirit subak ternyata sudah mempraktekan apa yang sering disebut dengan istilah ‘Bio Dinamik”-yaitu sebuah aktivitas pertanian yang dapat mengumpulkan energy positif dari seluruh aktivitas dan makluk hidup lainnya yang ada di areal sawah. Energy positif tersebut nantinya diserap oleh tanaman padi dan terkumpul dalam bulir padi. Kelak jika berasnya di masak menjadi nasi atau makanan bisa memberi kasiat positif dan penyembuhan beragam penyakit.

Bulir padi yang sehat untuk makanan, benih, keseimbangan ekosistem, kemartabatan budaya dan sebagainya disebut dengan “manik galih”.

Dari penjelasan diatas proses pengolahan lahan dengan penggunaan sapi dan atau traktor jelas memiliki dampak yang berbeda. Pola produksi dan pola konsumsi petani pun akan berbeda  pula.   Perubahan pola produksi dan konsumi akan berdampak pula pada pola pasar dan keyakinan budaya.

 Artinya jika Bali ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata budaya, maka perlu adanya regulasi yang berpihak terhadap produksi dan konsumsi produk lokal yang secara langsung berfungsi sebagai media pendidikan dan pelestarian budaya.(*).

 

 

 

 (*Belajar dari subak Ganggangan-Uma Wali).

Made Nurbawa

Minggu, 21 Des 2014

 

 

 

Mon, 22 Dec 2014 @20:38


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?