BLAUK JUBEL KECUCUTAN

image

BLAUK   JUBEL KECUCUTAN

Berawal dari ajakan “Mengenal Nasi” dua tahun silam, hingga kini saya merasa mendapat banyak kesempatan mendengar cerita tentang budaya pertanian-Subak. Cerita nasi pun tidak sebatas pangan, tapi mengalir dalam kesadaran tatanan budaya dan mata rantai ekosistem.

Salah satu yang unik adalah mengenal jenis hewan sawah yang hingga kini masih diakrabi oleh para petani di wilayah Kecamatan Penebel Tabanan Bali seperti; Capung, Blauk, Jubel, belut dan Kakul. Hewan sawah tersebut biasa di kosumsi oleh keluarga petani.

“Jubel” ada beberapa jenis, Jubel yang agak besar disebut “Kecucutan”. Sedangkan “Blauk” adalah hewan sawah yang bermetamorfosis menjadi Capung. Blauk yang agak besar disebut “Kecueng”.

Keberadaan hewan sawah tersebut bisa dijadikan indikator kualitas air dan tanah dalam proses pertanian alami. Kualitas lingkungan yang relatif sehat/alami membuat populasi hewan sawah tersebut cukup banyak. Sebaliknya kawasan sawah yang menggunakan pupuk kimia secara berlebihan membuat hewan tersebut mati dan langka. Kelangkaan blauk pun membuat hilangnya budaya “Nyeser” di kalangan petani.

Keberadaan hewan sawah terkait pula dengan kehidupan burung hidup di alam bebas. Ada burung pemakan serangga/hewan kecil seperti : Kokokan, Celepuk, Celengan, Ketunggek dan lain sebagainya.   Ada juga burung pemakan buah atau bijian seperti; Kukur, Curik, Sikep, Becica, Gelatik, Cetrung dan Celalongan.  

Hewan lain yang cukup unik adalah Kelelawar. Ada beberapa jenis kelelawar mulai berukuran kecil hingga yang besar. Ada yang memakan serangga ada juga yang memakan buah-buahan.

“Kelelawar tercatat sebagai satu-satunya binatang mamalia yang bisa terbang”. Kelelawar yang kecil dalam bahasa lokal disebut Jempiyit, yang agak besar disebut Lelawah/Malong. Yang paling besar disebut Bukal.

Bukal bisa terbang tinggi dengan jangkauan yang jauh.   Lelawah dan Bukal memakan biji-bijian atau buah-buahan. Sehingga Lelawah dan Bukal berfungi sebagai “penyeber biji” (benih) di alam bebas. Tidak mengherankan di banyak tempat yang sulit sekalipun (jarang dijamah manusia) tumbuh tanaman buah tertentu secara alami. Dan seterusnya dan seterusanya.

Dari obrolan “Mengenal Nasi”, dua tahun terakhir saya kembali mendengar cerita lain tentang keanekaragaman hayati dan ekosistem alami. Mendidik kebersamaan dan cinta lingkungan.

“Sayang hal-hal seperti itu belakangan jarang muncul di layar televisi, mungkin produser menganggap kalah seksi dibandingkan kabar demokrasi atau kabar politikus yang lagi gundah hati. Pantas saja Kurkuak pun tak dikenali lagi”. Tuuuu,Tuuuu..(MN).

 

 

Tabanan, 13/10/2014

Made Nurbawa

 

 

Mon, 13 Oct 2014 @01:23


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+7+6

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?