MANIK GALIH

image

Depan bangunan suci (pelinggih) setumpuk padi menguning. Lengkap dengan simbul-simbul budaya yang menandakan padi itu bagian dari prosesi upacara suci yadnya pada Buda Kliwon, Pagerwesi, Purnamaning Kapat.

Seorang petani menjelaskan kalau padi itu adalah “Sarin Tahun” dihaturkan oleh krama subak sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugrah yang diberikan dari kegiatan bercocok tanam.

Dalam bahasa budaya subak, padi (Oryza sativa L) atau beras disebut “manik galih” karena padi adalah simbul kemakmuran sekaligus simbul penghormatan kepada Sang Hyang Manik Galih sebutan lain dari Dewi Sri sebagai pelindung kesuburan tanaman pangan.

“Padi ibarat simpul putaran gerak alam yang cantik nan indah, menginspirasi dan diterjemahkan dalam beragam gerak tari, nyanjian, gamelan, pekerjaan, tradisi budaya dan sebagainya”.

Keyakinan dan penghormatan terhadap “padi” (beras/nasi) bukan sesuatu yang mistis, tapi pengetahuan dan sumber pengetahuan nyata dalam banyak hal. Tanaman padi adalah tanaman budidaya terpenting dalam kehidupan. Karena tanaman padi lah jutaan orang bekerja di sawah, jutaan kubik air terkelola bijak oleh tangan-tangan krama subak, nilai dan upacara suci terwarisi, kemartabatan budaya tumbuh terbangun lintas generasi dan seterusnya.

Dalam hal bernegera, tanaman padi sangat strategis. Menyentuh hal-hal yang sangat mendasar mulai dari konstitusi, regulasi, subsidi, hingga pemberantasan korupsi. Juga isu politik dalam kebijakan publik ketahanan dan kedaulatan pangan, pengangaran pembangunan, lingkungan dan kemartabatan budaya. “Pantaslah padi digunakan sebagai simbul idiologis keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia- bersama kapas pada sila ke lima Pancasila.

Kesadaran dan keberagaman tradisi, nilai, keyakinan (agama lokal) dan beragam bentuk penghormatan oleh masyarakat adat di berbagai negara, patut dilihat dan dimaknai sebagai indikator “pembumian” kemartabatan budaya yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dunia.

Di Republik ini, tanpa kemartabatan budaya maka demensi politik, kebijakan, kelembagaan, partisipasi, komunikasi, informasi, pemerintahan dan sebagainya tidak akan berujung kesejahteraan sehingga kehidupan tidak akan cantik atau indah lagi laksana “Sang Dewi Manik Galih” (MN).




Pura Besi Kalung, Penebal Tabanan

Tabanan, 10/10/2014

 

 

Sat, 11 Oct 2014 @12:20


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?