PAUMAHAN-PADUNUNGAN

image

Salah satu program pemerintah adalah menyediakan rumah bagi rakyat. Rumah adalah kebutuhan dasar bagi setiap orang. Pantas saja negara memiliki kementerian khusus untuk mengatur soal perumahan demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Di Bali kebutuhan rumah kini sangat pesat. Dimana-mana pemerintah mengeluarkan ijin kavling dan ijin mendirikan bangunan untuk perumahan baru. Tak mengherankan kini banyak lahan kosong beralih fungsi. Tidak hanya tanah persawahan, bahkan lahan yang dulu diyakini “Tenget” tak luput dari incaran. Mulai dari lahan yang dekat jalan utama sampai ke leke-leke pinggir sungai. “Benarkah orang (Bali) kekurangan rumah?”

Rumah dalam budaya masyarakat Bali adalah sesuatu yang sangat sakral karena rumah ibarat “satu tubuh” yang lengkap. Memiliki batas atau “sikut karang” yang jelas dan terukur. Masing-masing bagian memiliki makna dan fungsi yang utuh dalam bingkai tatanan “Panca Raksa mulai dari Sri Raksa, Guru Raksa, Durga Raksa, Kala Raksa, dan Siwa Raksa”. Kemudian ada lagi sikut-sikut “asta bumi, Asata Kosala Kosali, Hulu Teben, Tri Mandala” dan seterusnya.

Rumah pada hakekatnya tempat berkumpul beberapa orang dalam satu rumah atau serumah (keluarga). “Serumah” disebut “SeUmah”. Jika seseorang laki dan perempuan berkeluarga atau menikah disebut “MeSomah”-karena hidup serumah. Kumpulan beberapa Umah disebut “Paumahan”.

“Umah” atau rumah adalah tempat bertemu dan berkumpulnya orang tua dan anak. Ada balita, dewasa hingga manula (kakek nenek). “Umah” adalah tempat menjalankan kehidupan SUKA dan DUKA (suka duka lara pati). Kehidupan yang selalu menyeimbangan antara suka dan duka sekala dan niskala, mikro maupun makro itu lah dalam budaya bali dibutuhkan beragam sarana, upacara dan pengetahuan suci atau yadnya (tatanan Desa Pakraman)

Kini di jaman penuh persaingan dan perkembangan, banyak orang desa membangun atau tinggal di di kota. Rumah di desa kini sepi hanya tinggal orang tua lanjut usia. Banyak yang meninggalkan desa untuk bekerja. Pulang saat hari tertentu saja.

Jika ditelusuri banyak “rumah” yang dibangun di kota atau dikompleks perumahan tidak sesuai lagi dengan tatanan dan filosofi panca raksa, asta bumi, asta kosala kosali. Yang penting mendatangkan keuntungan materiial. Pembeli pun sudah tak hirau lagi dengan filsofi dan tatanan “Umah” yang sebenarnya. Pertimbangan utama adalah dekat dengan lokasi pekerjaan, jumlah kamar cukup serta uang muka kredit dan cicilan terjangkau. Bahkan kini orang membeli rumah adalah untuk kesenangan, kemudahan, pelarian, identitas, status sosial, gengsi, investasi jual beli dan sejenisnya.

Jadi banyak “RUMAH” yang dibangun sesungguhnya bukan “UMAH”, tapi hanya “DUNUNGAN” karena dunungan tidak dibangun dan difungsikan sesuai dengan fungsi dan filosofi Umah/Rumah secara utuh. Umah tempat berkumpul beberapa atau banyak orang, sedangkan Dunungan umumnya unian sementara atau sendirian saja. “Umah” secara filosofis sebagai tempat menjalani suka dan duka dalam segala segi kehidupan--parahyangan, palemahan, pawongan sedangkan “Dunungan” hanya untuk kesenangan/kemudahan keduniawian.

Kini “Dunungan” sepertinya banyak dicari atau dibeli akibat perubahan orientasi masyarakat yaitu; kecendrungan untuk mencari “ZONE NYAMAN” atau untuk kesenangan. Tinggal di dunungan menjadi nyaman karena dekat dengan lokasi pekerjaan, nyaman tidak repot oleh aktivitas banjar/pakraman, nyaman tidak ada yang mengusik urusan pribadi, nyaman tidak lagi kena kontrol sosial (individual), nyaman karena tidak berkumpul sama saudara atau mertua, nyaman karena tidak repot ngayah adat/suka duka dan sebagainya”.

Dalam konteks keseimbangan budaya, jika orang (Bali) hanya ingin mengenjar “kenyamanan” atau “kesenangan” (SUKA) semata, lalu siapa yang akan peduli dan menangani urusan “ketidaknyamanan” (DUKA) di desa atau di rumah asal? “Dalam hidup, kenyamanan selalu berbanding lurus dengan munculnya ketidaknyamanan”-(suka duka lara pati).

Bisa jadi pesatnya pembangunan perumahan bukan serta merta karena banyak orang tidak memiliki rumah (tempat tinggal), tapi dampak dari perubahan pola hidup atau hubungan antar warga yang tidak rukun lagi atau tidak nyaman lagi di daerah asal. “Membeli rumah baru atau dunungan disebabkan karena ingin keluar dari “zone” ketidaknyaman”.

Oleh karena itu kebijakan di bidang perumahan baik dalam hal ijin mendirikan bangunan (rumah) maupun program “bedah rumah” misalnya; sudah saatnya memperhatikan hal-hal non pisik seperti rasa keadilan, kerukunan, kemartabatan budaya dan hak asasi manusia. Sehingga indikator kesejahteraan bukan lagi diukur hanya dengan angka-angka pertumbuhan ekonomi tapi seberapa besar derajat kerukunan antar warga.

Tabanan, 2 Okt 2014
Made Nurbawa

Fri, 3 Oct 2014 @07:18


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?