DHARMA PEMACULAN

image

''SAD KERTIH'' &
FILOSOFI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN

Pada musim tanam padi tahun ini, seorang petani hampir dua kali gagal menanam padi di sawah. Hal itu disebabkan karena bibit padinya hancur di rusak tikus di persemaian. Penyemaian bibit ketiga baru berhasil Ia tanam, itu pun penuh rasa was-was karena tidak menuntup kemungkinan padinya yang telah ditanam akan diserang tikus.

Bagi petani, tikus termasuk salah satu “Hama” atau dalam budaya pertanian Subak di Bali disebut “Mrana”. Filosofi Mrana adalah segala sesuatu yang dianggap merugikan. Mrana yang lain seperti walang sangit, wereng, dan sebaginya.

 Belakangan serangan tikus di beberapa wilayah subak masih terus terjadi di Tabanan. Oleh karena itu mengendalikan mrana (nanggluk mrana) terus dipikirkan para petani. Banyak para petani yang pasrah karena belum memperoleh solusi.

“Apa sesungguhnya hakekat nanggluk mrana dalam bingkai keyakinan dharma pemaculan bagi petani di Bali?”

Putu Partayasa salah seorang petani asal Penebel Tabanan Bali mencoba menjelaskan dengan sederhana terkait upayanya mencegah terjadinya serangan tikus.  Pak Putu, dua tahun terakhir kembali mengumpulkan beberapa cerita tentang kearifan lokal terkait dengan mrana, terutama tikus. Pak putu juga mencoba menggali beberapa penanggulangan alternatif dari teman dan para tetangganya.

Pak Putu sebenarnya tidak tahu percis langkah apa yang efektif untuk mengurangi serangan tikus di sawahnya. Tapi dari proses pencariannya Ia meyakini beberapa langkah. Pak Putu mulai menanam ketela di pematang sawah, Ia berharap ketela akan di makan tikus sehingga tidak lagi mengganggu padinya di sawah.

Seperti saran tetangganya pada hari tertentu (Rerahinan ) atau hari baik menurut perhitungan “kala masa” (kalender musim) perlu melakukan upacara persembahan dengan menghaturkan sarana upacara di pematang sawah. Biasanya dilakukan pada hari Ngarekasih atau Budha Kliwon ,  berupa segehan   dengan nasi kepel dan ikan asin di sawahnya. Ia memohon kepada Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa, agar diberikan restu dan petunjuk agar bisa mengatasi berbagai kendala dalam melakukan aktivitas pertanian di sawahnya.

“Selama ini diyakini ganasnya serangan tikus di sawah karena ada jenis tikus tertentu yang mengajak dan memimpin serangan pada tanaman padi di sawah. Jenis tikus tersebut dikenal dengan sebutan: “Jero Wayan, Jero Made, Jero Nyoman”. Konon ketiga jenis tikus itu lah yang memimpin rombongan “Jero Ketut” untuk merusak padi para petani.   Upacara persembahan yang dilakukan pada hakekatnya ditujukan kepada ketiga tikus tadi   (Jero Wayan, Jero Made, Jero Nyoman) dengan harapan bisa menghalau atau melarang “Jero Ketut” melakukan pengerusakan padinya di sawah. “Memang terkesan mitos””.

Setelah menghaturkan sarana upacara di sawah, Pak Putu merasa gangguan tikus sedikit mereda di sawahnya. Padi tidak ada yang rusak. Sepertinya tikus-tikus mulai memakan ubi yang ada di pematang yang Ia tanam beberapa bulan lalu.

“Bagaimana kelak jika ubi sudah tidak ada lagi atau habis? Akankan tikus akan kembali merusak padinya yang baru berumur beberapa hari?”   Sebuah situasi yang belum terpecahkan.

Menurut Pak Putu Partayasa, tikus bukanlah pemakan padi, tikus sebenarnya hanya binatang pengerat. Masuk akal juga karena dari sekian padi tetangga yang pernah mengalami serangan tikus tidak semua padi dimakan. Tikus hanya merusak tanaman saja.

“Memang sejak adanya program revolusi hijau di era orde baru, ekosistem pertanian (Subak) menjadi rusak. Hak itu ditandai dengan langkanya hewan sawah seperti belut, katak, ular, belauk, capung, burung dan sebagainya. Hal itu diyakini akibat penggunaan pupuk kimia dan insektisida/pestisida kimia yang beracun dan tak terkendali.”

Program revolusi hijau di masa lalu dilakukan melalui pendekatan program BIMAS, INMAS, INSUS dan Panca Usaha Tani yang menekankan pada output atau peningkatan produksi gabah. Hal itu tidak lepas dari kebijakan politik pemerintah dibidang pertanian yaitu; target terwujudnya swasembada pangan nasional. Akhirnya cara pertanian yang tidak ramah lingkungan tersebut terbukti telah merusak rantai ekosistem alami di sawah termasuk lingkungan dalam wilayah yang lebih luas. Sebuah cara yang belakangan mulai disadari beresiko menimbulkan berbagai macam penyakit karena tingginya kandungan kimia beracun pada bahan pangan.

Rusaknya ekosistem juga berdampak nyata hilangnya budaya pertanian seperti nyuluh, nyapung, nyeser dan sebagainya. Tidak hanya itu, mengganti varitas padi dari padi lokal yang berumur enam bulan dengan jenis padi baru (PB) dengan umur 4 bulan juga memiliki dampak terhadap pola tanam. Petani jadi lebih sibuk di sawah demi mengejar target-target ekonomi. Petani pun lebih mementingkan hasil dari pada menghormati cara-cara alami. Cara-cara bertani yang merusak alam akhirnya secara tidak langsung berdampak pada tingkat kenyamanan kehidupan. Kehidupan sosial budaya orang Bali pun berubah. Semua ingin serba cepat dan tak sempat lagi melakukan pendalamam secara rasa, etika dan estitika .

 

NANGKLUK MRANA

Di banyak tempat di Bali penanggulangan hama tikus secara tradisional dan alami mulai jarang dilakukan. Salah satunya karena serangan tikus tetap saja terjadi. Akhirnya sebagian petani memilih pasrah.

Apa yang dilakukan oleh Putu Partayasa di sawahnya adalah salah satu upaya untuk kembali melakukan cara-cara alami. Mulai dari pemanfaatan pupuk dan insektisida alami “Mikroba Olah Lokal (MOL) ”, juga kembali mengali kearifan tradisi dan budaya lokal.

Pak Putu terus mencoba dan menemukan kembali tatanan kearifan lokal dalam pengelolaan sawahnya. Ternyata apa yang dilakukan oleh pak Putu sangat sejalan dengan spirit dan filosofi Sad Kertih dan Dharma Pemaculan.   Seperti apa?

Dalam bingkai tatanan Sad Kertih dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pertama: Atman Kertih , dampat dimaknai ketika Pak Putu melakukan upacara yadnya disawahnya. Upacara yadnya sesungguhnya adalah proses “me-Atman Kertih”(penyucian jiwa)   kepada seseorang dari Sang Pencipta atau alam semesta (leluhur ). Dengan melaksanakan yadnya suci, sesorang akan memiliki jiwa yang bersih dan selaras dengan alam lingkungan dimana ia beraktivitas. Hal itu terbukti dari pengakuan Pak Putu Partayasa bahwa setelah melakukan persembahan suci Ia merasa menjadi bagian atau menyatu dengan kondisi sawahnya. Ia pun semakin meyakini bahwa melakukan cara-cara berocok tanam secara alami adalah penting dilakukan sebagai upaya pemeliharaan lingkungan dan pemulihan keseimbangan ekosistem. Dalam proses ini Pak Putu pun mulai menyadari bahwa pola hubungan antara parahyangan , palemahan dan pawongan harus menyatu dalam satu keyakinan yang seimbang (Tri Hita Karana).

Kedua : Jana Ketih, Dengan  jiwa dan kesadaran yang mulai menyatu dengan alam lingkungan di sawahnya, Pak Putu mulai mendapat pengetahuan bahwa; tikus tidak perlu dimusuhi. Tikus harus dihormati sebagai bagian dari mahluk hidup. Tikus merusak padi karena diyakini ekosistem disebuah kawasan tidak seimbang lagi.

Ketiga: Wana Kertih,   dengan pengetahuan lokal yang diperoleh pak Putu Partayasa, kemudian Ia merasa perlu untuk dan penting untuk menanam beberapa tumbuhan seperti ketela, ubi disekitar sawahnya. Wana dalam filosofi ini adalah bermakna hutan atau tumbuhan. Hal itu dimaksudkan agar tikus-tikus juga memperoleh makanan sehingga tidak merusak padinya. Terbukti setelah itu belum ada tanda-tanda tikus merusak tanaman padinya.

Keempat : Danu Kertih . Menggunakan pupuk alami buatan sendiri “Mikroba Olah Lokal (MOL), ternyata tanpa disadari merupakan langkah-langkah Pak Putu Parttayasa dalam memelihara kualitas air. Kualitas air yang baik akhirnya berdampak juga dengan pulihnya kesuburan tanah. Kondisi air dan tanah yang minim zat beracun membuat hewan sawah kembali muncul seperti; kakul, belauk, capung, katak dan ular. Kehadiran ular sawah  membuat tikus mulai jarang dan sebaliknya Pak Putu dapat menangkap beberapa kakul (keong sawah) dan belut untuk dikonsumsi sebagai lauk pauk di rumahnya. Semua itu pulih karena adanya upaya pemeliharan kualitas air.

Kelima: Segara Kertih. Dengan pulihnya ekosistem sawah akibat adanya pemeliharaan air, tanah, tumbuhan di sawah menyebabkan Pak Putu merasa semakin “nau” (senang) ke sawah, ada saja hal-hal baru yang menarik Ia peroleh di areal sawah. Karena suasana menyenangkan maka apapun yang dikerjakan tidak cepat membuat lelah dan menjenuhkan. Makna Segara Kertih disini adalah sebuah “gerak alam” yang mensejahterakan seperti gerak air, gerak udara, suara, aktivitas dan sebagainya. Terbukti saat ini Pak Putu mulai banyak di undang untuk memberi pelatihan kepada beberapa petani dalam pembuatan pupuk alami-Mikroba Olah Lokal di desa sekitarnya.

Keenam: Jagat Kertih. Makna “jagat” disini adalah semesta baik dalam wilayah kesadaran parahyangan, palemahan atau pawongan. Terpeliharanya alam lingkungan yang seimbang akan terjadi jika pola kehidupan manusia masih menjalankan dan meyakini kelima kertih di atas. Jelas kesadaran dan keyakinan kehidupan yang senantiasa menjalankan spirit dan tatanan Sad Ketih akhirnya membuktikan filosofi kehidupan dan budaya masyarakat Bali adalah Tri Hita Karana, yaitu; hubungan yang seimbang manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam lingkungan dan hubungan manusia dengan sesamanya.

“Jadi apa yang dilakukan oleh Pak Putu Partayasa di sawahnya tanpa di sadari sedang menjalankan spirit Sad Kertih yang dalam filosofi budaya Bali diyakini sebagai enam unsur dasar sumber kesejahteraan umat manusia.”

Apapun yang dilakukan oleh umat manusia wajib diawali dengan proses penyucian jiwa (Atman Kertih ). Dalam masyarakat pertanian Subak dan aktivitas budaya di Bali hal itu masih nyata dan mudah kita lihat. Beragamnya upacara yadnya (panca yadnya ) bukan lah tanpa makna. Upacara yadnya adalah proses untuk selalu menyucikan jiwa semua makluk. Termasuk tikus, serangga dan sebagainya. Sehingga keberadaan tikus, serangga atau hewan lain disawah tidak berubah menjadi hama atau “mrana ”.

Jika kita maknai lebih jauh maka, “sistem pertanian Subak” di Bali boleh dikatakan ada karena manusia bali masih meyakini pola kehidupan yang menghormati gerak dan tananan alam atau hukum alam (Rta). Hukum alam tersebut kemudian terangkum dalam berbagai tattwa salah satunya adalah Sad Kertih.   Jadi subak adalah spiritnya, aktivitas pertanian di sawah (carik ) adalah salah satu bentuk implementasi dari spirit subak.

Beberapa aktivitas yadnya (Dharma Pemaculan) yang kerap dilakukan oleh petani   yaitu  upacara yang berkaitan dengan air  seperti: nangluk merana, pekelem di danu, ngusabha di ulun danu dan magpak toya atau mendak toya . Sedang upacara yang berkaitan dengan tanaman padi adalah: Mantenan somi, ngawit mungkah ngendang, ngurit, nwasen, nandur dan masih banyak lagi rentetan upacara lainnya.

Secara filosofis dapat kita simpulkan bahwa; kehidupan yang masih meyakini dan menghormati sepirit dan hukum alam akan melahirkan masyarakat yang berbudaya. Hal itu ditunjukan oleh aktivitas bertani di Bali relatif masih meyakini dan menjalankan tahapan yadnya diatas. Tidak salah jika budaya Bali sering disebut budaya agraris atau budaya yang menghormati spirit kebumian (semesta).

Jadi yang dimaksud “budaya Bali” adalah semua kativitas yang berangkat dari keyakinan spirit alam Bali yang terdiri dari unsur dasar yaitu; 1). Meyakini nilai kesucian setempat (iksha ) misalnya sikut kecucian, mitos dan sebagainya, 2). Meyakini dan menghormati pengetahuan setempat (sakti ) misalnya filosofi/tananan trimandala, triangga, hulu teben, asta kosala kosali dan sebagainya, 3). Meyakini bahwa setiap tempat atau kawasan wajib disucikan (desa ) terbukti adanya istilah kawasan suci, kawasan yang disucikan dan tempat suci, 4). Meyakini hari dan waktu yang suci (kala ) yaitu di Bali ditejemahkan dalam perhitungan waktu yang baik/suci seperti padewasan , rerahinan dan wewarigan. Dalam budaya Bali setiap aktivitas harus dilaksanakan pada hari yang baik (ayu), dan 5). Meyakini dan menghormati aturan/tatanan suci (tattwa). Jadi apapun yang kita lakukan hendaknya berangkat dari pemahaman yang jelas sesuai dengan tattwanya (aturan suci). Sehingga dasar, laksana dan tujuan sebuah kegiatan bisa berdampak baik bagi seluruh sisi kehidupan dalam alam mikro maupun makro, sekala dan niskala.

Akhir kata, belajar tentang filosofi budaya subak sesungguhnya akan mendekatkan kita pada kesadaran dan kejujuran terhadap nilai-nilai kebenaran dan spirit ber-Ketuhanan (MN).

 

 

 

(Artikel ini pernah dimuat di Tabloid Praja Bali Edisi 2 (29 Sep-5 Okt 2014) Hal 14).

____________________________

Penebel-Tabanan-Bali : 27 September 2014

Oleh : Made Nurbawa

 

 

Thu, 2 Oct 2014 @15:55


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 1+0+6

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?