''SIMANTRI BUMI'' GANGGANGAN

image

Masyarakat pertanian tradisional (Subak) di Bali,  dalam mengolah lahan sawah masih banyak menggunakan hewan sapi atau kerbau untuk membajak (metekap). Sebelum melakukan penanaman bibit padi (bulih), ada beberapa tahap yang harus dilakukan petani dalam pengolahan tanah sawah yaitu berturut-turut: Nengala, Ngelampit, Mungkahin, dan Nangsahan. Setelah selesai nangsahin baru lahan siap ditanami bibit padi.

 

Saat saya berkunjung di Subak Ganggangan Br.Pagi Senganan Penebel Tabanan Bali pada rabu, 24/9/2014, tiga orang petani sempat saya ajak bicang-bicang soal teknis pengolahan tanah di sawah. Mereka pun sangat antusias menceritakan pengalamannya di masa lalu dan saat ini. Dari mereka saya jadi banyak memahami hal-hal yang penting terkait pengetahuan lokal dan cara-cara tradisional dalam pengelolaan tanah, tata guna air dan pola tanam padi di sawah. Cerita mereka ternyata sangat terkait dengan teori dan isu-isu populer dibidang Ekologi, Ergonomi dan Ergologi yang kini banyak di bahas di dunia kampus atau mimbar seminar.

 

“Ergonomi adalah ilmu atau kaidah yang mempelajari manusia sebagai komponen dari suatu sistem kerja mencakup karakteristik fisik maupun nonfisik, keterbatasan manusia, dan kemampuannya dalam rangka merancang suatu sistem yang efektif, aman, sehat, nyaman, dan efisien. Ekologi adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya.SSedangkan Ergologi adalah penggabungan disiplin ilmu ergonomi dengan disiplin ilmu ekologi”.

 

Dari sisi ekologi ; “metekap” atau membajak dengan sapi secara langsung bisa mengontrol penggunaan air di sawah. Fungsi air disini adalah untuk mengontrol atau mengatur teknis kerja karena terkait dengan kepadatan atau struktur tanah. Dijelaskan menggunaan traktor dalam pengolahan lahan membutuhkan air jauh lebih banyak agar mudah dan cepat melakukan pekerjaan. Sedangkan Nenggala atau menggunakan tenaga sapi, kebutuhan air di sawah jauh lebih sedikit”. Perbandingannya bisa 1 berbading 15. “Artinya debit air yang mengalir di temuku (sambil tanggannya menunjuk ke arah temuku), jika menggunakan traktor hanya cukup untuk kebutuhan 1 lahan petani saja. Jika dengan sapi bisa untuk 15 lahan petani secara serempak,”terang Pan Taman.

 

Dampaknya adalah: jika pengolahan lahan dengan traktor seorang petani harus mohon ijin kepada petani lainnya untuk menggunakan air lebih banyak dari temuku (pembagian air). Kondisi ini menyebabkan petani di sebelahnya (hilir) tidak bisa mengolah lahan baik dengan sapi atau traktor karena harus menunggu petani yang menggunakan traktor selesai melakukan pekerjaanya. “Debit air lah yang mengontrol pekerjaan di sawah”.

 

Pengolahan lahan sangat terkait dengan sumber daya air dari hulu. Juga struktur air dari satu petak ke petak sawah lainnya maupun dari kawasan subak satu dengan subak lainnya. Semuanya berhubungan satu sama lain membentuk “satu kesatuan tubuh” ekosistem yang saling berpengaruh. Merubah tatanan di salah satu bagian akan memberi dampak secara keseluruhan ekosistem.

 

Dari aspek Argonomi : pengolahan lahan dengan sapi, seorang petani tidak harus membuang waktu dan tenaga untuk antre “meminjam” air kepada anggota subak lainnya. Karena mengolah lahan dengan sapi kecukupan air pasti lebih terjamin karena kebutuhan air lebih sedikit. Dengan demikian petani pemilik lahan bisa mengatur waktu pekerjaanya disawah sesuai dengan situasi dan  kebutuhannya.

 

Lebih jauh, aktivitas membajak pun disesuaikan dengan kemampuan alami tenaga sapi yang digunakan, yaitu; maksimal 5 jam (setengah hari). Secara kebetulan dalam 5 jam seorang petani pembajak juga sudah lelah. “Artinya sapi dan petani sudah sama-sama lelah”. Dari sini diketahui total waktu maksimal untuk melakukan pekerjaan secara nyaman adalah sekitar 5 jam per hari dan begitu seterusnya sampai pekerjaan membajak selesai. “Maka air dari sisi lingkungan dan sapi dari sisi instrumen kerja menjadi kontrol utama dalam mengukur tingkat kenyamanan kerja yang benar-benar efektif atau selaras alam”.

 

Dari aspek Ergologi : menggunakan traktor untuk membajak keseluruhan lahan sawah di subak Ganggangan bisa membutuhkan waktu 1 bulan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan air disamping faktor lainnya seperti: jumlah traktor dan tenaga operator (sopir traktor) yang terbatas sehingga pengerjaan harus bergantian. Jika dengan sapi waktu yang dibutuhkan untuk mengolah keseluruhan lahan cukup 10-15 hari saja. Karena kebutuhan air untuk membasahi tanah jauh lebih sedikit, sehingga air yang tersedia bisa untuk lahan yang lebih luas. Dijelaskan pula pengolahan tanah dengan traktor dalam waktu yang cukup lama menyebabkan tanah sawah lebih keras (katos), berbeda dengan pengolahaan dengan cara tradisional (metekap dengan sapi).

 

Dari sini bisa dilihat perbedaan dan dampak menggunakan traktor atau sapi dalam mengolah lahan. Pilihan alat akan berpengaruh nyata terhadap penggunaan air, biaya dan waktu pengerjaan. Variabel tersebut jelas berpengaruh nyata terhadap aktivitas petani dan pada akhirnya memberi dampak dari sisi ekonomis, aktivitas adat dan budaya baik di wilayah subak maupun pakraman.

 

Menurut pengalaman Pan Taman, “mengolah lahan dengan sapi kepadatan gulma jauh lebih sedikit dibandingkan traktor. Perbadingannya nampak nyata saat pembersihan gulma (mejukut). Lahan yang di olah dengan sapi, waktu yang dibutuhkan untuk mejukut untuk luasan lahan sekitar 60 are cukup 2-3 hari saja. Sedangkan lahan yang diolah dengan traktor bisa mencapai 10 hari. Disamping itu lahan yang diolah dengan sapi penggunaan pupuk kimia akan berkurang dibandingkan traktor dan hasilnya pun lebih bagus,”terangnya.

 

Jika ongkos tenaga kerja mejukut per hari Rp. 60.000,- maka perbadingan biaya Rp. 180.000,- untuk lahan yang diolah dengan sapi dan Rp. 600.000,- yang diolah dengan traktor. “Kepadatan gulma pun bisa memancing penggunaan insektisida kimia untuk mempercepat pekerjaan”.

Dari gambaran diatas, perbedaan metode/alat berpengaruh nyata terhadap biaya dan waktu. Hal ini otomatis mempengaruhi aktivitas lainnya, mulai dari tingkat kenyamanan, dampak lingkungan dan aktivitas budaya setempat.

 

“Tapi kini saat musim kemarau panjang petani di Subak Ganggangan seperti berada dalam masa transisi; ketika kembali mengolah lahan dengan sapi, jumlah kepemilikan sapi oleh petani sangat terbatas. Dan sebaliknya jika menggunakan traktor keberadaan air juga terbatas”.

 

Mendengar penjelasan mereka jelas “sistem pertanian terintegrasi” sesungguhnya bukan hal yang baru bagi krama subak Ganggangan. Justru pengalaman mereka sudah teruji secara turun temurun dalam bingkai spirit Subak.  Dari pengalaman mereka saya bisa belajar tentang “kekhususan Bali”. Hal ini penting mengingat masih banyak program pemerintah yang cendrung dilaksanakan dengan pola seragam di tengah potensi alam dan budaya yang beragam.

 

Perbedaan potensi di masing-masing wilayah subak di Bali sudah semestinya menjadi pertimbangan dalam perencanaan program yang lebih selaras alam dan “selaras perasaan”. Apalagi saat ini UU Desa No. 6 tahun 2014 memberi ruang dan pengakuan secara hukum terhadap keberadaan desa adat dan hak-hak tradisional yang masih hidup didalamnya secara turun temurun. Jika tidak, saya ragu kalau kearifan budaya subak akan terwariskan bagi masyarakat dunia, seperti apa yang menjadi tujuan pemerintah dalam program UNESCO tentang Warisan Budaya Dunia.

 

UNESCO menekankan pentingnya pelestarian terhadap filosofi, budaya dan keyakinan terhadap spirit Subak, yang mana salah satu indikator utamanya adalah terpeliharanya ekosistem alami sumber daya air Bali termasuk yang berada di wilayah “catur angga” Watukaru Tabanan.

 

Dari subak Ganggangan saya pun banyak belajar dan memperoleh pengetahuan tentang “SIMANTRI BUMI " yang murni dan alami. (MN).

 

 

 

Subak Ganggangan, 24/9/2014

Made Nurbawa

 

 

 

 

Wed, 24 Sep 2014 @23:32


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?