RUNGU CATUR ANGGA

image

Menuju utara kami bergerak menyusuri kelok jalan. Pagi itu jalan masih sepi. Kabut di atas bukit pun belum beranjak pergi. Di ujung puncak kami berlahan lalu berhenti. Disambut indah hamparan, danau dan hijau pegunungan.

Tidak lama, bersama kami beranjak melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan menurun menuju tepian danau Tamblingan. Danau asri berair jernih, hening, dikelilingi bukit hijau dengan luas sekitar 1,9 kilometer persegi. “Setelah berkoordinasi dengan penduduk setempat, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini dengan tiga perahu kayu untuk mengantarkan kami ke titik tujuan”.

Hening ditengah danau, terkagum suasana yang pertama kali saya lalui. Bersama pemangku berbagai cerita tentang panji-panji keyakinan dan tradisi hulu ke hilir, “nyegara gunung”. Mulai dari air yang memberi pengetahuan, air yang memberi kehidupan, air yang menuturkan tatanan keteraturan, air yang mengairi ribuan temuku para petani, air yang membasahi ribuan keran di perkotaan, air yang menciptakan kesejahteraan, dan seterusnya.

“Tapi kini air mulai menimbulkan kecemasan karena keringnya sawah-sawah dan keringnya keran air di perkotaan.”

Secara geologis dan topografis, danau Tamblingan adalah hulu air jagat Tabanan. Menciptakan puluhan mata air dan aliran air di dataran rendah. Membentuk peradaban dan tatanan palemahan pakraman. Menumbuhkan aktivitas pertanian dalam spirit Subak (asta bumi). Mengairi aliran sungai yang terhubung satu dengan yang lain.

“Tercatat aliran air Tabanan mampu mengairi 22.435 hektar sawah (Th 2012). Mampu menghidupi rumpun padi rata-rata seluas 14.493 hektar per tahun. Berarti mampu memberi nilai ekonomi kerakyatan padi gabah setidaknya Rp. 579.720.000.000,- per tahun. Belum lagi sektor perikanan, industri, sayuran dan hasil bumi lainnya. Luar biasa dan sudah berjalan berabad-abad”.

Pagi itu minggu 21/9/2014, hening Tamblingan telah mengingatkan saya tentang bentang alam (palemahan) yang disucikan. Kawasan yang kini disebut-sebut oleh masyarakat dunia dan badan dunia UNESCO sebagai bagian “Catur Angga” warisan budaya dunia.

Danau Tamblingan, telah memberi saya diagnosis sindrom “TUNA RUNGU” (tak mendengar) tentang sistem warisan dalam menghormati kepatutan dan tradisi pemeliharaan alam (yadnya), khususnya sumber daya air   di kawasan Catur Angga Watukaru.

“Masuk akal juga seorang karib menyebut Tamblingan –“Tambe Elingan”, yaitu obat kepedulian atau kesadaran agar kita tetap mampu dan mau mendengar (rungu) tentang pelestarian sumber daya air dan panji-panji tradisional yang berhubungan dengan penghormatan kawasan Catur Angga Watukaru”.

Semoga saya mulai bisa mendengar  sehingga “Rungu”, kalau tidak berarti saya termasuk golongan “Tuna Rungu”.

“Mapiungu” atau mapekeling. Mohon restu pada Sang Pencipta. “Ungu” di Bali disebut “Tangi”. Mapiungu adalah kesadaran kita untuk sama-sama “metangi” atau bangun dari tidur panjang dari dasar ketidaksadaran. Tidak sadar kalau air harus terus kita muliakan. Dalam tradisi subak kita kenal dengan upacara Magpag Toyo. Ampura hanya cerita guyon dari sana. Suksme. (*).



Made Nurbawa, 21/9/2014
Artikel yang sama juga di muat di www.talov.org
dengan sedikit perubahan judul.

 

Tue, 23 Sep 2014 @01:05


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 1+6+7

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?