''DONGKAANG'', CERITA DI TEPI KOLAM

image

Sebait pengetahuan tak tertulis mengalir begitu saja dari kesadaran mereka. Tentang adaptasi, mitigasi dan tradisi ditengah kemarau panjang yang sedang melanda bumi pertiwi.

Siang itu 7/9/2014, sepenggal informasi terungkap saat kami duduk bersama sambil menikmati kelapa muda di tepi kolam, subak Geduh Br. Pagi Senganan Penebel Tabanan Bali.

Mereka meyakini Purnama Katiga, Angara Umanis Wayang (9/9/2014), hari yang penuh rasa bakti dan penantian. “Purnama Katiga dalam perhitungan kalamasa diyakini sebagai puncak kemarau pada tahun ini”.

Para petani (krama subak) berharap setelah hari Purnama Katiga ini hujan akan turun membasahi bumi. Dengan demikian kekeringan yang melanda segera berakhir. Sawah-sawah mereka pun diharapkan terhindar dari kekeringan. Sehingga bibit padi yang telah ditanam bulan agustus ini tidak gagal tumbuh.

Sebaliknya jika paska Purnama Katiga ini tidak turun hujan, mereka meyakini kemarau akan tambah panjang, maka kekeringan pun menerjang. Artinya sawah-sawah akan mengering kerontang. Kerontang mengeras seperti batu karang (“Kaang”). Petani berdoa dan terus memohon, semoga hujan segera datang, sehingga sawah mereka tidak (“dong”) kering kerontang atau “Dongkaang”.

Memang beberapa minggu terakhir sawah-sawah dibeberapa subak di Tabanan mulai kekeringan, air dari hulu mengecil. Bahkan beberapa pancoran (beji) juga kering. Kecemasan pun melanda para petani khususnya petani padi sawah. Bahkan beberapa krama subak di Tabanan mulai “ronda” siang malam di lokasi pembagian air. Mereka menjaga aliran air agar tetap lancar (maaf agar tidak ada yang mengganggu).

Cerita mereka tentang kelangkaan air di Tabanan (Bali) mengantarkan saya pada cerita dan fakta yang berbeda, cerita air bukan lagi sebatas debit atau saluran irigasi. Bukan juga soal empelan, temuku atau talikunda. Bukan juga soal tarif atau kemasan. Kini wacana air sudah menyentuh batas-batas tattwa dan etika, juga soal batas-batas keadilan dan hak asasi manusia.  

Sudah saatnya keberadaan air, aliran air dan pengelolaan air, hadir sebagai indikator utama isu kemiskinan, rasa kebangsaan, kemartabatan dan sebagainya. Sehingga kemarau panjang tahun ini bisa dilalui dengan rasa iklas dan tetap bersyukur dalam bingkai keyakinan tatanan budaya-“Subak”.

Namun diam-diam pikiran saya terusik. Jangan sampai kelangkaan air (krisis air) memicu keresahan berkepanjangan, apalagi “saling atat saling pentil” bisa-bisa “Bene dongkang kipa atau enjok-enjok cunguh besil”, seperti makna filosofis sosiologis bait lagu dolanan anak-anak : “Semut-Semut Api”. (MN).

 




(Tbn, Purnama Katiga, 9/9/2014)

 

 

 

 

Wed, 10 Sep 2014 @00:07


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 2+3+7

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?