Air Terjun Sekumpul, Mutiara di Bali Utara

image

Air terjun Sekumpul memang mempesona, mengalir dari ketinggian bukit batu yang menurut penduduk setempat masih berada di wilayah desa Lemukih, Kecamatan Sawan-Buleleng. Lokasi air terjun percis berada diperbatasan antara desa Sekumpul dan Lemukih, dipisahkan oleh sungai di kaki bukit hijau berdingding batu yang curam.

Walau air terjun ini masih berada di wilayah desa Lemukih, tetapi akses jalan masuk hanya bisa dilewati dari desa Sekumpul. Sehingga pemandangannya yang menawan praktis hanya bisa di lihat dari wilayah desa Sekumpul.

Menurut Gede Warmika dan Nyoman Arsana, warga setempat yang sehari-hari sebagai guide lokal mengatakan, air terjun utama memiliki ketinggian kurang lebih 80 meter, airnya berasal dari mata air, sehingga debitnya stabil sepanjang tahun. Sedangkan satu lagi disebelahnya adalah berasal dari aliran air sungai dari pegunungan diatas bukit.  Air terjun utama curahannya terbelah, bercabang tiga, menampilkan panorama yang indah di pandang mata.

Dari anak tangga tempat kami berdiri, disebelah kanan air terjun utama, nampak jelas kilau putih menggoda mata. Rupanya di kejauhan di belahan kaki bukit,  ada lagi air terjun yang lain, nampak putih berkilau indah berlatar hijau dedaunan.

“Di areal ini ada 9 air terjun, sebagian berada di balik dinding bukit sehingga tidak semua terlihat dari lokasi tempat kita berdiri. Bahkan sebagian belum memiliki akses jalan,”jelas Nyoman Arsana. Memang kedua bukit di lokasi ini memiliki dinding yang berkelok sehingga untuk melihat air terjun yang lain harus berjalan memutar menyusuri bukit.

Akses jalan menuju air terjun Sekumpul sudah lumayan bagus. Dari Denpasar kita bisa melalui arah badung utara melewati desa Pelaga, tembus ke Desa Catur Bangli dan terus menuju arah jalan utama Kubutambahan. Tiba di desa Tamblang kemudian belok kiri kearah barat melewati desa Bon Tihying, Pakisan dan tembus di Desa Bebetin, dari Bebetin lalu belok kanan ke arah “kaja” (arah selatan di buleleng) lebih kurang 4 kilometer. Dari jalur ini belum bisa dengan kendaraan Bus. Jalur lain, bisa melalui kota Singaraja, ketimur ke menuju arah Desa Sangsit-Sawan Buleleng. Di pertigaan desa Sangsit kemudian belok kearah “kaja”,  menuju desa Jagaraga, Bebetin dan tiba di Desa Sekumpul. Dari pertigaan Sangsit jarak tempuh sekitar 10 Kilometer.

Pengunjung yang mengendarai mobil bisa menempuhnya hingga lapangan parkir utama obyek wisata air terjun Sekumpul. Selanjutnya pengunjung harus berjalan kaki menyusuri jalan beton sejauh lebih kurang 300 meter atau bisa juga naik sepeda motor. Jika naik sepeda motor pengunjung sebaiknya minta bantuan kepada guide lokal atau penduduk setempat yang sudah hafal dengan jalan beton yang berkelok dan lumayan curam.

Dari areal parkir utama, pengunjung bisa langsung ke lokasi air terjun dengan membayar tiket masuk Rp. 5000,- . Selama perjalanan dijamin tidak membosankan karena disepanjang jalan kita bisa menikmati indahnya perbukitan, juga rumah-rumah penduduk dibalik rindang hijau kebun cengkeh, kopi dan buah-buahan lokal seperti; durian, rambutan dan sebagainya.  Mata kita pun akan dimanjakan oleh aliran air bening menyejukan di sepanjang parit tepi jalan beton yang lumayan sempit.

Seteleh melewati jalan beton lebih kurang 15 menit, kita akan tiba di sebuah warung kecil penjual minuman dan cendramata milik penduduk setempat. Kita bisa istirahat sejenak untuk ke toilet atau membasuh  muka di pancuran.  Dari warung ini, sepeda motor tidak bisa lewat lagi. Kita harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menapaki sekitar 350 anak tangga menuju sungai lokasi jatuhnya air terjun.

Saat menyusuri anak tangga yang berliku, kita sudah bisa melihat indahnya air terjun dari ketinggian punggung bukit. Benar-benar indah menabjubkan berselimut kabut berhiaskan pelangi saat siang hari. Kita pasti tidak tahan untuk tidak mengabadikannya dalam kamera photo sambil melihat-lihat ke kiri dan ke kanan menyapa indahnya hijau pepohonan di punggung bukit yang konon di huni oleh puluhan monyet liar.

Saat kami melangkah menuju sungai di bawah, beberapa kali kami berpapasan dengan wisatawan manca negara. Menurut Gede Warmika, guide lokal yang mengantar saya, setiap harinya minimal ada 25 orang wisatawan asing berkunjung ke obyek wisata alam ini.   Wisatawan asing yang datang umumnya berasal dari Eropa seperti: Jerman, Perancis dan Rusia. Bahkan saat-saat tertentu bisa mencapai 50 orang per hari, jelas Warmika yang juga bersama teman sedesanya mengelola paket tracking.

Sejak dibukanya akses jalan pada tahun 2004 obyek wisata air terjun ini terus bergeliat melengkapi daya tarik kunjungan wisatawan menuju Bali utara. Agen perjalanan biasanya mengkemas dalam satu paket perjalanan dari Lovina, Jagaraga dan air terjun Sekumpul. Sejak beberapa tahun terakhir, perhatin dan dukungan pemerintah daerah Buleleleng dan pemerintah provinsi Bali pun terus menyertai dalam penataan obyek wisata alam ini.  

“Saat ini obyek wisata alam air terjun Sekumpul dikelola oleh Desa Adat, tahun 2014 ini akan dilakukan pembenahan dan penambahan fasilitas pisik dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM dan manajemen, tahun ini desa kami memperoleh dukungan dana hibah dari Pemprov Bali melalui program Gerbangsadu Mandara,”jelas Made Suarta, Perbekel Desa Sekumpul saat kami bertemu   pada Sabtu 26/7/2014 di wantilan desa, saat mereka membahas program Gerbangsadu bersama Tim Evaluasi Gerbangsadu Mandara Pemprov Bali, anggota LPM, BUMdes dan tokoh masyarakat lainnya.

Keberadaan air terjun Sekumpul benar-benar mutiara bagi pengembangan kepariwisataan di Bali utara. Potensi sumber daya alam yang tiada tara. Suatu saat nanti pasti obyek wisata ini akan berkembang, mengikuti jejak wisata air terjun Gitgit yang sudah lebih dulu terkenal dan menjadi daya tarik wisatawan manca negara.

Keindahan alam air terjun Sekumpul ibarat bunga yang baru mekar, indah jelita menggoda kumbang-kumbang untuk datang. Potensi alam yang masih relative “perawan”. Semoga kedepan pengelolaan air terjun ini benar-benar tertata bijaksana dan penuh tanggungjawab, berkelanjutan, mensejahterakan dan mampu memperteguh penghormatan/kemartabatan budaya dalam bingkai filosofi adat dan budaya Bali (Tri Hita Karana). Sehingga “mutiara” wisata Bali utara ini dapat memberi kesejahteraan bagi masyarakat desa Sekumpul dan desa lain yang ada disekitarnya.

 

Penulis : Made Nurbawa

(Sabtu, 26 Juli 2014)

Tulisan ini pernah di muat di harian Pos Bali tanggal 31 Juli 2014 halaman 16.

 

 

Fri, 1 Aug 2014 @09:51


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?