Gema Pelangi di Ambara

image

Sejak lama kota Tabanan popular dengan sebutan “Kota Pelangi”. Belum diketahui sumber yang jelas, kapan dan siapa sesungguhnya pencetus awal sebutan kota pelangi tersebut.

Populernya sebutan kota pelangi tidak bisa lepas dari peran lembaga penyiaran radio yang ada di kota Tabanan saat itu. Masyarakat Tabanan pasti masih ingat sejak tahun 1970-an hingga 1980-an “Kota Pelangi”-Tabanan kerap disebut-sebut oleh semua penyiar radio saat bersiaran-menyapa penggemar di kota hingga di pelosok desa.  

Menurut salah satu sumber dan pelaku penyiaran kelahiran Tabanan, yaitu: Bapak Bisma Putra dijelaskan, bahwa tahun 1971 saat dirinya masih sangat belia, sudah aktif utak atik peralatan radio bersama teman, tetangga dan kerabatnya. Pada pertengahan   tahun 1970-an saat duduk di bangku SMP kelas satu Pak Bisma sudah menjadi penyiar aktif pada radio amatir dengan nama udara “Radio Mercury71”- yang dipancarluaskan dari salah satu sudut gedung kompleks Dodik Kediri Tabanan. “Pak Bisma menyebutnya Radio Mercury sebagai radio mainan”. Kurun waktu yang sama muncul juga “komunitas radio Pelangi” di kota Tabanan (Sakenan Baleran).

Tahun berikutnya Bapak Bisma Putra mengembangkan Radio Mercury dan mendirikan radio swasta komersial (AM) dengan nama Radio Megantara (1976). Pada awal-awal bersiaran di radio Megantara (sempat beberapa kali pindah lokasi stasiun), Pak Bisma selalu menyebut kota Pelangi saat bersiaran.

“Radio Megantara ini pun beberapa kali mengalami “perombakan” karena ada perubahan kebijakan perijinan dan pengkanalan frekwensi dari AM ke FM”oleh pemerintah.

Pada tahun 1980-an di Tabanan berdiri juga radio lain yaitu; radio ALBA, praktis dua radio ini lah yang selalu menggunakan sebutan “Kota Pelangi” pada setiap kali bersiaran dari Kota Tabanan- sehingga sebutan kota pelangi dikenal luas hingga seluruh Bali.

“Adanya perubahan sosial dan kultur dunia penyiaran adalah salah satu penyebab sebutan kota pelangi rada-rada memudar” di ambara. Berkembangnya sarana transportasi, menyebabkan masyarakat Tabanan sempat “berkiblat” ke lembaga penyiaran yang ada di Denpasar yang lebih dahulu berkembang dengan jangkauan yang lebih luas.”

“Dalam beberapa waktu sebagian masyarakat Tabanan ke Denpasar atau bekerja di Denpasar terkesan lebih bergengsi”. Biasanya masyarakat Tabanan menyebutnya “luas ke Badung” (maksudnya Denpasar-Red).

Ketika ditanya apa sebenarnya filosofi dan spirit kota pelangi? Pak Bisma Putra menuturkan, bahwa sebutan kota pelangi karena hal itu adalah cerminan sekaligus kebanggaan, bahwa Kabupaten Tabanan atau Kota Tabanan memiliki kondisi alam yang sejuk, masyarakat kota yang toleransi, sejahtera, damai dan penuh keakraban, disamping kota hujan dan sering terjadi peritiwa alam “bianglala atau Pelangi” di ambara (angkasa),” terangnya Pak Bisma dengan lugas.

Saat itu, tidak sedikit para muda dan mudi Tabanan “bertemu jodoh” alias "mekunyit di alas" karena kenal melalui siaran radio. Juga penggemar dari pelosok desa datang ke studio membawa buah-buahan dan oleh-oleh. Bahkan terbentuk komunitas penggemar yang eksis dengan berbagai kegiatan sosial, terang Pak Bisma yang sempat terpilih menjadi ketua Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Bali (1999-2002).

Kini 43 tahun kemudian (1971-2014), sehari menjelang Pemilu 2014, atau 81 tahun sejak Mangkunegoro VII mendirikan Radio Ketimuran- “Solosche Radio Verreniging” (SRV) pada 1 april 1933 di Solo, saya bersyukur diingatkan kembali tentang spirit Kota Pelangi Tabanan yang sempat sepi di Ambara”. (MN).

 


Tabanan, (8/4/2014)

Made Nurbawa

 

(*Mohon maaf jika ada salah data dan penulisan, koreksinya durusang !.)

 

 

 

 

Wed, 9 Apr 2014 @00:49


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 8+6+1

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?