Menyapa Ujung Telaga Tunjung

image

Setelah lama tertunda, siang itu akhirnya sampai juga di ujung telaga. Telaga besar yang kini menyimpan banyak cerita dan legenda. Telaga itu adalah Bendungan Telaga Tunjung, “monomen air” buatan yang selesai dibangun tahun 2009 lalu di Desa Timpag Kerambitan Tabanan Bali.

Saat berkunjung dari arah desa Timpag,   air bendungan penuh berlimpah laksana kaca raksasa. Ada jalan kecil disekelilingnya. Saya coba telusuri hingga sisi barat. Dari sudut ketinggian teduh pohon albesia, nampak pemandangan yang mempesona. Terlihat beberapa orang berdiri di tepi bendungan memancing ikan.

Penasaran, di sisi barat saya lanjutkan perjalanan menuju utara. Melintasi jalan kecil membelah hijaunya tegalan warga-sepi. Berliku naik turun dan bercabang, lumayan lancar karena jalan kering tak basah diguyur hujan. Di beberapa bagian jalan sudah dirabat beton.   Beberapa kali saya harus bertanya dengan penduduk di pertigaan-mencari arah ujung Telaga Tunjung.

Saat berhenti ditepi sawah ujung tikungan, seorang terdengar membunyikan klakson dari arah belakang. Sungguh tak terduga ternyata Ia seorang kawan. Beberapa menit kami bertegur sapa heran sama-sama tak menyangka. Arah perjalan kami pun sama menuju kampung kecil di ujung bendungan: Pondok Meru-Meru. Ada seorang kawan disana.

Hanya beberapa menit kami tiba di perkampungan Pondok Meru-Meru. Kampung yang sunyi, sejuk oleh ribun pepohonan. Terlihat subur kelapa, kakao buah-buahan dan sebagainya. Kampung ini didiami sekitar 10 KK yang secara kedinasan termasuk wilayah banjar Pegubugan Kangin Desa Pesagi-Penebel.

Duduk di bale bengong-tak lama suguhan kopi manis datang terasa nikmat. Berbagi cerita tentang potensi desa, membedah makna, struktur sosial, budaya dan kearifan lokal lainnya. Selanjutnya bersama kami juga meyusuri setapak, mengenali dan memahami artifak lama. Melengkapi kisah denyut air jagat Tabanan-antara tukad Yeh Mawa dan Yeh Ho, dua sungai yang menyatu (Campuhan) yang kini membentuk “monomumen air”–Bendungan Telaga Tunjung.

Bendungan Telaga Tunjung, sejak awal dirancang untuk mengairi sekitar 24 subak dengan luas total 2.410 Ha lahan sawah, juga sumber air bersih, wisata alam, perikanan dan sebagainya. Bendungan ini mampu menampung air sekitar 1.261.000 M3 air dengan luasan mencapai 16, 5 Ha.

Semoga “monument air” yang sudah terlanjur dibangun dengan biaya hampir 1 triliun ini tak sia-sia. Dan sebaliknya bisa menjadi simbul kesuburan dan kesejahteraan bagi masyarakat dan jagat Tabanan/Bali.   “Tentu jika kita berkenan kembali memahami dan menghormati, spirit budaya dalam pustaka dan pusaka luhur yang masih tersimpan rapi”. (MN).

 

Tabanan, 2 Pebruari 2014

By: Made Nurbawa

 

 

Sun, 2 Feb 2014 @12:29


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+3+1

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?