Pekak Renes : Saat Tugas Ke Kantor Jawatan

image

Sore, ngobrol santai dengan Pekak Renes. Beberapa tahun silam, Pekak Renes pernah bekerja disebuah perusahaan. Tugasnya srabutan, tapi gajinya lumayan. Suatu hari Ia ada tugas penting dari bosnya, besok pagi harus mengantar surat dan bertemu orang penting di sebuah kantor jawatan, pagi pukul 08.00 wita. Pekak Renes tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan bosnya. Saat pulang kerja, dari telepon umum koin, Ia langsung mengontak karibnya yang bertugas di kantor jawatan Itu. Bahwa, besok Ia akan nangkil.

Esok harinya, Pekak Renes merasa bersalah. Pagi itu, Ia bangun kesiangan akibat “SMS” (sisa mabuk semalam). Ia terlambat 30 menit dari rencana. Ia buru-buru pakai baju, berharap masih bisa bertemu bapak Kepala Jawatan. Sayang ketika hendak berangkat hujan bales magrudugan. Ia pun galau dan risau. “Pak Bos pasti marah,”pikirnya. Maklum surat penting itu adalah dokumen tender proyek milyaran-APBD.

Pekak Renes sesaat memilih duduk di bangku teras rumah. Rokok kretek Ia buang walau baru terisap separo. Dan sesaat hujan mulai reda, Pekak Renes tancap gas motor RX Special kesayangannya yang belum di samsat. Di pertigaan ujung gang Ia bertemu karibnya melintas lalu berhenti, belum sempat bertanya, karibnya sudah duluan mengabarkan kalau Bapak Pimpinan Jawatan mendadak berangkat dinas ke Jakarta, pagi-pagi buta.

Mendengar kabar itu, Pekak Renes tarik nafas panjang sedikit lega. Walau masih merasa bersalah setidaknya ada alasan factual untuk si Bos. Ia tetap melanjutkan perjalanan menuju kantor jawatan itu. Di ruangan depan, Ia bertemu seorang pegawai pangkat rendahan. Pura-pura tidak tahu. Dari informasi pegawai itu ternyata informasinya sama dengan karibnya. Bapak Pimpinan tidak ada karena mendadak ada acara ke Ibu kota. Pekak Renes lalu balik pulang.

Tiba di rumah Pekak Renes Kembali duduk di bangku teras. Ia menatap bunga alamanda bergoyang di terpa angin. “Kita boleh saja merencanakan, awalnya begitu resah dan merasa bersalah karena terlambat bangun akibat mabuk semalam. Tapi disisi lain alam ternyata “benar” karena saat yang sama, saat masih tidur dan hujan bales, bapak Pimpinan Jawatan yang mau Ia temui sebenarnya sudah tidak ada di kantor karena tugas mendadak. Jadi antara “salah benar” dan “benar-benar salah” seperti dua sisi mata uang. Peristiwa yang ia alami benar-benar tidak Ia duga (force majeure) . Manusia memang bukan maha tahu. Namun kita sering terjebak dalam logika dan pikiran “salah benar” dalam melakoni hidup,” terang Pekak Renes saat mengenang kisah uniknya di masa lalu. (MN).

 

Tbn, 22/1/2014

 

Wed, 22 Jan 2014 @11:44


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 1+8+1

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?