Pasar dan Peken

image

Pasar kalau berarti sebagai tempat pertemuan antara “permintaan dan penawaran” (teori ekonomi modern) sesungguhnya tidak ada bedanya antara pasar modern, pasar tradisional, pasar rakyat, pasar pemerintah, pasar senggol, pasar kodok dan sebagainya. Walau bentuk jenis produk atau pisiknya sering kali beda.

Pasar dilihat dari sisi pengelolaan dan kepemilikan, dalam pengetahuan saat ini juga dibedakan antara Pasar Pemerintah (sebagai Perusahaan Daerah), Pasar Swasta (Spermarket dan sebutan lain), dan Pasar Desa.

Kata “Peken” jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia disebut : “Pasar”. Namun dalam konsepsi/tatwa di Bali dan fakta yang terjadi sekarang, tidak semua “Pasar” sama dengan “Peken”. Kalau begitu, apa makna/filosofi “ Peken” di Bali?

“Peken” (pasar tradisional) di Bali, bukan fokusnya hanya sebatas service, kualitas, produk, distribusi, suasana, bangunan, manajemen saja, tetapi “Peken” termasuk “Pekenan” sangat erat kaitannya dengan Yadnya. Hal ini erat kaitannya dengan pemaknaan “Sukla “ dan/atau tidak “Sukla” sebuah produk. Oleh Pelaku di Peken dan Pekenan, makna Sukla diyakini/dimaknai sebagi “Roh atau Jiwa” sebuah produk. Dengan kata lain; Peken diyakini menyediakan produk yang “berJiwa” suci. Hal ini erat kaitannya dengan tujuan Yadnya. 

“Bahkan konon katanya, dalam filosofi Peken dan Pekenan di Bali, tidak perlu khawatir membeli produk di “Peken” karena semuanya sudah diyakini berstatus “Sukla”. Karena setiap produk yang masuk dan dibeli di Peken akan menjadi “Sukla”, hal ini erat kaitannya dengan konsepsi/tatwa Ida Bethara Mas Melanting yang ada di Peken (Pura Swa Gina). 

Makanya bagi pedagang di “Peken” pada saat mau memulai berdagang atau menjual produk tidak cukup hanya mendapat “ijin” dari pihak Kedinasaan atau otoritas Peken saja. Tapi harus didahului dengan Mapekeling di Pura Melanting. Bahkan tatkala pedagang di “Peken” mengalami kerugian atau menurunnya keuntungan, tidak berani menyalahkan pesaing atau siapa pun. Semuanya akan dijadikan perenungan ke dalam, dan dimohonkan “petunjuknya” di Pura Melanting. Dan terkait dengan kecermatan perhitungan dan/atau kejujuran pun tidak selalu mengandalkan mesin hitung/mesin saja. Biasanya ukuran “Kejujuran dan Perhitungan” sering kali diserahkan pada kehendak yang Maha Kuasa yang melinggih di Pura Melanting.

Lebih jauh, pelaku Peken dan Pekenan sangat meyakini bahwa “tidak berani/boleh mencari keuntungan/laba secara extrim (kemaruk) atau keuntungan sebesar-besarnya untuk diri sendiri atau perusahan sendiri saja (monopoli), karena takut diberikan “sanksi” secara skala dan niskala oleh Ida Betara Melanting (konsepsi ini berdampak terjadinya pemerataan pelaku, pendapatan dan keseimbangan/Tri Hita Karana dalam wilayah Parahyangan, Palemahan dan Pawongan). 

Memang, filosofi dan tatwa “Peken” di Bali sangat mendalam dan universal. Bisa jadi 'peken" yang saya maskud hanya ada di Bali. “Bahkan konon katanya, lokasi Peken dan Pekenan pun tidak boleh di lakukan sembarang tempat. Hal ini sangat berbeda dengan pola pembangunan Pasar Modern yang menjadi kecendrungan saat ini. Sangat mudah terlihat, dimana ada lahan kosong, asal ada uang, dimana pun jadi.”

Dari gambaran diatas semoga bisa sedikit dilihat perbedaanya. Mana yang dimaksud Pasar Modern, Pasar Tradisionil/Peken, Pasar Pemerintah dan/atau Pasar Swasta dan sebagainya. Dan kita pun seharusnya menyadari, apakah kita sedang bekerja atau sebagai “pelaku Pasar Modern” atau “Pelaku Peken dan Pekenan”? Dan kita pun tidak harus buru-buru merubah Peken/Pasar Tradisional supaya diangap/menjadi “Pasar Modern” atau menyebut dan disebut “Pasar Modern”, begitu juga sebaliknya.

Dijaman Keduniawian (hedonis) seperti sekarang ini, sayang sekali hal-hal seperti dimaksud diatas tidak terjelaskan dan dipahami lagi. “Bahkan entah terkait atau tidak, ditengah maraknya pembangunan pasar modern di Bali yang konon dapat meningkatkan pendapat /kas/pajak daerah, dan menyerap ribuan tenaga kerja, “hironis” orang Bali justru “sibuk” menjual tanah leluhurnya,“begitu kata tetangga saya. 

Ahh, benar atau tidak, yakin atau tidak, semunya kembali dalam “Jalan Sunyi” perenungan. Dan maaf jika ada kekeliruan, karena pendapat ini hanya kegalauan saja. Suksme. (MN).

 

Tabanan,  14 Des 2012.

Made Nurbawa

Top of Form

 

 

 

Thu, 16 Jan 2014 @00:05


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 0+8+9

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?