Kisah Lugu Pan Julungwangi

image

Desa Bukit Teja terletak cukup jauh di bagian tenggara Gunung Watukaru. Desa ini cukup subur karena aliran air dari gunung yang mengalir lewat empat sungai besar yang mebelah desa yaitu: Yeh Sipuh, Yeh Teja, Yeh Peyuyuan, dan Yeh Panah.

Diantara sekian warga desa Bukit Teja yang sebagian besar bertani, ada seseorang yang ulet bernama Pan Juluwangi. Ia sudah beristri dan memiliki tiga orang anak. Pan Julungwangi dan Men Julungwangi menggarap sepetak sawah dan ladang yang tidak begitu luas. Ia pun bergabung sebagai krama subak di desanya.

Pan Julungwangi dikenal lelaki yang lugu, tidak banyak menuntut dan suka menolong. Hanya saja Ia sering berhadapan dengan orang yang rakus, curang dan dengki. Entah karena beruntung atau karena suratan takdir, Pan Julungwangi selalu diberi jalan untuk setiap masalah yang menimpanya.   “Sebagai krama subak Pan Juluwangi selalu mengawali aktivitas dengan doa dan persembahan sebagai rasa syukur dan bhakti kepada Sang Pencipta.”

Suatu hari dan sudah sering terjadi, sawah Pan Julungwangi kekeringan karena saluran air yang menuju sawahnya ditutup oleh warga petani yang rakus dan dengki. Pan Julungwangi berusaha menangkap pelakunya. Namun Ia tak berdaya, Ia hanya bisa berdoa dan berdoa. Hingga suatu malam hujan lebat. Air hujan membanjiri sawah warga, bahkan besarnya limpahan air membuat pundukan/pematang sawah warga gembid (longsor). Dan ternyata sawah Pan Juluwangi tidak apa-apa. Rupanya aksi penutupan saluran air ke sawah Pan Julungwangi oleh warga yang rakus dan dengki malam itu, justru menguntungkan Pan Juluwangi. Padi dan pundukan sawah Pan Julungwangi tidak ada yang rusak. Karena saluran air yang ditutup membuat sawah Pan Julungwangi bebas dari terpaan banjir karena hujan yang sangat lebat.

Masih banyak lagi kejadian lain yang menimpa jejak hidup Pan Julungwangi. Namun dengan keluguannya Pan Julungwangi justru banyak tertolong. Malah mereka yang sering melecehkan dan mencuri milik Pan Julungwangi sering kena sengkala (musibah). Namun ujung-ujungnya setelah ada musibah dengan keluguan Pan Julungwangi selalu hadir sebagai penolong mereka yang selama ini sering dengki, rakus dan jail kepada dirinya. “Pan Julungwangi pun mungkin tak menyadari semua itu, Ia tetap tampil apa adanya, penuh keluguan”.

Demikian sebagian cerita singkat tentang kehidupan desa dan petani sawah dalam buku berjudul “Pan Julungwangi” karangan I Gusti Made Dwi Guna. Buku ini diterbitkan Griya Lontar tahun 2013 setebal 48 halaman, berisi cerita dan aktivitas untuk menikmati indahnya aktivitas di sawah. Lengkap dengan aktivitas adat dan tradisi bercocok tanam (dharma pemaculan). Buku ini benar-benar menggugah, mengajak kita untuk senantiasa berbuat baik dengan menjaga alam, menjalin rasa kemanusiaan dengan sesama, dan juga tak lupa akan karunia dan kebesaran Sang Pencipta.

Buku ini layak dibaca oleh semua umur. Bagus untuk mengembangkan spirit dan pendidikan budi pakerti, baik disekolah, dirumah, kapan dan dimana saja. Durusang! (MN).

 

 

By : Made Nurbawa

Tabanan, 16-12-2013

 

 

 

 

 

 

Thu, 26 Dec 2013 @12:36


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?