Antara Petani dan Pemacul

image

Kini mereka yang beraktivitas ke sawah sering kali mendapat sebutan “PETANI”. Namun jika ditelusuri lebih mendalam terkait latar belakang, tujuan dan caranya, ternyata setiap aktivitas memiliki nama dan makna yang berbeda.

Seseorang yang berangkat ke sawah jika hanya bermaksud mencari rumput, biasa disebut “nak ngarit”/peternak. Mereka yang ketengah sawah hanya untuk mencari gabah, bisa jadi dia hanya “tengkulak” atau “saudagar”gabah. Mereka yang ke tengah sawah lalu melihat pemandangan dan photo-photo bisa jadi mereka adalah wisatawan atau photografer saja. Dan seterusnya.

Bahkan, perbedaan latar belakang, cara dan tujuan pun akhirnya sangat erat kaitannya dengan “WAKTU”. Perbedaan waktu seseorang ke tengah sawah bisa memberi makna lain. Misalnya ketika ke sawah pagi-pagi maka kita meyakini seseorang itu akan mencangkul/bekerja di sawah. Tapi kalau ke sawah tengah malam bisa jadi orang itu hanya sekedar melihat air di temuku. Beda lagi kalau petani pergi kesawah saat Rerahinan, bisa jadi orang itu sedang mebanten/sembahyang. Dan seterusnya.

Kalau dilihat dari motif, orientasi dan latar belakang pun sesungguhnya akan memberi definisi yang lain. Misalnya seseorang yang bekerja di sawah (Carik) dan berorientasi pada kualitas pekerjaan yang sesuai dengan keyakinan dan budaya, saya menyebutnya sebagai “PEMACUL” yaitu seseorang yang mengolah lahan dengan etika dan tata cara yang benar (Dharma Pemaculan). PEMACUL biasanya tidak berorientasi pada hasil, tapi berorientasi pada etika dan proses kerjanya. Masalah hasil kerja, seorang PEMACUL telah meyakini dan berserah sebagai kehendak Sang Pencipta (Buah Karma). Sehingga pola hidup dan konsumsi seorang PEMACUL pun biasanya “menyesuaikan” dengan pemberian dari Sang Pencipta (Kala Masa).   PEMACUL adalah “PENGABDI” alam.

Saat ini, konsepsi “PEMACUL” seperti yang saya maksud diatas sudah berubah dari “orientasi kualitas kerja” menjadi “kualitas/kuantitas hasil/Pendapatan”, sehingga menurut saya orang tersebut bukan lagi sama dengan PEMACUL yang saya maksudkan. Maka motiv atau tujuan seseorang mengolah lahan/sawah akan sangat menentukan “pilihan cara” untuk mencapai tujuan tersebut.  PEMACUL akan lebih banyak memohon dengan tulus ikhlas (kesederhanaan/keluguan) kepada sang pencipta agar selalu diberikan petunjuk dan kesehatan. PEMACUL akan mengolah lahan dengan “cara” menyesuikan dengan siklus alam (Kala Masa/ Rerahninan, Padewasaa, dst). Tapi yang bukan PEMACUL mengolah lahan sudah berorientasi pada permintaan PASAR atau target PENDAPATAN. Sehingga mereka yang bukan pemacul lebih banyak “gelisah”  terkait permodalan, distribusi bahkan “bantuan” dari pihak luar.

Dari pemaparan diatas mari kita dalami kembali apakah “PETANI” sekarang masih berkarakter PEMACUL? Dan/atau apakah “PEMACUL” sudah berubah menjadi PENGUSAHA/PEDAGANG? Dari sudut pandang ini, mudah-mudahan rumusan masalah dan kebutuhan terhadap perlindungan dan penghormatan terhadap isu “PETANI” dan “PERTANIAN” bisa lebih mendekati fakta sesungguhnya. Karena saya masih melihat bahwa, “jaman sekarang antara PETANI dan PEMACUL nampak serupa tapi sesungguhnya tidak sama”. Suksme. (MN).

 

Tbn, 23 Jan 2013

Made Nurbawa

 

Sat, 16 Nov 2013 @15:27


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 2+9+9

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?