Maknai Air di Hari Kuningan

image

Dalam spirit budaya Bali, sumber air tawar sangat penting untuk kehidupan. Hal ini terkait dengan Pilosofi "Danu Kertih".  "Merusak dan menyalahgunakan sumber air diyakini akan menimbulkan malapetaka (kepongor)." Sumber air tawar itu seperti danu, telebusan, pancoran, bulakan dan sumur.

Ngomong-ngomong soal sumur saya juga memilikinya. Sumur di halaman konon berusia lebih dari 40 tahun, berair bening layak minum dan masih digunakan walau agak jarang. Maklum 4 tahun terakhir saya mulai tergantung dengan pasokan air dari PDAM-Tabanan.

Namun sejak 5 bulan terakhir saya mulai banyak ditolong oleh sumur ini, maklum air PDAM di komplek perumahan saya di Tabanan kota bagian barat mulai mengecil- bahkan hanya mengalir saat malam saja. Saya pun sering "mekemit" bukan sedang meyadnya, namun menunggu aliran air PDAM yang tak kunjung datang.  Mengecilnya debit air PDAM terbukti dari kwitansi pembayaran bulanan. Empat bulan terakhir,  saya kena tarif hanya lebih kurang 1/10 dari biasanya.

Awal-awalnya saya sempat mengeluh dengan ngadatnya air PDAM ini. Namun saya meyadari, bahwa jangan sampai saya merasa "krisis air" hanya gara-gara air PDAM ngadat. Padahal air di sumur masih berlimpah. Begitu juga  jangan sampai merasa "krisis air minum" gara-gara air di Galon habis, padahal air bening layak minum di pancoran (beji) dekat rumah berlimpah.

"Dari kejadian ini saya menyadari betapa sumber daya air Tabanan perlu kita lestarikan dan sucikan". Mungkin mengecilnya debit air di perumahan kota bukan karena debit air dari sumber atau hulunya kecil, tapi pola penggunaan air dan sumber daya air kita lah yang mulai keliru. Keliru dalam penyalurannya, keliru dalam melestarikan sumbernya, keliru dalam memaknainya, keliru dalam motif pemanfaatannya, keliru dalam menjualnya, keliru dalam perencanaan pembangunan perumahan dan seterusnya.

Belajar dari budaya SUBAK, besaran debit air hulu (sumber) lah yang dijadikan patokan untuk membuat sawah. "Kemana air masih cukup mengalir, disanalah bisa dibangun sawah".

Namun saya tidak tahu apakah pesatnya pembangunan perumahan di  Tabanan dan sekitarnya sudah merujuk pada sifat air dan budaya air Subak tadi? Kalau tidak, bisa krisi air PDAM seperti yang saya alami akan terjadi di mana-mana. “Bisa-bisa Danu Kertih di Tabanan tidak mensejahterakan lagi. Mari kita renungkan sejenak di hari suci KUNINGAN ini. Semoga anugrah air dari Sang Pencipta tetap bisa mensejahterakan bukan sebaliknya menyengsarakan”. (MN).

 

 

By: Made Nurbawa (1/11/2013)

 

Fri, 1 Nov 2013 @20:38


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 1+7+1

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?