Tluktak : Denyut Air di Tepi Talikunda

image

 

Mentari telah diujung senja. Hamparan sawah itu lenggang nyaris tanpa suara. Langit nampak redup indah berwarna jingga, burung liar masih nampak terbang di ambara. Seperti biasa, para petani telah beristirahat, mereka telah kembali kerumah bertemu keluarga.

Jejak langkah pindah menyusuri petak sawah. Di kiri dan kanan hamparan padi hijau menyejukan mata. Nampak tumbuh subur tanaman sayur di pematang sawah, ada kacang panjang, kecipir, dan lainnya. Sore itu, bersama beberapa kawan menikmati panorama palemahan desa. Sambil mendengar kisah tentang telabah, pemaron, empelan, dan temuku. Juga TLUKTAK, alat pertanian tradisional dari bambu. 

TLUKTAK biasa di buat oleh petani. Terbuat dari buluh bambu dengan ujung atasnya sedikit terbuka meruncing untuk menampung air. Di bagian tengah dilubangi dan dipasangi pasak sebagai poros. Kemudian poros di pasang di dua tiang penyangga disisi kiri dan kanan. Berat bambu di depan poros dan di belakang poros disesuaikan. Buluh bambu bagian depan poros lebih berat sehingga berada di bawah.   Ketika air mengalir memenuhi buluh bambu di bagian belakang, berat air pun akan menekan sehingga ujung depan terangkat. Pada saat bersamaan, air yang tertampung di bagian belakang akan tumpah. Dengan cepat bambu akan bergerak jatuh ke posisi semula. Gerakan bambu akan memukul batu atau kentongan yang dipasang di bagian depan. Sehingga menghasilkan suara,“Tung”. Begitu seterusnya sesuai dengan aliran air dan ukuran buluh bambu. Dari suara dan jarak pukulan maka bisa diketahui seperti apa kondisi air yang mengalir di petak sawah.

TLUKTAK, memang sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu menjelaskan sebuah pengetahuan yang sangat lengkap tentang bumi yang berjiwa. Jiwa-jiwa yang memberi energy dan hiburan karena adanya aliran air.    Karena TLUKTAK lah para petani menjadi nau ke carik/sawah. Nau membersihkan telabah, pemaron, dan empelan di bagian hulu. Juga belajar tentang aliran air dari hulu ke hilir.   Sambil mengenal budidaya padi alami, mengakrabi kembali warisan leluhur yang mulai luntur”.

“Kipas-kipas, topi anyaman menyejukan badan. Kipas-kipas, air kelapa muda melegakan”. Terima kasih pelajaran hari ini, tentang TLUKTAK dan denyut air, di sana di tepi talikunda Subak Ganggangan. (MN).

 

 

By: Made Nurbawa

Minggu, 26 Oktober 2013

 

Mon, 28 Oct 2013 @12:03


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?