Sing Guyu-Guyu : Tresna Mekunyit alas di Ambara

image

Putu Damayanti suaranya “jangih” menggoda. Saban hari hadir di udara. Memberi salam buat penggemar setia, sambil memutar tembang-tembang pilihan pemirsa.

Putu Damayanti adalah seorang pramusiar-alias penyiar radio. Gaya suara dan tutur bahasanya begitu menggoda, terutama bagi para jejaka.

Suatu hari seorang penggemar setia menelpon Putu Damayanti saat bekerja. “Salam dan Ingin jumpa,”katanya. Jejaka itu bernama Kadek Susanto, salah satu penggemar setia “suara emas” Putu Damayanti.

Kadek Susanto memang pemuda yang rada-rada “kiyeng” berkulit hitam manis dan berkumis tipis. Dari kasus ini, “nampak jelas bagaimana siaran bisa membangun opini dan merubah karakter pemirsanya.”

Singkat kata, Putu Damayanti dan Kadek Susanto pun merajut rasa di udara (ambara). Mereka pun akhirnya bisa berjumpa, berkenalan dan “mekunyit di alas” bertemu alias kopi darat. Beberapa minggu kemudian mereka berdua akhirnya suka sama suka berbagi cinta (tresna).

Tak seorang pun bisa menduga, hidup pasti ada suka dan duka. Mengalir ibarat perahu ditengah lautan. Kadang tenang, kadang terombang ambing gelombang arus samudra. Begitu juga perjalanan cinta Putu Damayanti dan Kadek Susanto seperti diceritakan dalam novel alit “SING JODOH”, karangan I Made Sugianto. Walau panjang rumit dan berliku,“ternyata tresna Kadek Susanto sing guyu guyu”.
____________________

Begitulah kira-kira terjemahan sembarang saya tentang awal cerita dalam novel alit “SING JODOH” karangan I Made Sugianto asal Tabanan. Novel dengan bahasa Bali ngepop. Walau judulnya sederhana dan nampak lumrah, isi cerita lumayan padat. “Akhir atau kesimpulan cerita tak mudah diduga seperti cerita dalam sinetron kejar tayang.”

Bagi saya, novel SING JODOH sangat layak di baca bagi kalangan remaja maupun dewasa. Karena mengisahkan sisi kehidupan nyata yang “tak mudah usang”. Kelak bisa jadi orang-orang dekat kita akan mengalaminya. Lengkap dengan istilah-istilah lokal yang mengelitik, menghibur dan mendidik.

Dalam kehidupan kita, budaya, cinta dan fakta tak bisa dipisahkan. Juga soal pola kekerabatan antara anak dengan orang tua, antara warga dengan warga, antara warga dan manggala desa dan seterusnya. Juga tak kalah menariknya tentang penyelesaian kasus yang berujung bijaksana. Kita pun diajak “realistis menimbang fakta” (meminjam istilah seorang politikus). Bagaimanakah ujung kisah cinta Kadek Susanto dan Putu Damayanti?

Yah, lumayan panjang jika diceritakan, lebih lengkap silahkan membacanya! Yang jelas cerita dalam novel ini sing guyu-guyu. (MN).



Tabanan, 19/9/2013
Made Nurbawa

 

Fri, 20 Sep 2013 @07:25


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 2+7+3

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?