Jalan Harapan di Tengah Perubahan Jalan

image


Awal abad ke-20 desaku masih belantara. Atas seijin penguasa, sekitar tahun 1914-an, 76 perwakilan KK mulai berjalan kaki dari kampung lama, Samsam. Sejak itu, moyangku mulai membuka lahan, menebang bijak  hutan rimba, membawa cita-cita, kenangan dan harapan.

Konon waktu itu belantara rapat perkasa. Pohon-pohon besar menjulang bagai raksasa, ada kayu Kwanitan, bayur, kejimas, dan sebagainya. Lima belas tahun kemudian, 1928 punggung bukit itu mulai ramai, peta Belanda menulisnya Desa Ceking (kini bernama desa Belatungan Kec.Pupuan).

“Diduga, disebut Desa Ceking karena “jalan harapan” itu sempat putus/terhenti di punggung bukit terjal, sempit, -“Ceking”.”

Lama kelamaan “Jalan Harapan” itu benar-benar menjadi jalan. Jalan harapan hidup, jalan yang terbentuk karena ada orang berjalan. “Jadi benarlah kata orang bijak, dimana kita berjalan maka di situ akan ada jalan.”

Kembali di ujung jalan itu, jejak budaya dari jaman ke jaman masih terasa.  Jalan di desaku seperti bercerita, tentang perubahan dan banyak hal. Dan hingga akhir tahun 1970-an, jalan di desaku masih jalan tanah, licin berselimut rerumputan. Transportasi publik pun sangat terbatas.  Dijaman itu keadaan jalan benar-benar membatasi, membatasi keinginan, membatasi pergaulan luar, membatasi pendidikan, mungkin juga membatasi kerakusan.

“Masih jelas dalam ingatan ketika ada truk yang melintas di jalan desa, saya bersorak sorai, turk-truk itu seperti tontonan menakjubkan menggoda mata.

Di jaman itu pula, secara ekonomi hasil pertanian warga seperti “tak seberapa”,  namun nilai rupiah pengeluaran pun seiring, “tak seberapa”-alias seimbang. Warga nampak sejahtera tak kekurangan pangan, saling mengenal, menyapa. Tua muda masih berkumpul dan bekerja bersama di desa.

Beberapa tahun kemudian di pertengahan tahun 80-an, jalan desaku mulai beraspal kasar, berbatu dan diperluas, rimbunan rumput jalanan menepi. Waktu itu transportasi publik desa-kota atau kota-desa tak pernah sepi penumpang. Pergaulan luar mulai berkembang. Sekolah di kota mulai menjadi idola para remaja. Sepeda motor masih langka. Sehingga Pelajar masih biasa numpang bemo ke sekolah. Pulang kampung pun menunggu lama, hanya liburan sekolah saja. Dijaman ini orang tua dan anaknya mulai terpisah jarak dan waktu, relatif lama di masa-masa sekolah.

Lain lagi, sejak akhir tahun 1980-an hingga kini, jalan desa pun terus  berubah. Mulus. Kendaraan bertambah banyak, identitas kemakmuran dan kesejahteraan pun berubah. Profesi pun beragam, lintas desa maupun kota. Pelajar di kota pulang kampung suka-suka, pulang pergi pun bisa. Menariknya, warga membeli peralatan rumah tangga tidak perlu ke kota seperti dulu, pedagang kota menyerbu desa, Kes dan Kredit. Namun tidak jarang, kisah duka kecelakaan menjadi berita. Di era ini, pertumbuhan ekonomi semakin tinggi,  namun kebutuhan dan pengeluaran hidup pun bertambah tinggi.

Ngomong-ngomong soal jalan, dimanapun dan kapan pun pasti terus berganti cerita. Keadaan jalan pun terus berkembang dinamis dan menginspirasi. Di desa saya dan mungkin juga didesa lainnya, situasi dan kondisi jalan nampaknya berpengaruh nyata, seperti;  1). keadaan/keberadaan jalan bisa membuat keterbatasan, atau sebaliknya membuat segala sesuatu menjadi tak terbatas. 2). Keadaan/keberadaan jalan bisa merubah simbul profesi dan gengsi, bahkan jalan pun bisa merubah kedamaian menjadi petaka/kecelakaan/kemarahan saat macet. 3).  Keadaan/keberadaan jalan bisa menjadi “wacana atau bencana” politik, seperti dalam perdebatan jalan rusak dan atau korupsi angaran perbaikan jalan. 4). Keadaan/keberadaan jalan bisa membuat pertentangan kepentingan, baik dalam hal prioritas pekerjaan, politik maupun kebijakan-Pusat daerah. 5). Keadaan/keberadaan jalan bisa menjadi “benteng pemisah” bagi para lanjut usia, lalu lintas kendaraan ramai, ngebut sehingga para lanjut usia tidak berani lagi menyeberang jalan untuk menengok cucunya diseberang jalan depan rumah. Dan seterusnya.

Akhir kata, bagaimana jalan desa bisa memberi harapan? “Bagi sebagian orang, kerusakan jalan desa justru dianggap bisa menjadi pembatas yang harusnya terbatas.  Jalan desa yang bagus dan mulus malah dianggap bisa mengundang petaka/kecelakaan, dan atau  derasnya laju pembangunan pisik dan pemukiman, tumbuhnya ekonomi/investasi, bahkan parahnya kerusakan lingkungan.

Terus, kalau kita sepakat  untuk memilih jalan yang bagus dan mulus agar memberi kepuasan berkendaraan, lalu apanya jalan dan di jalan kah yang harus dibatasi? Jumlah kendaraannya kah? Panjang dan lebar jalan kah? Atau apanya? Maksud saya bagaimana keberadan jalan di Bali tetap menjaga keseimbangan tata ruang, keselerasan dan kesejahteraan serta dapat membangun pola-pola tanggungjwab bersama. Sekian.

 

 

Tbn, 9/10/2012

Inspirasi dari Desa Belatungan, Pupuan Tabanan Bali.

Oleh : Made Nurbawa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sun, 15 Sep 2013 @12:10


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 5+7+9

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?