Usaha Sampah Ala Buk Wulan

Problema sampah adalah tanggungjawab produsennya. Bisa orang, rumah tangga, atau badan. Jadi inisiatif pengelolaan sampah harus digalakkan dan dilakukan dimana pun dan kapan pun timbulan sampah itu   terjadi.


Jika tidak melibatkan seluruh komponen, maka beban biaya pengelolaan sampah dari uang masyarakat di APBD akan terus meningkat setiap tahunnya. Karena jumlah produsen sampah (penduduk) juga terus meningkat. Faktor cuaca, seperti saat musim hujan juga menjadi tatangan khusus terhadap tingkat pelayanan petugas dalam menangani sampah publik.


“Menuntut pelayanan pemerintah untuk melayani sampah dilingkungan kita sendiri, tentu tidak bijak juga. Apalagi sampah itu di hasilkan oleh kita sendiri.”


Terkait dengan hal tersebut, di sebuah komplek perumahan Griya Sunia Sari, telah di gagas sebuah usaha pengelolaan sampah Swa Kelola milik warga. Awalnya ide ini muncul dari keluhan seorang ibu rumah tangga yang tinggal di kompleks perumahan tersebut, namanya buk Wulan. Buk Wulan orangnya lincah dan pandai bergaul, suka bersih-bersih se bersih wajahnya.


Suatu hari Buk Wulan mengajak ibu-ibu tetangganya berkumpul dan menyepakati untuk membuka usaha Sampah Swa Kelola di lingkungannya. Konsepnya sederhana saja.


Di perumahan tersebut tinggal 100 RT, kebetulan selama ini kesulitan membuang sampah. Biasanya warga membawa motor menuju jalan besar untuk menaruh sampah di Bak sampah milik dinas kebersihan. Hal ini tidak selalu praktis, apalagi ibu-ibu banyak yang takut mengendarai motor. Kemudian bu Wulan mempromosikan gagasanya kepada ibu-ibu perumahan.


“Ibu-ibu yang saya hormati, saya punya gagasan untuk pengengelolaan sampah di lingkungan kita. Saya akan menunjuk Pan Balang Tamak untuk menjadi pengelolanya, kebetulan ia suka apalagi ia seorang pemulung. Pan Balang Tamak akan berkeliling setiap pukul 6 -8 pagi dengan gerobak sampah yang ditarik motor ke seluruh perumahan. Sebaiknya sampah sudah dipilah dalam tiga bagian yaitu: sampah organic, sampah anorganik tapi tidak bisa dijual, dan sampah anorganik yang bisa dijual. Hal ini akan membuat usaha sampah lebih efesien dan menguntungkan.


Sampah yang tidak bisa dijual akan diangkut dengan gerobak dan ditaruh di Depo Sampah yang ada di jalan besar. Hal ini sudah dikoordinasikan dengan DKP Kotapraja dan sudah diijinkan dengan surat No. 01/…..2013.


Setiap rumah tangga wajib membayar uang iuran sebesar Rp.30.000,- setiap bulannya atau hanya Rp. 1.000 per hari. Jadi total akan terkumpul dana sebesar 3.000.000,- per bulan. Uang tersebut akan digunakan untuk menggaji Pan Balang Tamak Rp. 1.000.000,- per bulan. Gaji ini sudah lumayan di atas UMR, karena Pan Balang Tamak hanya kerja maksimal 3 jam saja sehari. Bahkan kalau tekun, Pan Balang Tamak bisa mendapat bonus dari penjualan sampah plastik, lumayan lo.


Dan Rp. 1.000.000,- digunakan untuk biaya operasional dan pembelian peralatan, seperti bensin, gerobak modivikasi, motor bekas, keranjang, dan kantong plasitik untuk di bagi ke setiap RT pelanggan sesuai dengan kebutuhan, juga untuk membeli baju khsusus dan atribut buat Pan Balang Tamak.


Pan Balang Tamak harus rapi dan dan sehat. Bukan jamannya lagi pengelola sampah harus berpenampilan kumal dan kotor.   Selanjutnya hanya Pan Balang Tamak yang boleh mengambil sampah di lingkungan kita, sehingga kita tidak perlu was-was apalagi memasang plang “Pemulung Dilarang Masuk” di setiap gang, kitalah semua sekarang jadi pemulung,”kata buk Wulan penuh semangat.


“Untuk motor dan grobak sampah, sudah ada warga yang mau nalangin, nanti kita bisa cicil setiap bulan pembayarannya,”imbuh Buk Wulan dengan senyum yang lumayan menggoda.


Terus Rp. 1.000.000,-lagi kita akan simpan untuk Kas Suka Duka, bisa juga untuk biaya membersihkan telajakan atau got di lajur jalan yang tidak menjadi bagian tugas masing-masing rumah tangga.


“Jadi kalau perhitungan Laba Rugi untuk tahun pertama seperti ini, “ungkap buk Wulan sambil menunjukan catatannya.


Penerimaan dari RT pelanggan Rp. 30.000,- X 100 Rt X 12 Bulan sama dengan total = 36.000.000,-. Biaya-biaya : Pembelian motor bekas 2 tak Rp. 6.000.000,- (umur pakai 5 tahun), Beli Gerobak modivikasi Rp. 5.000.000,- (umur Pakai 5 Tahun), Gaji Pan Balang Tamak Rp. 12.000.000,- per tahun. Biaya operasional dan peralatan Rp. 10.000.000,- per tahun. Biaya tak terduga Rp. 1.000.000,- per tahun. Jadi Total Biaya Rp. 36.000.000,- untuk tahun pertama. Jadi tahun pertama kita baru Break Event Point alias tidak untung  tidak rugi secara uang, tapi lingkungan jadi bersih, dan ibu-ibu tidak repot lagi membuang sampah.


Pada tahun ke 2,3,4 dan 5 baru akan nampak ada pertumbuhan kas. Karena kita masih punya inventaris berupa motor dan gerobak.  Setidaknya akan ada hasil usaha sekitar 7-8 juta pada tahun berikutnya, sebagian bisa kita gunakan untuk membeli tanaman hias dan beberapa lampu penerangan jalan. Setuju tidak ibu-ibu? “tanya Wulan. “Setujuuuuu,”jawab ibu-ibu serempak.


Singkat cerita, sejak gagasan Buk Wulan digulirkan, kawasan perumahan Griya Sunia Sari menjadi bersih, rapi dan indah. Di sepanjang gang dan jalan banyak ditanam tanaman hias, sayuran dan obat. Perumahan itu begitu asri.


Bahkan usaha Sampah Swakelola ini sekarang sudah bisa mengontrak tanah seluas 1 are untuk membuat kompos dan untuk menaruh peralatan kerja. Sebagian besar kompos di bagi-bagi ke RT pelanggan, bahkan sebagian ada yang dibeli oleh pemilik stand bunga. Dan Pan Balang Tamak pun mendapat penghasilan tambahan untuk membantu proses composting ini.


Karena semangat dan dedikasi ibu-ibu warga perumahan Sunia Sari begitu tinggi, akhirnya pada tahun ke dua, pengelolaan sampah Swa Kelola ini mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Kota Praja.  Bahkan dibantu satu unit grobak sampah dan motor untuk cadangan.


Bantuan ini diberikan karena usaha pengelolaan sampah model “Buk Wulan” bisa membuat pengelolan sampah di Kota Praja bisa berjalan efesien dan partisipatif. Sehingga sangat berpeluang di duplikasi oleh warga di perumahan lain. Hal ini penting bukan hanya soal sampah saja, tapi juga kesehatan masyarakat, seperti kasus demam berdarah pun menjadi berkurang.


Dan selidik-punya selidik, ternyata konon dulu Buk Wulan tertarik mengelola usaha Sampah Swa Kelola karena mendapat motivasi dan saran dari teman Grup di Face Book nya.


“Setiap perumahan yang belum terjangkau pelayanan kebersihan sampah semestinya meniru langkah kami, jangan suka menghasilkan/membuang sampah, tapi tidak suka membersihkannya, ”ingat Buk Wulan saat bertemu di depan rumahnya yang sederhana namun asri. (MN)

 

*Maaf tulisan ini hanya bualan saja, jangan di gugu dan ditiru sendirian.

 

Tbn, 18 Jan 2013

Made Nurbawa

 

 

 

 

 

 

 

Fri, 13 Sep 2013 @08:10


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+5+4

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?