Suara Sunari di Bumi Pagi

image

Mungkin sebagian orang masih ada yang belum pernah melihat atau mengenal Sunari, yaitu sebuah benda terbuat dari buluh bambu yang dilobangi dengan teknik khusus, sehingga mengeluarkan suara saat diterpa angin.  Sepintas bentuk Sunari nampak seperti buluh bambu untuh menjulang tinggi. Sunari konon erat kaitannya dengan aktivitas dan budaya pertanian (agraris).

 

Di beberapa tempat atau desa, saya pernah melihat Sunari. Biasanya dibuat warga saat musim angin kencang pada bulan Juli-Agustus. Bersamaan dengan itu, warga juga banyak yang membuat “pindekan” (baling-baling) atau layangan tradisional.

 

Disamping untuk seni, permainan atau hiburan, Sunari juga dibuat untuk kebutuhan upacara keagamaan. Pada bambu dibuat lobang dalam bentuk bulat, segitiga, segi empat, berpalang empat, tegak lurus dengan panjang 5 cm dan lebar ½ cm. Pada lengkungan bambu di bagian atasnya dipasangkan berbentuk binatang kera dengan posisi memanjat, pada saat upacara besar keagamaan, Sunari biasanya dipasang agak tinggi pada arah timur laut dari halaman pemerajan atau Pura (I.B. Sudarsana).

 

Apa sesungguhnya makna Sunari bagi masyarakat pertanian-Subak di Bali? Kamis, 8 Agustus 2013, saya coba menelusurinya ke Subak Ganggangan di wilayah Banjar Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel-Tabanan. Banjar ini bisa ditempuh berkendaraan lebih kurang 22 Km kearah utara kota Kabupaten Tabanan-Bali. Masih searah menuju kawasan wisata terkenal-Jatiluwih.

 

Seorang warga Banjar Pagi, Kadek Enjoy mengatakan,”Banjar Pagi berasal dari kata “Pagpag” yang berarti “menyambut” atau “menyongsong”. Sebutan tersebut erat kaitannya dengan terbitnya mentari pagi (sinar). Dalam pengertian yang lain kata “Pagpag” atau “Magpag” konon erat juga dengan jejak sejarah dan budaya “pencarian” atau “penjemputan” air. Memang beberapa desa di bagian hilir Banjar Pagi, seperti Desa Marga, sumber atau aliran air Subaknya melewati atau berada di wilayah Banjar Pagi-Senganan.

 

Kembali ke Sunari, dari Banjar Pagi saya memperoleh beberapa penjelasan yang bisa memberi petunjuk teknis dan filosofis dalam budaya pertanian, yaitu; saat Sunari diterpa angin akan mengeluarkan suara berubah-ubah. Suara tersebut konon bisa menghalau atau mengendalikan “mrana” (hama) seperti burung dan hama padi lainnya.

 

Sementara secara filosofis, suara Sunari berfungsi sebagai sarana atau peringatan agar kita (krama subak) bisa selalu “eling” dan “ngeh” dengan suara atau petunjuk alam. Dengan demikian kita pun akan bisa selalu bekerjasama dan hidup bersama-sama dengan alam, baik sesama pelaku (pawongan) dan sifat-sifat alam lainnya (Bhuta Kala). “Dengan demikian proses, aktivitas dan tahapan bercocok tanam pun akan selalu selaras alam dan alami. Keselarasan akan alam itulah yang membuat kita merasa senang untuk melakoninya. Bersama-sama dalam pengerjaannya, dan bersma-sama dalam menikmati hasilnya.”

 

Sunari konon berasal dari kata “Sunar” yang berarti “sinar”. Sinar yang bermakna menerangi umat manusia dalam hidup dan kehidupan. Hal ini sangat sejalan dengan salah satu sumber, seperti yang ditulis dalam buku Sundarigama karangan Drs. K.M Suhardana. Kata “Sunari” yang berarti “buluh perindu”. Walau tidak terjelaskan dengan pasti, namun bisa kita pandang bahwa kata “Sunari” bermakna sama dengan “sundari”.

 

Dalam kamus   Jawa Kuno-Indonesia oleh P.J Zoetmoulder ditemukan kata “Sundari” yang diartikan sebagai “sejenis serangga bersuara nyaring dipepohonan”, sementara dalam bahasa sansekerta “Sundari” berarti “wanita cantik” dan kata “gama” diartikan sebagai perjalanan atau jalan. Dalam sumber lain “sundar” dalam istilah “Sundarigama” diartikan “terang”. Sedangkan “gama” berarti “petunjuk”.

 

Jadi Sunari jika dimaknai dari penjelasan anggota krama subak di banjar Pagi dengan sumber diatas, nampaknya memiliki makna yang tidak jauh berbeda. “Sunari (Sundari Gama) dapat diartikan sebagai sarana untuk memberikan  penerangan, penyuluhan atau tuntunan tentang petunjuk hidup dan kehidupan kepada masyarakat, baik dalam kesadaran, pemahaman dan keyakinan budaya Subak atau Agama.”

 

Lebih jauh Sunari yang berarti “sinar” (menerangi) dalam aktivitas budaya dan sosial, bisa juga dimaksudkan sebagai sarana “nerang” atau “terang”.  Sebuah keyakinan budaya agar saat melakukan aktivitas besar (Yadnya) tidak turun hujan. Dijelaskan bahwa; dengan pemasangan Sunari maka secara bersama-sama pelaku atau warga diajak untuk “berniat” atau “meniatkan” (berdoa), agar selama proses dan kegiatan/upacara keagamaan berlangsung tidak turun hujan.

 

Pemasangan Sunari di lokasi kegiatan ada juga dimaksudkan sebagai sarana mengundang angin, karena dengan datangnya hembusan angin bisa menghalau mendung, sehingga tidak turun hujan. Dan niatan itu akan timbul atau direstui oleh alam, jika terdengar suara Sunari.

 

Rupanya penjelasan tentang Sunari di Banjar Pagi telah memberi petunjuk dan bukti kepada saya; bahwa peralatan, permainan atau simbul budaya lain yang dibuat oleh masyarakat pertanian (Subak), sesungguhnya syarat dengan kesadaran, pengetahuan dan keyakinan. Sangat diyakini bahwa, aktivitas atau pekerjaan apapun akan berjalan lancar jika diselaraskan dan direstui oleh alam.

 

“Nampaknya tidak sia-sia saya datang ke Banjar Pagi untuk menyambut sinar pengetahuan tentang Sunari. Saya pun merasa diingatkan bahwa apa pun yang hendak kita lakukan di berbagai aktivitas atau jabatan harus selalu ngeh, rungu, peduli atau eling dengan alam/lingkungan.”

 

Tentu apa yang saya tulis belumlah    sebuah jawaban menyeluruh tentang makna Sunari. Cakupannya sangat luas, tidak bisa dipelajari dalam sehari, karena pengetahuan tentang Sunari dan budaya Subak di Banjar Pagi sama saja dengan siklus kehidupan yang maha agung. Yang mana kesadaran dan keyakinan tersebut kini terwariskan dalam beragam tatwa, etika dan upacara yadnya. Sekian (MN).

 

 

 

Br. Pagi-Senganan, 8 Agustus 2013

Made Nurbawa



 

 

Fri, 13 Sep 2013 @08:02


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 9+2+7

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?