Tulah, Ampah

“Sing dadi degag ajak rerame nah ning, TULAH nyen!” Selegan masuk, apang dueg! Begitu nenek saya mengingatkan kala kecil dulu. Hal serupa juga saya dengar dari orang tua, melanjutkan tradisi petuah lama.

Suatu ketika saya pernah duduk di bantal (Galeng). Ibu saya pun menasehati, sing dadi negakin Galeng gung, Busul jit nyen!  

“Kok bisa busul me?” tanyaku penasaran.   Ya, nak mule keto, “sing dadi AMPAH keketo, TULAH nyen!”

Apa artinne “TULAH” to  me?, tanyaku penasaran. “Tulah to batis beduwur terase benten, Nungkalik,”kenten bet memen tiange.

Yah begitulah, TULAH dan AMPAH petuah lama sederhana penuh makna. Walau sering tak terjelaskan dengan mudah (mule keto), tapi cukup ampuh untuk mengingatkan agar anak yang berkarakter AMPAH (ceroboh, ngawur, nakal, melangar dan/atau sebutan lainnya) bisa menjaga etika dan norma. Sedangkan TULAH adalah sesuatu yang terbalik dari posisi dan seharusnya. Sesuatu yang harusnya di atas, malah dibawah. Mengharapkan kebahagian malah berujung kesengsaraan. TULAH bermakna hukuman atas sikap yang AMPAH, latah, salah.

Kalau saya maknai kembali nasehat nenek saya itu; maka tidak hormat pada orang tua berarti tidak hormat pada Guru ( Guru Rupaka dalam Catur Guru).  Guru yang bermakna Hulu, Pusat, Kepala, Tertua, Tertinggi, Terhormat, Maha Suci dan seterusnya sesuai teks dan konteks. Tidak hormat, bisa berbuah TULAH sengsara, menderita.

Begitu juga kalau kita duduk di bantal.  Bantal adalah alas kepala saat kita tidur. Bantal adalah tempat Hulu tubuh kita. Rupanya tubuh kita (buana alit), atau bumi ini (buana agung),  sama-sama memiliki Hulu. Hulu yang menjelaskan dan menjadikan Teban.

“Hulu-Teban”, dua posisi yang berhubungan. Berkembang sejaman dengan peradaban dan pengetahuan hidup. Melahirkan tatanan alam dan jaman. Mebuat batas-batas untuk hal-hal yang tak terbatas. Memperjelas hal-hal yang belum jelas. Menciptakan aturan yang menyebabkan ‘Keteraturan”-Selaras alam.

Dan kalau saya kembali pada nasehat nenek saya dulu, bahwa; tidak boleh “Degag” (durhaka) pada orang tua, dan juga harus rajin belajar supaya pintar. Nampaknya nasehat itu sejalan   sekaligus bagian dari 52 hal penting dalam pembentukan karakter anak (bangsa) dalam kurikulum sekolah-Budi Pakerti.

Namun sayang, entah apa yang terjadi kini. Berita di TV dan juga berita di Koran, banyak sekali terkabar orang-orang pintar yang bersekolah tinggi malah terjerumus dalam tindak korupsi, kolusi dan nepotisme.

Sepertinya pemimpin tidak lagi jadi Hulu/Guru. Rakyat pun tak mau ber-Guru Hulu.   Alam dirusak, kawasan Hulu dibabat. Aturan dilanggar, keadilan pun tak terdengar. Semuanya sudah AMPAH, dan TULAH. Semoga semua ini hanya ilusi saja. (MN).

 

Tbn, 9 Desember 2012

(Made Nurbawa)

 

 

 

 

Fri, 13 Sep 2013 @07:55


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?