Capung Belauk di Bumi Alami

image

Di Subak Ganggangan Banjar Pagi-Senganan Tabanan, kini sedang dilaksanakan uji coba sistem pertanian padi alami atau padi organik. Ekosistem alami adalah prasyarat untuk melakukan budidaya padi organik, yang pada musim tanam tahun ini sudah di coba di beberapa petak sawah.

Uji coba pertanian alami di Subak Ganggangan juga mempelajari kembali bagaimana tanda-tanda alam digunakan sebagai indikator dalam mengukur derajat keseimbangan ekosistem sebuah kawasan. Salah satunya melaui hewan Capung.

Capung adalah sejenis serangga yang banyak kita jumpai di kebun atau areal persawahan.  Capung   tergolong bangsa odonata, memiliki sayap dan beragam  ukuran dan warna. Metamorfosis capung dimulai dari telor, nimfa, dan kempongpong. Dari kepompong lalu keluar   Capung.

Di Bali “Nimfa” dikenal dengan nama “Belauk”, yaitu : sejenis hewan yang hidup di air persawahan yang tenang. Blauk banyak dikonsumsi dan memiliki rasa yang gurih dan enak. Biasanya diolah dengan di pepes menjadi “pesan Belauk”. Lebih enak di campur bumbu pedas dengan campuran kelapa atau telengis.

Dulu, Capung juga banyak dikonsumi warga, menangkap Capung atau “Nyapung” merupakan atraksi yang menarik dan sekaligus menghibur. Nyapung dilakukan dengan galah yang ujungnya dipasang lidi dengan baluran getah nangka (engket).  Nyapung biasanya dilakukan pagi hari atau sore hari. Kegiatan nyapung sekaligus sebagai kegiatan lintas alam dan mengenal alam di kawasan desa atau Subak. Nyapung membuat kita “Nau” (gembira). Konon perasaan gembira atau nau, juga akan memberi “vibrasi positif” terhadap tumbuhnya ekosisitem alami. Sebuah spirit yang sangat dekat dengan hakekat budaya Subak di Bali.

“Capung boleh dikatakan sebagai indicator ekosistem alami. Karena capung suka bertelor di kawasan dengan kondisi air yang bersih.  Jika banyak capung bisa dipastikan kondisi air di kawasan tersebut masih relative bersih dan sehat, bebas zat beracun.“

Menurut Parta Leong salah seorang pendamping  program padi alami di Subak Ganggangan, “Capung adalah predator alami. Campung memakan “lemud” yaitu sejenis serangga kecil. Dan tidak menutup kemungkinan Capung juga memakan wereng, sehingga dengan keberadaan Capung akan bisa mengendalikan keseimbangan hama”terangnya.

Hal itu cukup beralasan, karena Capung ternyata salah satu spesies dengan predikat sebagai predator paling hebat di dunia hewan. Sebuah penelitian mencatat, Capung mampu menangkap mangsanya dengan tingkat keberhasilan 95%, mengalahkan singa afrika yang hanya 25%, dan Hiu hanya 50% saja (Tempo,co). Capung juga memiliki sayap yang canggih. Bisa terbang maju mundur dan memutar 360 derajat bahkan bisa menyelam. Capung juga bisa terbang dengan kecepatan luar biasa, 30 mil per jam.

 

(MN).

 

By: Made Nurbawa (12/9/2013).

 

Thu, 12 Sep 2013 @16:37


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 8+8+8

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?