Jangan Biarkan Lulu Menyerbu Hulu

image

Lulu (sampah) sekarang sudah menjadi masalah yang meresahkan. Terutama sampah plastik. Got, telabah, dan tukad dipastikan tidak bebas lagi dari sampah plastik. Plastik tidak mudah hancur dalam tanah sehingga mencemari tanah dan lingkungan.

Saat ini pola hidup dan konsumsi rumah tangga merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap adanya timbulan sampah plastik. Rumah tangga adalah produsen sampah terbesar. Diperkitakan rata-rata produksi sampah per orang per hari sekitar 1 liter (satu ember kecil). Dan sekitar 10% nya merupakan sampah anorganik (seperti plastik, karet, botol, dll).

“Jika dicermati akhir-akhir ini aktivitas upacara dan persembahyangan pun sudah berpotensi menimbulkan timbulan sampah plastik. Mulai dari plastik pembungkus dupa, pembungkus canang, makanan, minuman, dll”.

Pemandangan yang lumrah kita temui saat atau sehabis Piodalan atau Puja Wali di beberapa Pura, timbulan dan timbunan sampah plastik pasti terjadi dalam jumlah yang semakin mencemaskan saja. Kondisi ini sudah saatnya menjadi perhatian serius bagi bagi Krama Bali, Pemedek dan atau Pengemong Pura.

Secara spirit dan filosofi sosiologis dan geografis (Tata Ruang), Pura di Bali merupakan “Hulu” atau “Sumber” atau “Pusat”. Bisa juga bermakna “Guru” atau yang “Tertinggi” (gunung) atau yang “Tersuci”. Jadi Pura atau tempat-tempat suci lainnya merupakan kawasan yang “diyakini suci”. Dengan kata lain, Pura di bangun di kawasan hulu yang diyakini suci oleh orang Bali.

“Jika demikian halnya maka aktivitas yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dikawasan hulu, sudah saatnya harus dikurangi dan dihentikan!” Salah satunya dengan jalan mengurangi penggunaan bahan upakara/persembahyangan dari bahan plastik. Kalaupun terpaksa menggunakan bahan dari plastik, maka setiap pemedek sudah sewajibnya membawa kembali plastik itu pulang ke rumah dan dibuang ditempat yang   benar.

“Prajuru Desa/Pura pun diharapkan selalu memberi petunjuk dan mengingatkan pemedek, kemana, dimana dan bagaimana seharusnya sampah plastik dikelola di kawasan suci dan atau tempat suci”.

“Dumun yening wenten Piodalan krama pemedek di Bali sampun biase makte tipat, entil, saur nyuh mekaput don biyu. Canang lan Gebogan pun mewadah Sok Kasi”. Ternyata dulu perlengkapan upacara dan makanan berasal/dibuat dari bahan-bahan organik (bahan alami yang mudah terurai).   Karenanya Timbulan sampah plastik pun tidak terjadi seperti saat ini.

Apa yang dilakukan oleh Tetua (leluhur) kita dulu ternyata dilandasi oleh kesadaran dan keyakinan untuk hidup sederhana agar dapat menjaga dan saling hidup menghidupi bersama alam. Sehingga Hulu tetap memberi spirit kesucian, air dan sungai pun tetap mengalir bersih dan layak minum, flora dan fauna pun hidup saling melengkapi. “Dan tentunya tidak perlu membuang uang rakyat (APBD) untuk mengurus sampah plastik dan atau sibuk membuat Perda. Apalagi harus mengangkat dan menggaji puluhan tenaga kerbersihan untuk melaksanakan peraturan dan aturan yang berlaku”.

Hakekat Upacara, Upakara dan adat Bali sesungguhnya merupakan rangkuman tuntunan hidup bagi umat manusia dalam mengelola alam yang seimbang. Maka, akan sangat disayangkan jika tuntunan itu berubah menjadi “tontonan” belaka, atau “wewalihan” semata hanya demi konsumsi Pariwisata Budaya.  

“Menghormati kesucian Hulu sama hartinya hormat kepada Guru. Hilangnya Hulu atau Guru berarti hilangnya tuntunan hidup alias “Paling” (bingung). Yening kenten,   ngiring mangkin sareng-sareng mewali, Eling lan Ngelingan Ngulati Bali yang Wali”. “Jangan biarkan lulu menyerbu Hulu!”(MN).

By:   Made Nurbawa

Denpasar, 20/5/2012)

 

Wed, 11 Sep 2013 @13:53


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?