Dacin

image

“Masyarakat meyakini titik keseimbangan adalah dasar sebuah keadilan. Keadilan pun diyakini sebagi kebutuhan dasar kesejahteraan hidup dan kehidupan.” Mungkin dari keyakinan inilah dimana saja, dan kapan saja hidup dan kehidupan selalu membutuhkan keseimbangan. Yang paling nyata adalah dalam dunia dagang. Sehingga dijamannya menginspirasi orang untuk membuat suatu alat yang disebut dengan Timbangan atau Dacin.

Dacin adalah alat pengukur berat (massa). Tidak diketahui kapan alat ini pertama kali dibuat. Namun sekitar 7000 tahun lalu Dacin sudah digunakan oleh pedagang bangsa Mesir. Beberapa abad kemudian dikebangkan oleh bangsa romawi dengan bahan logam, dibuat dalam bentuk batang lengkap dengan batu Dacin yang bisa digeser-geser sampai seimbang. Teknologi Dacin terus dikembangkan. Ada yang mekanik hingga digital.

Di pasar tradisional misalnya, Dacin mudah dan lumrah dilihat dan digunakan. Pedagang menggunakannya untuk menentukan “Titik Keseimbangan Pasar” (equilibrium). Dalam hal ini menyangkut satuan harga dan berat. Prosesnya pun tidak singkat. Lihat saja, saat membeli buah misalnya; Si Pembeli harus dapat melihat, menatap, memegang, bertanya, merasakan, menyampaikan segala sesuatu tentang buah itu kepada Si Pedagang. Demikian juga sebaliknya Si Pedang pun melakukan hal yang serupa kepada calon Pembelinya.

Biasanya Si Pedagang sedikit mendahului dengan politik pencitraan terhadap buahnya. “Mari bu, pak, murah-murah, segar, baru dipetik,” dan seterusnya sambil memainkan politik rasa (pengrase) terhadap calon pembelinya. Tidak jarang dilengkapi dengan senyum dan tatapan penghormatan kepada si Pembeli. Keduanya pun terlibat urusan material dialektika dan historis terhadap buah tesebut. Proses ini disebut tawar menawar (metawahan). Jika cocok barulah Dacin digunakan sebagai pembuktian. Cocok lagi, barulah pembayaran dilakukan.

Dari proses tawar menawar diatas Dacin pun bisa bermakna lain. Dacin bisa dikatakan sebagai “Sibulisasi Politik Moral” antara Si Pedagang dan Si Pembeli. Politik Moral yang menjadikan segala sesuatunya menjadi “Pantas” baik di mata dan dihati-sekala dan niskala.

Benarlah, Pedagang yang meyakininya sangat takut mempermainkan Dacin. Melanggarnya sama saja “korupsi” atau tak bermoral. Tak bermoral akan berdampak munculnya rasa ketidakadilan. Ketidakadilan pun berdampak munculnya kekacauan, kerugian dan seterusnya alias tidak sejahtera.

Sedikit mengandai-andai, pantas saja di beberapa negara gambar Dacin digunakan sebagai Logo oleh beberapa institusi yang menyuarakan keadilan, seperti kejaksaan, pengadilan, lembaga penyiaran dan sebagainya.

Jika Dacin adalah alat keseimbangan dan/atau simbulisasi dari rasa keadilan dan moral, tentu masih banyak lagi yang bisa dijelaskan dari Dacin ini. Tergantung tempat, waktu dan pelakunya. Mulai dari hal yang teknis, teoritis, politis, hingga filosofis. Bahkan mistis spiritual dan keyakinan. Satu sama lain bisa saling bertalian.

Di Bali misalnya, “Dacin” ditanamakan dalam diri sebagai keyakinan moralitas terhadap alam. Keseimbangan adalah hukum alam, makro dan mikro kosmos. Keseimbangan adalah etika dan hakekat hidup. Baik dalam lingkungan keluarga maupun Negara. Tersinkretisasi dan membudaya dalam konsep Tri Hita Karana.

Jika demikian halnya maka “politik pasar” dan/atau “politik dagang” di negeri ini atau dimana saja, secara langsung bisa menjelaskan “kadar moralitas” hubungan berbangsa dan bernegara. Kata teman saya,”hancurnya sebuah rasa keadilan di sebuah negara sejalan dengan hancurnya moralitas Pedagang dan Perdagangan. Demikian juga sebaliknya,”hancurnya moralitas Pedagang dan Perdagangan bisa berdampak terhadap hancurnya moralitas bernegara.” Benar atau tidak asumsi ini, mari kita cermati bersama!

Kalau begitu, mudah-mudahan keberadaan pasar tradisional yang belakangan gencar diwacanakan, bahkan gencar di galakan bukan sebatas bangunannya saja. Pasar tradisional, walau nampak sederhana namun masih menyisakan politik moral dalam mekanisme dan etika “dagang”-nya.  Setidaknya pasar tradisional masih menyedikan rasa keadilan yang menyeimbangkan antara faktor-faktor produksi, fungsi dan tradisi budaya pelakunya. Dan tentu saja Dacin masih banyak digunakan. Budaya “metawahan” pun dilestarikan.

Lalu bagaimana dengan pasar modern? hypermart dan sebagainya? Yah…,Untuk yang satu ini, maaf, saya persilahkan anda mengkajinya. Suksme. (MN).

 

By: Made Nurbawa

Tabanan, 1 Des 2012

 

Wed, 11 Sep 2013 @13:48


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+3+0

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?