Buah Pulet Ala Pan Balang Tamak

image

BUAH PULET ALA PAN BALANG TAMAK

Tumben tergoda membaca buku tipis berwarna merah muda. Hanya 12 halaman berjudul Gaguritan PAN BALANG TAMAK yang digubah ke dalam Gending Bali Bahasa Indonesia oleh : Made Sanggra, Sukawati. Cetakan ke I 1993. Harganya pun wajar, hanya Rp. 2.500,-. Menarik, ada pupuh Ginanti, Pangkur, Misjil, Durma, Ginada, Semarandana dan Sinom.

Dikisahkan, disebuah desa di kaki gunung, hiduplah sepasang suami istri bernama PAN BALANG TAMAK dan MEN BALANG TAMAK. Desa itu bernama Suniasari.

Konon cukup banyak sudah ulah Pan Balang Tamak membikin resah dan marah warga desa. Upaya mengucilan Pan Balang Tamak Pun terus dilakukan. Salah satu gagasan yang dianggap jitu adalah memagari kebun milik warga. 

Jero kelian pun mengumumkan dengan resmi agar setiap warga memagari kebunnya, tidak terkecuali. Mungkin maksudnya agar tidak ada yang mencuri, dan juga mungkin warga desa meyakini, hanya Pan Balang Tamak lah satu-satunya warga yang suka mencuri. Dengan pemagaran, warga dan Jero Kelian bisa dengan mudah melakukan pembuktian, merusak pagar dan atau masuk ke kebun penduduk tanpa ijin bisa dikenai denda dan hukuman. 

“Kali ini, Pan Balang Tamak pasti kena batunya,”begitu kira-kira yang terpikirkan oleh warga.

Mendengar pengumuman resmi Jero Kelian, Pan Balang Tamak bukannya keder. Justru tertawa geli (dalam hati). Pelarangan masuk ke kebun penduduk, justru mainan baru, atau istilah sekarang “proyek baru” bagi Pan Balang Tamak. 

“Tidak lama lagi kekayaan Pan Balang Tamak akan tumbuh siginifikan, walau krisis dan inflasi melanda negeri,” begitu kira-kira pikiran Pan Balang Tamak.

Pan Balang Tamak mulai membikin “perkebunan” atau abian, ia berinvestasi di sebidang tanah dekat pasar (layaknya seorang Investor istilah jaman sekarang). Menariknya Pan Balang Tamak bukan menanam hurtikultura atau tanaman perkebun seperti lazimnya para petani. Pan Balang Tamak menananam PULET-PULET (tanaman perdu yang buahnya bisa lengket/menempel dikulit atau kain jika disentuh). Tidak lupa, Pan Balang Tamak memagari kebunnya dengan LIDI. Dalam kondisi demikian jelas warga tidak menduga kalau lahan di pinggir pasar desa itu adalah “Perkebunan Resmi” Pan Balang Tamak.

Sudah diduga apa yang terjadi, warga desa yang ke pasar mengira lahan itu adalah “Jalur Hijau” sehingga tanpa merasa bersalah menerobos masuk ke “perkebunan” Pan Balang Tamak untuk kecing, bahkan ada yang numpang berak karena kepepet. Dan tentu buah Pulet-Pulet menempel dikain atau kancut para warga. Tidak terkecuali di kain kancut Jero Kelian pun banyak buah Pulet menempel.

Pan Balang Tamak datang, semua ditawan dengan tuduhan mencuri (pidana murni). Bukti pun sangat jelas, buah Pulet menempel di kain kancut warga. Jero Kelian datang menengahi dan meneliti, sial, Jero Kelian pun dianggap ikut mencuri. Buah Pulet menempel di Kancut Jero Kelian.

"Warga menjadi dendam sakit hati, Jero Kelian pun kena getahnya."

“Kita harus adil tanpa pilih kasih, dan tidak pandang bulu. Hukum harus ditegakan sesuai dengan Undang-Undang dan Peraturan (awig-awig) yang berlaku!, “jelas si Balang Tamak.

Nah,…Bagaimana kah nasib warga desa yang dituduh bersalah? Bagaimanakah langkah selanjutnya yang ditempuh Jero Kelian? Bagaimanakah sikap raja (pemerintah) untuk menengahi dan menyelesiakan masalah ini? Dan siapakah sosok Pan Balang Tamak yang selalu menang di pengadilan (Sabha Kerta Desa) walau selalu dituduh bersalah?

Silahkan ikuti kisah berikutnya, atau baca buku Geguritan Pan Balang Tamak selengkapnya!

__________________
Terima kasih kepada Bapak Made Sanggra Penulis buku Geguritan Pan Balang Tamak yang telah menginspirasi).

Made Nurbawa, 1 Nop 2012

Top of Form

Wed, 11 Sep 2013 @13:34


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 9+5+3

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?