Ambu-Ambu Penjor, Maknai Spirit Kemenangan Jagat

image

 

Setiap Hari Suci Galungan dan Kuningan, Ambu (Daun Enau Muda) pasti selalu nampak segar disepanjang jalan. Menghias indah buluh bambu, Penjor.

 

Pakraman Hindu di Bali membuat penjor, sebagai bentuk penghormatan Sang Pencipta, Semesta Raya.

 

Dari sebuah sumber dijelaskan, “Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau  bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan yang juga berarti menang”. Dalam lontar Purana Bali Dwipa dijelaskan Galungan pertama kali dirayakan pada Hari Purnama Kapat, Budha kliwon Dungulan tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi.

 

Dan dalam perayaan Galungan dan Kuningan kali ini, saya diingatkan akan falsafah “Tri Hita Karana” yaitu falsafah hidup masyarakat Bali yang memuat tiga  unsur membangun keseimbangan dan keharmonisan hidup. Dalam lontar pun dijelaskan Bali sebagai Padma Bhuana, yaitu; Pusat Dunia.

 

Lalu apa hubungannya dengan Ambu dan Penjor? Penjor dibuat dan dilengkapi dengan bahan alami, simbulisasi dari sandang, pangan dan papan. Membuat Penjor saya jadi diingatkan bahwa; pentingnya ketaatan manusia Bali untuk melestarikan lingkungan hidup yang dapat menjaga kelangsungan hidup. Diantarnya dengan meyakini dan melaksanakan enam komponen “Sad Kertih”, enam sumber kesejahteraan dalam pemanfaatan dan penataan ruang yaitu:

 

1.    Atma Kertih; Penjor akan indah jika dibuat oleh jiwa-jiwa rohani yang indah dan suci pula.

2.     Wana Kertih; Penjor dibuat dari tumbuhan bambu pilihan, rangkain janur, dan sebagainya.   Melestarikan bambu, kelapa berarti melestarikan hutan sebagai sumber pangan.

3.  Danu Kertih; melestarikan sumber air, membuat Penjor berarti harus melestarikan tanaman Enau/Jaka dan Bambu. Dengan demikian  bisa melestarikan kawasan resapan air dan daerah alirannya.

4.     Segara Kertih; Sebuah tempat peleburan segala kekeruhan. Bisa juga berupa kawasan, ruang dan waktu yang bisa menjernihkan kekeruhan. Seperti indahnya ambu-ambu/penjor di sepanjang  jalan, bisa menghilangkan kepenatan hidup.

5.     Jana Kertih; adalah keteraturan hidup yang disebabkan adanya SDM dan kelompok sebagai pelaku-pelaku dengan kecerdasan yang berkualitas. Keteraturan tergambarkan dalam pemasangan Penjor. Tidak sembarangan, ada aturan untuk keteraturan, ada boleh dan tidak boleh, orang Bali meyakininya sebagai “Sikut”. Dan terakhir ;

6.     Jagat Kertih: sebuah kesejahteraan yang terintegrasi dalam sebuah wilayah sosial/pakraman yang harmonis dan dinamis. Penjor dan membuat penjor secara langsung maupun tidak langsung,  membuat kita belajar, “berinteraksi” baik dengan alam lingkungan sekitar, antar manusia dan Sang Pencipta.

 

Ohh…

Ambu-Ambu Penjor, “Ambu Kemenangan.”

Ambu-Ambu Penjor, “Membangun Keseimbangan.”

Ambu-Ambu Penjor, “Semoga Mensejahterakan.”

Ambu-Ambu Penjor, “Terima Kasih telah Mengingatkan.”

 

Semoga perayaan Galungan kali ini bisa membuat kita meyakini kembali  sebuah keseimbangan. Menjadikannya “Kemenangan” dalam hidup  dan kehidupan, Jagat Tabanan.

 

Selamat Hari Suci Galungan dan Kuningan.

Semoga Penjor bukan hanya “Tontonan” tapi benar-benar “Tuntunan”. Suksme (*).

 

By: Made Nurbawa-Selasa, 28 Agustus 2012.

Tabanan Kauh – Pesisi Tukad Yeh Leh).

Wed, 11 Sep 2013 @10:55


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Made Nurbawa

0818557532


Selamat Datang di Website
Made Nurbawa yang berasal dari Tabanan Bali.
Kategori
Komentar Terbaru
Facebook Made Nurbawa

Kalender

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?